Buddhisme dan Dunia Maya


http://media.photobucket.com/image/cyber%20buddhism/egoreise/CyberBuddhaAlexGrey.jpg

Buddhisme dan Dunia Maya

Oleh : Willy Yandi Wijaya

Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat dalam paruh abad ini telah melahirkan sebuah tantangan bagi perkembangan Buddhisme. Tantangan utama Buddhisme saat ini bukanlah berasal dari Dharma[1] sendiri, melainkan bagaimana cara penyampaian maupun pemaparan ajaran tersebut sebagai suatu hal yang penuh arti dan bermakna kepada kaum-kaum muda saat ini yang telah menjadi bagian dari  masyarakat konsumen.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi tersebut, Buddhisme pun harus mampu menyelaraskannya dalam metode penyebaran maupun penyampaiannnya. Menjadi suatu hal yang penting dalam penyebarannya, maka teknologi harus dapat dimanfaatkan guna menunjang perkembangan Buddhisme.

Ada suatu revolusi baru dari inovasi teknologi yang telah mempersempit dunia, yang  telah melahirkan suatu medium baru—dunia Internet, suatu jaringan komunikasi yang sangat dahsyat dan lingkungan pembelajaran yang sangat berpotensi. Internet jangan sekedar dipandang sebagai sebuah jalan baru untuk menyebarkan ajaran Buddha, akan tetapi internet juga sangat berpotensi dimanfaatkan sebagai suatu wadah pembelajaran Dharma secara langsung atau komunitas Dharma online, yang mendukung perkembangan nilai sosial dan interaksinya dengan nilai spiritual.

Internet sebagai sebuah bagian dari teknologi informasi berkembang sangat pesat. Hal ini terlihat dari lonjakan pengguna internet yang sangat signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Tentu saja ada dampak negatif maupun positif dari perkembangan teknologi cyber[2] tersebut. Dampak positifnya adalah arus informasi yang bergerak sangat cepat. Hanya dalam beberapa menit bahkan dalam hitungan detik, seseorang bisa mendapatkan informasi atau hanya mengetahui keadaan keluarganya di belahan dunia lainnya. Dan dampak negatifnya adalah timbulnya berbagai macam permasalahan yang berhubungan dengan psikologi, dari kecenderungan seseorang menjadi individualistik sampai masalah yang cukup baru yaitu cyber sex[3].

Latar belakang itulah yang mendorong mengapa nilai-nilai spiritual dan sosial perlu dikembangkan dalam dunia maya. Itulah sebabnya mengapa Dharma perlu dikembangkan melalui medium dunia cyber tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana metode yang perlu digunakan untuk pengembangan Buddhisme. Itulah tantangan bagi para Sangha (komunitas para biksu), para pandita buddhis atau pun para dharmaduta (duta dharma, yaitu orang yang menyebarkan atau mengajarkan ajaran Buddha)!

Lalu timbul sebuah pertanyaan, “Apakah benar dan relevankah jika penyebaran Dharma dilakukan melalui medium intenet?” Tentu saja boleh. Sang Buddha pernah bersabda tentang penyebaran Dharma melalui analogi sebuah rakit, bahwasanya rakit digunakan untuk menyeberang ke pantai seberang namun akhirnya akan ditinggalkan dan tidak dibawa sebagai sebuah beban (Majjhima Nikaya 22). Sama halnya dengan analogi rakit, internet adalah sebuah jembatan penghubung dalam mempelajari Dharma.

Setelah mengetahui dengan jelas bahwa dunia maya dapat dimanfaatkan sebagai medium penyebaran Dharma, maka hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah sudah sejauh mana para pemuka agama Buddha mengenal dunia cyber? Penulis mengambil sampel Indonesia untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan Buddhisme melalui internet. Selama beberapa tahun belakangan ini, penulis mengamati perkembangan Buddhisme di dunia internet dan mengambil kesimpulan bahwa untuk Indonesia khususnya, perkembangan Buddhisme melalui dunia maya tersebut cukup menggembirakan.

