Evolusi Kesadaran Menuju Pencerahan


Evolusi Kesadaran Menuju Pencerahan

oleh: Willy Yandi Wijaya

Pengertian Kesadaran

Apa itu kesadaran? Pertanyaan ini perlu dijawab sebelum kita membahas lebih lanjut karena tanpa pengertian yang sama atau sesuai, bisa jadi penafsiran terhadap tulisan ini menjadi terlalu jauh dari yang dimaksud. Kesadaran adalah keadaan seseorang di mana ia tahu/mengerti dengan jelas apa yang ada dalam pikirannya. Sedangkan pikiran bisa diartikan dalam banyak makna, seperti ingatan, hasil berpikir, akal, gagasan ataupun maksud/niat (KBBI). Sebagai gambaran untuk memperjelas, misalnya ada seorang anak melihat balon. Keadaan melihat tersebut yang ia sadari sendiri itu dinamakan kesadaran. Sedangkan balon yang ia lihat yang menimbulkan anggapan besar atau berwarna hijau disebut pikiran (persepsi). Reaksi bagus dan indah sehingga anak tersebut suka adalah bentuk dari perasaan. Kemudian reaksi pikiran yang menginginkan balon tersebut itu yang dimaksud dengan niat/kehendak/maksud. Kata pikiran bermakna sangat luas sehingga ada yang menggunakannya dalam konteks sebagai niat atau kehendak (biasanya dalam Buddhis).

Studi Kesadaran Secara Sains

Mekanisme kerja otak manusia sangat rumit dan sampai saat ini masih diselidiki para ilmuwan, terutama mengenai kesadaran manusia itu sendiri. Otak manusia setiap saat bekerja dan para ilmuwan menggunakan EEG (electroenchepalogram) untuk mengukurnya dan disebut sebagai gelombang otak. Para ahli tersebut mengategorikan gelombang otak yang terukur melalui EEG menjadi 4 jenis, yaitu

  1. Gelombang delta (lebih kecil 4 Hz)
  2. Gelombang theta (4-7 Hz)
  3. Gelombang alfa (8-13 Hz)
  4. Gelombang beta (lebih besar dari 14 Hz)

Gelombang alfa adalah gelombang yang terukur ketika seseorang dalam keadaan biasa, santai dan tidak berpikir hal-hal yang rumit. Sedangkan gelombang beta adalah gelombang yang muncul ketika seseorang memecahkan hal-hal kompleks seperti menyelesaikan soal matematika. Gelombang alfa sangat teratur yang muncul ketika seseorang sedang tenang atau dalam keadaan santai. Gelombang alfa tidak ditemukan pada seseorang yang sedang cemas atau gelisah. Gelombang theta biasanya terdeteksi ketika awal-awal seseorang tidur sebelum ia terlelap lebih dalam menuju ke gelombang delta. Jadi gelombang delta terjadi dalam keadaan tidur lelap.

Kesadaran dalam konsep Buddhisme

Dalam agama Buddha manusia tersusun atas jasmani (rupa) dan batin (nama). Jasmani adalah wujud tubuh kita yang tampak, seperti tangan, kepala, otak dan organ tubuh lainnya hingga susunan sel yang ‘hidup’. Batin terdiri dari kesadaran, pikiran, perasaan dan persepsi. Di dalam ajaran Buddha kesadaran dikenal sebagai winyana (vinnana). Teks-teks Komentar Tripitaka yang belakangan dibuat oleh para ahli buddhis tentang kesadaran malah membagi kesadaran (pikiran) ke dalam berbagai bentuk yang lebih sistematis. Di dalam ajaran Buddha, kesadaran memegang peranan yang paling fundamental karena berperan penting atas pengendalian pikiran sehingga kehendak atau niat-niat yang negatif tidak muncul. Dengan pelatihan mental yang ditawarkan dalam bentuk perenungan dan meditasi, kesadaran seseorang akan semakin besar sehingga setiap tindakan yang dilakukan pikiran ataupun tubuh, akan menjadi kebiasaan yang berulang-ulang tertanam dalam memori otak yang merupakan pandangan hidup seseorang.

Meditasi Sebagai Pengendali Kesadaran

Sidhartha Gautama, Sang Buddha adalah orang (ilmuwan) pertama yang menjadikan studi serta pengendalian atas kesadaran dan pikiran. Pelatihan dalam bentuk meditasi buddhis yang khas adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh Buddha atas pengendalian pikiran dan kesadaran. Sampai saat ini meditasi masih menduduki posisi penting dalam agama Buddha dan selama sekitar 2500 tahun sejak Sang Buddha wafat berbagai metode meditasi pun lahir.

