Willyyandi's Blog

Desember 22, 2009

Fisika Kuantum dan Buddhisme

http://www.buddhatrance.com/

Fisika Kuantum dan Buddhisme

Oleh : Willy Yandi Wijaya

Tanpa sadar, segala benda tekonologi disekeliling kita ada produk dari fisika modern, yaitu suatu konsep fisika yang baru sekitar satu abad mulai menancapkan dasar-dasarnya. Fisika modern atau fisika baru ini terdiri dari fisika kuantum dan fisika relativitas. Fisika kuantum adalah fisika yang berhubungan dan menyelidiki materi-materi mikro atau sangat amat kecil seperti atom, subatom bahkan sampai partikel terkecil yang pernah ditemukan, yaitu quark.

Fisika Kuantum

Istilah kuantum adalah bentuk jamak dari kuanta. Kuanta adalah suatu paket atau ‘partikel’ dalam cahaya. Istilah ini diperkenalkan oleh Niels Bohr, awal abad ke-20. Ia adalah salah seorang ilmuwan penggagas fisika kuantum yang membicarakan dunia mikro atau atom. Asal mula ditemukannya adalah karena cahaya menjadi sebuah misteri bagi ilmuwan saat itu. Di satu sisi cahaya bersifat sebagai partikel, namun di satu sisi percobaan juga membuktikan bahwa cahaya mempunyai sifat gelombang. Cahaya dianggap partikel karena ketika ditembakkan ke suatu bidang, cahaya dipantulkan sesuai dengan sudutnya. Begitu pula cahaya dianggap sebagai gelombang karena memiliki sifat interferensi seperti gelombang. Bayangkan jika kita menjatuhkan batu ke air, akan muncul gelombang disekitarnya. Foton Cahaya bersifat seperti itu. Ketika ditembakkan ke dalam suatu pelat yang terdiri dari dua celah (lubang sangat kecil), foton cahaya (sebuah ‘partikel’) sekaligus melewati ke dua celah tersebut dan membentuk interferensi. Saat ini cahaya dianggap partikel sekaligus gelombang dan melampaui ‘akal sehat’ manusia selama ini (‘akal sehat’ dalam artian logika fisika klasik atau yang seolah-olah ‘nyata’ yang dapat kita amati di sekitar kita)

Dalam fisika kuantum juga dibahas masalah posisi suatu elektron (materi subatom) pada suatu atom. Awalnya para ilmuwan memperkirakan bahwa posisi elektron atau partikel subatomik di dalam suatu atom dapat ditentukan. Hingga Werner Heisenberg menguji apakah suatu posisi elektron dapat ditentukan di dalam suatu atom karena pertentangan antara Niels Bohr dan Erwin Schrodinger yang masing-masing mengajukan berbeda pendapat mengenai sifat elektron ketika berpindah apakah sebagai suatu partikel atau gelombang. Akhirnya kesimpulan Heisenberg lebih mengejutkan lagi, bahkan sampai ilmuwan sejenius Albert Einstein tidak dapat menerima teori Ketidakpastian Heisenberg yang mangatakan bahwa ketika kita berusaha untuk mengamati posisi elektron dalam suatu atom, kita akan membuatnya bergerak menjadi posisi yang berbeda dari awal. Dengan kata lain, ketika berusaha untuk menentukan posisinya melalui observasi, perilaku elektron menjadi seperti partikel, sementara ketika ingin mengukur energinya akan membuat perilaku elektron menjadi seperti gelombang. Dengan kata lain Heisenberg menyimpulkan bahwa sebagus apapun cara untuk berusaha mengukur posisi suatu elektron, kita tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Yang dapat diperkirakan hanyalah kemungkinan posisi elektron dalam suatu atom karena elektron selalu bergetar.