Satu contoh adalah jumlah website yang berhubungan dengan Buddhisme terjadi penambahan, walaupun sedikit. Dan yang cukup menggembirakan adalah aktifnya diskusi Dharma pada beberapa milis[4] Buddhis Indonesia. Beberapa milis Buddhis Indonesia ada yang jumlah anggotanya sudah lebih dari seribu. Jadi jelas bahwa potensi penyebaran Dharma melalui internet sangat berpotensi besar. Apalagi dalam beberapa puluh tahun mendatang! Penulis yakin bahwa dalam jangka waktu setengah abad ke depan internet akan menjadi bagian dari sebagian besar elemen masyarakat. Bahkan bisa jadi lebih dari 80% penduduk dunia akan terhubung melalui perantara dunia maya tersebut. Potensi besar tersebut perlu diperhatikan guna menunjang perkembangan Dharma.

http://ths.scene.org/T2_incyber.jpg

Metode Penyebaran Ajaran Buddha Melalui Internet

Banyak metode yang bisa dimanfaatkan dalam pengembangan Buddhadharma (ajaran Buddha) melalui dunia cyber, antara lain:

1. Melalui situs-situs (website)

Dengan ini, ajaran sang Buddha dapat diketahui secara umum dan lebih mudah di akses dari mana pun juga sehingga sangat efektif. Bahkan dalam beberapa website buddhis sudah terdapat isi bagian dari Tripitaka.

2. Melalui tanya jawab

Ini bisa dilakukan dengan dua macam cara, yaitu

  • Tanya jawab secara tidak langsung, antara lain: melalui e-mail langsung kepada para pemuka agama atau Sangha, melalui forum tanya-jawab, atau bisa melalui milis-milis buddhis yang jumlahnya mencapai ribuan di seluruh dunia.
  • Tanya jawab secara langsung, yaitu dengan chatting[5] yang berhubungan dengan ajaran Buddha. Bisa dilakukan dengan siapa saja termasuk dengan para sangha.

Metode di atas dapat dimanfaatkan demi pengembangan ajaran Buddha. Tentu saja perlu dukungan dari semua pihak, antara lain para Sangha, Pandita atau para Dharmaduta dan juga umat Buddha sehingga pengembangan Buddhisme dalam dunia maya berjalan dengan baik. Dan akan terus lahir komunitas-komunitas Dharma online.

Maka dari itu sudah saatnya para pemuka agama Buddha mulai belajar mengenal dunia cyber. Penulis melihat bahwa para pemuka agama Buddha, khususnya para Sangha masih sangat sedikit yang mengenal dunia internet. Memang hal itu wajar dan tidak bisa disalahkan dikarenakan memang perkembangan dalam dunia cyber baru terlihat dalam akhir abad ke-21. Namun untuk masa yang akan datang, penulis yakin bahwa para Sangha harus mengerti dan mengenal dunia maya tersebut guna mengenalkan Dharma secara umum kepada masyarakat dunia, khususnya umat Buddha. Dan dunia maya akan selalu menjadi sebuah dunia perantara yang selalu terbuka untuk dimanfaatkan setiap orang.


[1] Dharma (Pali) atau Dharma (Sanskerta) berarti kebenaran. Atau bisa dikatakan sebagai ajaran dari Buddha, dalam hal ini Buddha Gautama/Gotama.

[2] Dunia maya, artinya adalah dunia yang tidak nyata, dalam hal ini dunia internet.

[3] Cyber sex: seks dalam hubungannya dengan dunia maya, artinya adalah pemuasan nafsu seksual seseorang dengan perantara cyber (internet). Contohnya antara lain; seseorang yang terpuaskan secara seksual dengan melihat gambar-gambar porno dalam website tertentu atau berkomunikasi dengan orang lain secara langsung (melalui visual) dan melakukan kegiatan seksual sendiri-sendiri (masturbasi) dengan perantara internet dan merasa terpuaskan secara seksual.

[4] Mailing List, sebuah kelompok diskusi dalam dunia maya di mana perantaranya adalah e-mail. Jadi saling berdiskusi melalui kirim-kiriman e-mail (surat elektronik)

[5] Obrolan atau komunikasi langsung dalam bentuk tulisan dan bisa digunakan oleh lebih dari 2 orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s