Jalan yang Terlupakan


http://memoriesinthedark.files.wordpress.com/2009/02/the_white_path_____by_mosredna.jpg

Jalan yang Terlupakan

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Sampai zaman modern ini, ajaran Buddha masih bertahan dan bahkan telah menjadi sebuah daya tarik di Barat. Daya tarik tersebut dikarenakan di dalam Buddhisme, tidak mengenal adanya suatu pencipta yang mengendalikan dan menentukan kehidupan manusia beserta alam. Selain hal tersebut, daya tarik yang khas dalam ajaran Buddha adalah tidak adanya dogma[1]. Agama lain umumnya mengharuskan penganutnya untuk percaya penuh dan meyakini ajaran agamanya tanpa boleh membantah dan mempertanyakannya, apalagi ketika menyangkut masalah Tuhan. Sebaliknya di dalam ajaran Buddha, Sang Buddha sendiri malah menasihati muridnya untuk tidak menerima mentah-mentah suatu doktrin atau ajaran agama namun juga jangan langsung menolak mentah-mentah. Buddha Gautama menganjurkan penyelidikan, analisa dan praktik secara langsung terhadap suatu doktrin agama.

Sebuah Jalan yang Terlupakan

Sebagai umat Buddha, ketika ditanya apa tujuan hidup manusia, beragam jawaban akan bermunculan. Jawaban-jawaban tersebut biasanya adalah kebahagiaan, nirwana (nibbaana), bebas dari kelahiran-kembali, dan sebagainya. Jawaban tersebut memang benar walaupun dengan bahasa yang berbeda atau penjelasan yang berbeda, bahwa tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan atau kedamaian sejati. Namun, ketika lebih lanjut ditanya, bagaimana atau apa yang harus dilakukan untuk mencapai pencerahan atau kedamaian sejati tersebut (nirwana)? Banyak yang akan menjawab meditasi, dengan sebagian besar menyebut meditasi vipassana. Hal tersebut adalah kesalahan besar jika ajaran Buddha tidak dipahami lebih lanjut.

Tak dapat disangkal meditasi telah menjadi sebuah tren di Barat dan umat Buddha di Asia juga sebagian mulai membangkitkan meditasi khas buddhis, seperti meditasi vipassana, meditasi samadhi Tibetan, meditasi kekosongan Zen, dsb. Bahkan cendekiawan Barat mengembangkan penyembuhan dan terapi meditasi. Simbol-simbol Buddha semakin mudah ditemukan dan mulai menjadi bagian hidup masyarakat Barat.

Seperti yang telah disebutkan, banyak umat Buddha menjadi berpandangan salah ketika menganggap meditasi sebagai jalan menuju pencerahan atau sebagai sebuah cara untuk terbebas dari kelahiran kembali. Kepopuleran meditasi telah menutup sebuah ajaran Buddha yang paling indah yang dikatakan oleh Buddha sendiri sebagai satu-satunya jalan menuju pencerahan, kebahagiaan/kedamaian sejati dan kebebasan dari kelahiran kembali. Apakah itu? Itulah sebuah jalan tengah, yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Meditasi adalah salah satu bagian dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu bagian Konsentrasi Benar. Secara lengkap Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri dari: 1. Pandangan Benar, 2. Pikiran Benar, 3. Ucapan Benar, 4. Perbuatan Benar, 5. Penghidupan Benar, 6. Upaya Benar, 7. Perhatian/perenungan Benar, 8. Konsentrasi Benar. Jadi Buddha menjelaskan bahwa hanyalah Jalan Mulia Berunsur Delapan atau sesuatu yang selaras dengan jalan tersebut yang akan membawa manusia mencapai kedamaian sejati (nirwana). Bukti tersebut dapat ditemukan didalam Sutta Pitaka, seperti di dalam Majjhima Nikaya (MN) 44.9, Samyutta Nikaya (SN) V:9, SN V:17, SN V:28, SN V:10, SN V:28, Anguttara Nikaya (AN) V:215, dan SN III:106. Berkali-kali Buddha mengatakan dan mengulang bahwa Beliau hanya mengajarkan tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai cara untuk mengakhiri dukkha (penderitaan karena ketidakpuasan).

Seharusnya kita menjadi lebih sadar bahwa meditasi bukanlah jalan menuju kebahagiaan sejati. Lebih tepat kita mengatakan bahwa meditasi hanyalah bagian kecil dari sebuah jalan yang seharusnya dilaksanakan oleh umat Buddha. Dengan meditasi sepuluh hari, meditasi tiga hari, tidak berarti membuat kita menjadi lebih baik atau suci karena meditasi hanya sebuah cara untuk melatih pikiran. Selain itu diperlukan perenungan/perhatian dan sebuah usaha yang keras untuk melatih pikiran dan mengendalikan setiap tindakan kita. Perlu diketahui bahwa Jalan Mulia Berunsur Delapan bukanlah Jalan yang terdiri dari 8 bagian terpisah, justru sebaliknya Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah sebuah jalan tunggal yang terdiri dari delapan bagian tidak terpisah dan saling melengkapi dan menguatkan.

Jalan Harapan

Peradaban manusia semakin modern dan tentu saja ajaran Buddha bisa menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Namun, bagi umat Buddha kehidupan modern seharusnya diselaraskan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Tengah ini adalah sebuah jalan yang ditawarkan oleh Buddha yang ia harapkan dapat dimanfaatkan sebagai rakit di dalam kehidupan manusia dalam menyeberangi arus penderitaan.

Moralitas manusia merupakan salah satu poin penting dalam hubungan manusia. Di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, moralitas (sila) adalah bagian yang penting dan menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah peradaban manusia. Garis-garis etis yang ditawarkan Buddha tersebut dapat dirangkum menjadi komunikasi (ucapan) benar, tingkah laku, perbuatan dan tindakan serta penghidupan yang benar sejalan dengan Lima Aturan Moralitas (panca-sila) dan hukum negara. Meditasi, perenungan dan sebuah upaya dan usaha di dalam diri akan membangkitkan pemikiran yang bersih dan dengan dorongan pandangan benar, tingkah laku manusia terbentuk dan terwujud dalam ucapan dan perbuatan yang baik dan benar.

Tak dapat ditawar lagi bahwa setiap umat Buddha selayaknya membiasakan melatih diri sejalan dengan Jalan Mulia ini. Masa depan peradaban manusia terletak ditangan manusia itu sendiri. Jikalau ingin masa depan manusia terus bertahan, Jalan Mulia Berunsur Delapan ini jangan dilupakan. Walaupun dengan bahasa yang berbeda, asalkan Jalan ini dilaksanakan oleh manusia dimanapun ia berada niscaya kehidupan manusia akan diwarnai keindahan dan ketenangan. Inilah jalan harapan kita semua dalam menggapai peradaban manusia menjadi lebih beradab pada saat ini maupun di masa mendatang bagi generasi selanjutnya.

Referensi

Dhammika, Shravasti. 2006. Buddha Vacana (Sabda-sabda Buddha), Renungan harian dari Kitab suci Agama Buddha, edisi revisi. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.

Pusat Bahasa Depatemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

Wijaya, Willy Yandi. 2009. Pikiran Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.


[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dogma artinya suatu ajaran kepercayaan yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.

Satu tanggapan untuk “Jalan yang Terlupakan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s