Dalam Fisika Kuantum sampai saat ini semakin banyak ditemukan partikel subatom, bahkan partikel yang lebih kecil lagi dari atom yang dinamakan quark. Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa inilah partikel yang terkecil dan yang menyusun semua alam semesta ini. Penelitian tentang quark masih berlanjut hingga saat ini. Ciri yang lebih aneh lagi ditemukan dalam suatu atom, yaitu bahwa atom memiliki sifat kecenderungan saling menarik tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan kata lain, teori tersebut menyebutkan bahwa rangkaian ikatan foton (partikel subatom) dapat menjelajah bahkan menembus logam dengan tetap terikat satu sama lain. Bukti konkretnya di tahun 2003 ketika Anton Zeilinger dan kolega-koleganya dari Universitas Wina berhasil memindahkan foton-foton yang terikat melintasi sungai Danube sepanjang 600 meter dan terus terikat. Dampaknya adalah kemungkinan teleportasi benda bahkan sampai memindahkan manusia di masa mendatang dalam hitungan detik.

Kesejajaran Buddhisme dan Fisika Kuantum

Implikasi dualitas partikel sekaligus gelombang membuktikan bahwa subjek amupun objek menjadi tidak berarti lagi. Sudah sejak lama, filsafat Mahayana berkutat dengan masalah itu. Filsafat Buddha menganggap objek bukan seperti objek yang diamati terpisah dari si pengamat, namun bagi filosofi Madyamika (salah satu asal muasal Mahayana) yang diamati adalah proses perubahan karena menurut gagasan Mahayana dalam Prajnaparamita Hrdya Sutra, wujud tidak berbeda dengan kosong (rupa adalah sunya dan sunya tak lain adalah rupa). Jadi bagi Buddhisme, konsep Dualitas adalah sesuatu yang sangat logis dan bisa diterima. Akal sehat terkadang tidak bisa menerima gagasan seperti itu. Sesuatu menjadi dua hal tersebut adalah tidak logis menurut akal sehat umumnya atau seperti dalam gagasan Fisika Klasik Newtonian. Seandainya ilmuwan Barat mengenal filsafat Buddhisme sejak awal, gagasan fisika modern menjadi tidak aneh dan bisa diterima. Namun, saat ini banyak ilmuwan fisika yang bisa menerima gagasan aneh seperti itu karena memang nyata dan telah dibuktikan, begitu pula ketika membicarakan bahwa ruang dan materi adalah sama dan tidak abadi dalam fisika relativitas oleh Einstein.

Konsep tanpa-jiwa (anatta) dalam ajaran Buddha juga menunjukkan bahwa segala sesuatu tidak mempunyai inti yang kekal, sama seperti ketika para ilmuwan menemukan atom dan menyatakannya sebagai yang terkecil. Kemudian beberapa saat kemudian ditemukan partikel subatom yang lebih kecil diantaranya elektron. Tidak selesai sampai di situ, ditemukan lagi yang lebih kecil yang dinamakan quark. Sejak awal gagasan Buddha tentang anicca (perubahan) bahwa sesuatu yang kompleks tersusun dari yang lebih sederhana dan terus-menerus berubah dan bergerak. Hal ini sejalan dengan elektrion yang tidak dapat ditentukan secara pasti posisinya karena selalu bergerak dan mengalami perubahan (terus bergetar/bergerak) yang mengakibatkan pelepasan atau penambahan energi.

Konsep ketiga dalam ajaran Buddha yang selaras dengan teori kuantum adalah Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu (paticcasamupada). Sejak awal gagasan tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu itu saling terkait. Ditegaskan lagi dalam Hukum Karma bahwa ada suatu sebab dan akibat yang menyertai kejadian apapun. Kita tahu bahwa keterikatan kuantum mengandung implikasi filosofi bahwa beberapa hal yang saling terkait, dapat membawa suatu informasi dengan menembus ruang dan waktu. Sama halnya dengan konsep Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu bahwa karma-karma yang berikatan dengan proses kesadaran akan membawa arus buah karma dan mengakibatkan kelahiran kembali, sama seperti menurut fisika kuantum bahwa informasi bisa dibawa dan tetap terikat tidak dibatasi ruang dan waktu. Gagasan tersebut ditegaskan dalam filosofi Mahayana tentang energi kesadaran yang terbawa (alayavijnyana) ketika seseorang meninggal. Energi tersebut (alayavijnyana) tersebut membawa informasi (karma-karma) melintasi ruang-waktu dan terbentuk kembali melebur bersama dengan kondisi pembentuk kehidupan (jasmani, perasaan, persepsi, memori, pikiran).