Jika dikelompokkan, meditasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu meditasi konsentrasi dan meditasi kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Samatha dan Samadhi dalam Buddhisme Tibet termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan meditasi vipassana dan meditasi kekosongan dalam Zen bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Penelitian ilmuwan menunjukkan bahwa seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya.

Hakikat Pencerahan

Yang dimaksud dengan pencerahan adalah keadaan sadar sepenuhnya terhadap kenyataan hidup, bahwa hidup selalu berubah dan bisa menerima perubahan tersebut. Sebagai contoh seseorang yang sedang dalam penderitaan karena kehilangan orang yang ia cintai. Ia menyadari bahwa penderitaan kehilangan tersebut akan berubah juga. Ia menyadari bahwa memang pada akhirnya kematian akan membawa orang-orang yang ia cintai. Ia menyadari bahwa perasaan sedihnya juga akan lenyap. Ia menyadari bahwa perasaan sedih tersebut hanyalah bentuk-bentuk aktivitas dari otak. Ia menyadari bahwa kebencian, ketidaktahuan atau kebodohan, keserakahan hanyalah aktivitas mental yang terjadi di otak. Ia menyadari bahwa apapun yang ada di dunia akan berubah. Ia menyadari bahwa setiap orang pasti mengalami perubahan juga. Pencerahan adalah kebebasan. Kebebasan dari penderitaan yang dialami. Pencerahan adalah keadaan menyadari sepenuhnya tentang perubahan sehingga menjadi bebas. Ia yang mencapai pencerahan adalah seorang Buddha. Jadi kesadaran yang tinggi mengiring pikiran menjadi lebih terbuka untuk menerima berbagai hal baru dalam kehidupan sehingga membuka pandangan seseorang. Padangan yang sempurna mengiring ke kebijaksanaan sejati atau pencerahan.

Pencerahan dapat dicapai pada kehidupan ini juga tanpa perlu berlama-lama mengarungi kehidupan yang penuh dengan ketidakbahagiaan. Pencerahan hanyalah sebuah pencapaian batin. Pikiran yang selalu tidak melekat, tanpa kebencian, tanpa kekejaman, tanpa keserakahan, tanpa kesombongan adalah bentuk batin yang tercerahkan. Pikiran yang terisi penuh dengan welas asih, cinta kasih universal, simpati, ketenangseimbangan, semangat hidup, rendah hati itulah batin yang tercerahkan.

Nirwana, Keadaan Pencerahan

Nirwana dapat dijelaskan dalam 4 makna:

1. Keadaan pencerahan tertinggi (kebebasan)

Ketika seseorang mencapai pencerahan, hal itu berarti ia telah mendapatkan dan menembus pandangan yang benar. Keadaan tersebut secara otomatis akan membuat pikiran, perasaan, emosi, dan tindakan seseorang selalu tanpa kemelekatan karena ia telah sadar sepenuhnya. Karena ia menyadari bahwa segala hal di alam semesta ini berubah maka dengan kata lain ia telah merealisasikan nirwana/kebebasan.

2. Kedamaian dan kebahagiaan sejati

Seorang yang telah mencapai nirwana akan merasakan kebahagiaan setiap saat. Kebahagiaan tersebut bukan kesenangan karena sensasi-sensasi yang diterima pancaindera yang membuat nyaman, bukan pula kebahagiaan yang didapat dari sebatas pengendalian pikiran. Kebahagiaan yang dirasakan adalah kedamaian yang tertinggi yang bebas dari rangsangan ataupun ego.

3. Kesempurnaan Moral

Seseorang yang telah terlepas dari kebencian atau penolakan (dosaa), keserakahan atau keinginan melekat (lobha), dan ketidaktahuan akan realitas hidup (moha atau awijja) disebut telah mencapai nirwana. Dualisme yang membeda-bedakan juga telah lenyap sehingga tidak akan membanding-bandingkan suatu konsep dengan yang lainnya.