http://www.culture.com.au/brain_proj/Stephen%20Jones/7_sun%20buddha%20on%20noise.jpg

Keselarasan terakhir terkait implikasi fisika kuantum dalam melihat realitas sebenarnya dengan Buddhisme adalah bahwa terdapat kesejajaran dalam melihat realitas. Filosofi Nagarjuna  (Mahayana) menegaskan bahwa tidak ada suatu substansi yang tetap (seperti posisi partikel yang tetap), ketiadaan subjektifitas maupun objektifitas (sama seperti pengamatan terhadap posisi elektron dan si pengamat), holistis (memandang segala sesuatu secara keseluruhan) seperti prinsip Ketidakpastian Heisenberg yang menganggap bahwa yang dimungkinkan adalah melihat secara lebih luas dengan perkiraan dan ketika ingin mencoba melihat dengan memisahkan komponen-komponennya, yang terjadi adalah dualisme.

Referensi:

Capra, Fritjof. 2005. The Tao of Physics: Menyingkapi paralelisme Fisika Modern dan Mistisisme Timur. Yogyakarta: Jalasutra.

Kohl, Christian Thomas. Buddhism and Quantum Physics, A strange parallelism of two concepts of reality. Paper.

Macrone, Michael. 2008. 80 Ide Hebat yang Mengubah Dunia. Yogyakarta: Penerbit BACA!

Matthews, Robert. 2005. 25 Gagasan Besar: sains yang mengubah dunia kita. Jakarta: PT SERAMBI ILMU SEMESTA.

Woods, Alan dan Grant, Ted. 2006. Reason In Revolt, Revolusi Berpikir dalam Ilmu Pengetahuan Modern. Yogyakarta: IRE Press Yogyakarta.

Desember 13, 2009

Meditasi Buddhis Sudut Pandang Sains

http://www.mandalas.com

Meditasi Buddhis Sudut Pandang Sains

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Meditasi merupakan salah satu metode untuk peningkatan kesadaran kita dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita dapat dengan mudah menemukan tempat yang menawarkan macam-macam meditasi dari berbagai latar belakang spiritual atau hanya sekedar sebagai sebuah terapi penyembuhan. Meditasi telah menjadi sangat tidak asing lagi di telinga kita sampai-sampai sebagai buddhis, kita menjadi heran dengan banyaknya meditasi yang menyatakan sebagai yang terbaik—secara spiritual ataupun sebagai terapi penyembuhan.

Meditasi berhubungan dengan peningkatan kesadaran, emosi, dan kemampuan otak. Meditasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu meditasi konsentrasi dan meditasi kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Samatha dan Samadhi dalam buddhisme tibet termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan meditasi vipassana dan meditasi kekosongan dalam Zen bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Mekanisme kerja otak manusia sangat rumit dan sampai saat ini masih diselidiki para ilmuwan, terutama mengenai kesadaran manusia. Otak manusia setiap saat bekerja dan para ilmuwan menggunakan EEG (electroenchepalogram) untuk mengukurnya dan disebut sebagai gelombang otak. Para ahli tersebut mengategorikan gelombang otak yang terukur melalui EEG menjadi 4 jenis, yaitu gelombang delta (lebih kecil 4 Hz), gelombang theta (4-7 Hz), gelombang alfa (8-13 Hz), dan gelombang beta (lebih besar dari 14 Hz). Gelombang alfa adalah gelombang yang terukur ketika seseorang dalam keadaan biasa, santai dan tidak berpikir hal-hal yang rumit. Sedangkan gelombang beta adalah gelombang yang muncul ketika seseorang memecahkan hal-hal kompleks seperti menyelesaikan soal matematika.

Gelombang alfa sangat teratur yang muncul ketika seseorang sedang tenang atau dalam keadaan santai. Gelombang alfa tidak ditemukan pada seseorang yang sedang cemas atau gelisah. Dari penelitian ilmuwan, seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya. Seseorang yang semakin sering bermeditasi juga mendapatkan manfaat langsung ketika ia tidak dalam keadaan meditasi. Ia biasanya terlihat lebih tenang dan hal tersebut dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan ilmuwan. Ritme gelombang alfa semakin meningkat dan teratur yang berarti keadaan tersebut sangat mirip dengan keadaan ketika meditasi yang tenang walaupun tidak sedang meditasi.

Meditasi seorang meditator menjadi sangat tenang namun yang terjadi adalah ia tetap sadar. Berbeda dengan ketika seseorang santai atau ketika tidur, walaupun aktivitas otak yang terukur dalam gelombang otaknya sama, meditasi menunjukkan bahwa aktivitas otak sangat minim namun sangat sadar. Dengan kata lain, energi yang dikeluarkan untuk aktivitas otak menjadi sedikit sehingga secara tidak langsung membuat seseorang tidak mudah cepat lapar karena kehabisan suplai energi ke otak (otak banyak mengabiskan energi yang seseorang dapatkan dari makan—selain olahraga). Penelitian juga membuktikan adanya peningkatan ketahanan kulit atau makin meningkatnya sensitivitas kulit, tergantung jenis meditasi yang dilakukan. Begitu pula dengan sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular (kecepatan denyut jantung) yang diteliti oleh para ahli menunjukkan penurunan konsumsi oksigen dan pelambatan aliran darah yang dipompa oleh jantung karena penurunan denyut jantung.

Penelitian-penelitian tersebut membuka kemungkinan lain bagi meditasi buddhis yang saat ini mulai banyak dimanfaatkan bukan hanya sebagai pelatihan spiritual namun juga pengembangan mental dan fisik. Di Barat telah banyak ditawarkan penyembuhan mental karena stres, depresi, kecemasan sampai pengalaman trauma. Meditasi Samatha dapat digunakan dalam membantu seseorang untuk melatih dirinya terhindar dari gangguan stres dan kecemasan. Begitu pula dengan meditasi kekosongan Zen atau vipassana dapat digunakan sebagai peningkatan respon kesadaran dan dampak secara tidak langsungnya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan akan terhindar dari penyakit. Meditasi buddhis dapat kita manfaatkan sebagai penyembuhan mental selain pengembangan spiritual.

Telah tiba saatnya umat buddhis lebih berperan aktif dalam pengembangan penyembuhan melalui meditasi (terutama spiritual, stres, cemas dan depresi) demi pengembangan cinta kasih dan welas asih. Pelatihan meditasi bisa dilakukan di wihara-wihara buddhis se-Indonesia dengan membentuk kelompok meditasi bersama yang rutin. Dengan demikian meditasi buddhis akan menjadi sebuah daya tarik, sebuah awal untuk mengenalkan ajaran Buddha secara universal.

Referensi

Campbell, Neil A. , Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi, jilid 3 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Khantipalo, Bhikkhu. 2008. Nasihat Praktis bagi Meditator. Yogyakarta: Penerbit KAMADHIS UGM.

Shafii, Mohammad. 2004. Psikoanalisis dan Sufisme. Yogyakarta: Campus Press

Silva, Lily de. 2008. Nibbana, Sebagai Suatu Pengalaman Hidup. Yogyakarta: KAMADHIS UGM.