4. Kesadaran tertinggi

Kesadaran seseorang dalam keadaan sadar sepenuhnya. Secara sains hal tersebut berarti aktivitas otak ketika berada bahkan pada gelombang delta, seorang Buddha akan tetap sadar manakala ada rangsangan yang datang. Mimpi juga tidak akan terjadi karena hal-hal yang menggelisahkan seorang Buddha telah lenyap sepenuhya (berhubungan dengan poin ke 2 karena seseorang yang mencapai pencerahan setiap saat mengalami kebahagiaan)

Evolusi kesadaran

Perbedaan manusia dengan hewan adalah dalam hal kesadaran. Ilmuwan membuktikan bahwa pada beberapa hewan kesadaran dan pikirannya telah ada, walau sangat amat jauh dari manusia. Beberapa hewan yang kita kenal pintar telah memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Beberapa jenis monyet, anjing dan lumba-lumba mempuyai pikiran dan kesadaran yang cukup baik dibanding hewan yang lebih sederhana. Hal tersebut karena sejak awal, evolusi biologi telah sedikit demi sedikit membentuk makhluk hidup. Manusia adalah salah satu akibat dari evolusi yang mempunyai kesadaran yang tinggi. Namun, bukan berarti manusia yang paling sempurna karena beberapa hewan mempuyai kelebihan yang tidak dimiliki manusia, seperti anjing yang memiliki penciuman dan pendengaran yang tajam, kelelawar dapat mendeteksi gelombang utrasonik.

Setiap orang yang belum mencapai pencerahan memiliki kesadaran yang berbeda-beda. Ada orang yang kesadarannya lebih tajam. Ada juga orang yang kesadarannya masih kurang. Kesadaran manusia itu tidak konstan. Kadang naik kadang turun. Bukti ilmiah dari pengukuran aktivitas otak yang disebut sebagai gelombong otak menunjukkan hal tersebut. Ketika tidur, kesadaran kita yang paling lemah. Namun, orang yang telah terlatih dalam pelatihan mental akan memiliki kesadaran yang baik dan tenang.

Buddhisme adalah suatu ajaran yang mengajarkan bagaimana kita mengembangkan kesadaran hingga mencapai kesadaran yang tertinggi. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah melalui meditasi dan perenungan. Meditasi sudah sangat umum dilakukan oleh umat Buddha. Meditasi melatih konsentrasi sehingga dapat menyadari atau berkonsentrasi, sedangkan perenungan melatih pikiran untuk membedakan dan membawa pikiran ke arah yang positif.

Wujud Nyata Kesadaran Tertinggi

Takkala seseorang telah mencapai kesadaran yang tertinggi, ikatan-ikatan dalam pikirannya telah lenyap sepenuhnya. Hal tersebut berdampak dalam setiap aktivitas dan kegiatan yang terwujud dalam tindakannya. Seorang Buddha akan bertindak sesuai dengan aturan moralitas yang paling dasar yang membentuk kehidupan. Pencerahan telah membuat seseorang menyadari bahwa di mana dan kapanpun siapapun, dari makhluk jenis hewan yang paling sederhana sampai manusia, tidak ingin mengalami penderitaan. Makhluk apapun ingin ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian hidup. Hal tersebut akan membuat seseorang yang tercerahkan setiap saat bertindak berdasarkan hal demikian. Setiap tindakannya tidak akan membuat makhluk lain menderita. Setiap tindakannya selalu dipenuhi dengan welas asih dan cinta kasih yang universal tanpa batas.

Ia yang tercerahkan akan berucap dengan lembut, bermanfaat, benar apa adanya, tenang, menenangkan, menyenangkan, berharga, tepat waktu dan bertujuan. Ia yang tercerahkan akan bertindak sesuai dengan aturan moralitas paling mendasar dari setiap manusia, yaitu:

  1. Tidak akan melukai, menyakiti atau membunuh makhluk hidup baik secara langsung maupun tidak langsung
  2. Tidak akan mengambil apa yang bukan miliknya, mencuri, merampas, dan merampok.
  3. Tidak akan memuaskan dirinya dan terlarut di dalam kesenangan seksual dan kesenangan indria
  4. Tidak akan melakukan kebohongan, penipuan, ucapan-ucapan yang menyia-nyiakan waktu dan tenaga
  5. Tidak akan membiarkan dirinya dalam keadaan tidak sadar dan tidak rasional karena penggunaan barang-barang yang memabukkan atau membuat ketagihan.

Tindakan moralitas (sila) seseorang yang tercerahkan tidak mungkin melanggar prinsip etis yang paling dasar dari setiap makhluk hidup tersebut.

Referensi

Matthews, Robert. 2005. 25 Gagasan Besar: sains yang mengubah dunia kita. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA.

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Silva, Lily de. 2008. Nibbana, Sebagai Suatu Pengalaman Hidup. Yogyakarta: KAMADHIS UGM.

Wijaya, Willy Yandi. Meditasi Buddhis Sudut Pandang Sains.

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s