Mei 24, 2008

Kesejajaran Evolusi dengan Buddhisme

human evolution

Tahap evolusi manusia

Kesejajaran Evolusi dengan Buddhisme

Oleh : Willy Yandi Wijaya

Tentunya kita tak asing lagi dengan evolusi. Sejak teori evolusi Darwin dipublikasikan ke khalayak umum, Prokontra terus bergulir mewarnai kepopuleran Charles Darwin (1809-1882) bahkan hingga saat ini. Salah satu hal yang membuat teori Darwin diperdebatkan oleh banyak manusia adalah hipotesis yang menyatakan bahwa leluhur manusia adalah sejenis hewan primata, atau dengan kata lain, manusia keturunan sejenis monyet berjuta-juta tahun sebelum masehi. Dampak Teori evolusi Darwin telah menyerang agama-agama yang meyakini penciptaan manusia. Kala itu—ketika pertama kali dipublikasikan dalam bukunya oleh Darwin—teori Darwin mendapat banyak sekali pertentangan sekaligus dukungan. Apalagi ada keyakinan pada saat itu bahwa kehidupan di Bumi hanya baru 6000 tahun sesuai dengan interpretasi yang tertulis pada kitab suci. Jadi para agamawan kala itu menolak teori evolusi secara mambuta.

Perkembangkan ilmu pengetahuan semakin menguatkan bukti teori evolusi. Penyebaran geografis spesies (biogeografi) awalnya membantu Darwin akan idenya tentang evolusi. Darwin menyadari bahwa hewan di suatu daerah, lebih mirip dengan hewan di sekitarnya daripada di tempat lain yang jauh. Bukti kuat yang mendukung teori evolusi adalah fosil. Banyak fosil yang ditemukan, termasuk fosil manusia purba yang mirip dengan manusia dan berjalan tegak. Kemudian, banyak sekali fosil yang terus ditemukan yang semakin mendukung bukti teori evolusi. Selain itu, bukti juga ditemukan jika kita membandingkan anatomi (struktur tubuh) dan melakukan perbandingan embrio berbagai jenis hewan. Bukti terbaru lahir dari perkembangan biologi molekuler, tentang genetik manusia dan mutasi yang semakin menguatkan teori evolusi.

Sekarang akan kita tinjau dari sisi buddhisme apakah teori evolusi selaras atau bertentangan. Mekanisme evolusi adalah perubahan sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang sederhana ke makhluk yang lebih kompleks. Walau demikian adanya, adalah suatu kesalahan yang fatal jika kita menganggap manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kelebihan evolusi (perubahan) pada manusia semata-mata karena evolusi pada otak manusia yang mempunyai kemampuan belajar dan berkembang. Seandainya evolusi manusia tidak ada, bisa saja suatu saat ada ‘manusia’ sejenis anjing yang pintar yang menguasai peradaban di Bumi. Bukti bahwa manusia bukan yang paling sempurna adalah banyaknya jenis hewan yang mempunyai indera yang tidak dimiliki manusia. Contohnya kelelawar yang mempunyai indera untuk menangkap gelombang utrasonik yang tidak bisa dideteksi manusia. Menganggap manusia adalah evolusi yang paling sempurna itulah yang telah mendatangkan kesombongan manusia atas Bumi ini yang berakibat kerusakan alam.

Konsep evolusi sebenarnya secara tidak langsung telah terkandung dalam konsep buddhis tentang ketidakkekalan atau perubahan (anicca). Buddha Gautama telah menyadari salah satu hukum alam yang berlaku di dunia ini yaitu perubahan. Walaupun tidak secara ilmiah, banyak legenda-legenda buddhis yang secara tidak langsung menyiratkan kemungkinan adanya evolusi. Salah satu contoh legenda yang sangat terkenal adalah ‘kera sakti’, Walaupun simbol binatang pada legenda itu mempunyai arti tersendiri, ide evolusi telah tersirat di dalamnya.

Seleksi alam adalah proses yang menyeleksi setiap individu pada suatu populasi dan populasi yang tidak bisa bertahan akan mengalami kematian. Tentunya konsep seleksi alam mengandung arti adanya sebab-akibat yang saling bergantung atau kesalingterkaitan antar segala sesuatu (paticcasamuppada). Bukti tertulis konsep evolusi dalam buddhisme ada pada Kitab Digha Nikaya, Agganna Sutta. Di dalam Agganna sutta dikatakan bahwa pada mulanya makhluk hidup di bumi berasal dari ‘makhluk alam cahaya’ (abhassara). ‘Makhluk alam cahaya’ bisa bermakna makhluk yang tidak terlihat seperti cahaya, mungkin sejenis sel. Kemudian karena makhluk tersebut memakan ‘sari-sari tanah’ (nutrisi/makanan) dalam waktu yang ‘lama sekali’ (jutaan tahun), tubuh mereka menjadi ‘padat’ (berevolusi menjadi mempunyai bentuk yang lebih besar dan terlihat). Makluk tersebut terus menikmati makanan dan akhirnya berbentuk. Bentuk Makhluk hidup tersebut berbeda-beda dan secara umum menjadi laki-laki (jantan) dan perempuan (betina). Dari Agganna Sutta tersebut kita dapat melihat dengan sangat jelas konsep evolusi makhluk hidup hingga menjadi manusia dan hewan-hewan seperti saat ini.

Evolusi biologis sendiri memakan waktu lama hingga berjuta-juta tahun. Dalam buddhisme ada dikatakan ‘ber-kalpa-kalpa (berjuta-juta tahun) yang lalu’ menyiratkan keyakinan dalam buddhis bahwa Bumi sudah ada sejak lama, bukan sekitar 6000 tahun seperti yang diyakini agama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Barat. Sejak awal dalam konsep buddhisme, segala yang terjadi di dunia ada sebab-akibat (hukum karma) dan kesalingterkaitan (paticcasamuppada), jadi menurut cara pandang buddhis, evolusi memang terjadi, namun bukan kebetulan melainkan ada sebab. Hal tersebut juga yang sebenarnya terjadi jika kita memahami mekanisme evolusi, bukan kebetulan yang sering salah diyakini oleh banyak kalangan agamawan maupun ilmuwan dari segi filosofinya.

Salah satu kesalahan pemahaman masyarakat umum terhadap teori evolusi adalah pada arti kata ‘teori’. Banyak kesalahan penfsiran terhadap kata ‘teori’. ‘Teori’ Darwin dianggap hanya teori. Dalam bidang sains, ‘teori’ adalah upaya pengujian terhadap suatu hipotesis atau perkiraan dalam kehidupan nyata terus-menerus. Sedangkan istilah teori dalam pengertian umum adalah sesuatu perkiraan dari ide manusia yang belum nyata atau di dalam sains lebih dekat dengan makna hipotesis. Jadi yang dimaksud dengan teori Darwin adalah suatu perkiraan/hipotesis yang telah teruji dalam kehidupan nyata dalam berbagai bentuk dan masih terus diuji dengan percobaan maupun pengamatan di lapangan.

Kesimpulannya adalah ajaran Buddha selaras dengan sains. Perlu kita pahami bahwa ajaran Buddha tidak mendukung atau membenarkan sains, karena sains selalu berkembang. Bukti-bukti dalam sains yang akan menguji kebenaran suatu hipotesis atau teori dalam sains. Setelah terbukti artinya hal tersebut adalah hukum alam (Dhamma Niyama) yang berarti benar dan layak diyakini. Satu kelebihan ajaran Buddha Gautama yang diajarkan Beliau adalah berani menyatakan pengujian terhadap ajarannya, layaknya seorang ilmuwan menguji percobaannya. Pemikiran ini jelas sangat sejalan dengan pemikiran sains dengan pengujian metode ilmiahnya.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A. , Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi, jilid 2 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kirthisinghe, Buddhadasa P. 2004. Cendekiawan Buddhis Mancanegara Bicara Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Badan Penerbit Buddhis Aryasuryacandra.

Wowor, Corneles. 2005. Ketuhanan Yang Mahaesa Dalam Agama Buddha. Semarang: Vihara Tanah Putih.

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production Vihara Vidyaloka.

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.