Willyyandi's Blog

Desember 20, 2009

Ekologi Buddhis

http://www.treehugger.com/buddha-statue-in-forest.jpg

Ekologi Buddhis

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Satu permasalahan besar dalam kehidupan manusia di planet ini adalah masalah lingkungan. Semenjak dimulainya era teknologi modern[1], perubahan peradaban manusia di bumi semakin terasa. Hingga memasuki abad ke-21 ini, perubahan tersebut semakin mengarah ke perubahan lingkungan yang semakin rusak. Kehancuran hutan tropis, erosi tanah, polusi tanah, air, dan udara, hilangnya sumber air segar, melebarnya gurun pasir, pemusnahan spesies-spesies, pemanasan global, serta penipisan lapisan ozon stratosfer adalah perubahan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan dan mengancam perabadan manusia.

Manusia berlomba-lomba mencari kepuasan materi dan terus mengekploitasi alam sesukanya. Manusia telah dibutakan oleh keserakahan dan tidak menyadari bahwa mereka bisa hidup karena dukungan alam. Kebutuhan hidup manusia, terutama pangan berasal dari alam. Manusia juga membutuhkan oksigen untuk bernapas sebagai syarat mutlak penunjang hidup. Oleh karena itu, hendaknya manusia mengerti bahwa mereka sangat bergantung pada alam untuk hidup. Ketika alam hancur, manusia juga pasti akan hancur. Mengapa sampai saat ini manusia masih belum sadar dan segera bertindak?

Tulisan berikut akan memaparkan tentang alam beserta interaksinya terhadap manusia yang saling mempengaruhi ditinjau dari perspektif ajaran Buddha. Diharapkan setelah membaca tulisan berikut, timbul pemahaman dan kesadaran akan setiap tindakan kita dan dampaknya terhadap lingkungan.

Pengertian Ekologi

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Secara harafiah ekologi adalah pengkajian organisme-organisme “di rumah”. Istilah ekologi ditemukan pada tahun 1866 oleh seorang ahli biologi Jerman Ernst Haeckel, yang didefinisikannya sebagai ilmu mengenai hubungan-hubungan di antara organisme dan dunia sekitarnya[2]. Ekologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya). Jadi ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.

http://3.bp.blogspot.com/_3dSKJx3OtP0/STldZJBvvOI/AAAAAAAAAEo/q58v8PDMeWg/s400/amelia2.jpg

Definisi Ekologi Buddhis

Penulis tidak menemukan definisi dari istilah ekologi buddhis sehingga dalam tulisan ini, penulis mendefinisikan pengertian ekologi buddhis. Ekologi buddhis adalah interaksi manusia terhadap lingkungan yang saling mempengaruhi dengan tinjauan perspektif buddhis. Jadi dalam tulisan ini, penulis akan meninjau ekologi atas dasar pandangan ajaran Buddha.

Pandangan ajaran Buddha terhadap alam (alam semesta)

Menurut sang Buddha, bahwa sifat segala sesuatu adalah terus berubah (anicca)[3]. Begitu pula dengan sifat alam. Alam bersifat dinamis dan kinetik, selalu berproses dengan seimbang. Unsur-unsur alam yang tampak dalam pandangan Buddha ada empat, yakni unsur padat (pathavi), cair (apo), panas (tejo), gerak (vayo).

Hukum yang berlaku pada alam(alam semesta) dapat dikategorikan dalam lima aturan yang disebut panca niyamadhamma[4], yaitu utuniyama (hukum fisika), bijaniyama (hukum biologi), cittaniyama (hukum psikologis), kammaniyama (hukum moral), dhammaniyama (hukum kausalitas).

Pandangan ajaran Buddha terhadap makhluk hidup (manusia dan hewan)

Makhluk hidup dalam ajaran Buddha, terdiri dari manusia dan hewan. Tumbuhan tidak termasuk. Makhluk hidup(manusia dan hewan) tersusun atas lima kelompok kehidupan yang disebut lima khandha, yang terdiri dari rupa (wujud yang tampak/badan jasmani), vedana (perasaan), sanna (pencerapan,mengingat), sankhara (keadaan-keadaan pikiran), vinnana (kesadaran)[5]. Lima khandha ini secara ringkas disebut jasmani dan batin (rupa dan nama).

Sang Buddha menyadari bahwa segala sesuatu yang berkondisi[6] bersifat tidak kekal atau selalu berubah-ubah (anicatta),  tidak memuaskan atau menderita (dukkhata), dan bersifat tidak mempunyai inti yang kekal (anattata)[7]. Jadi makhluk hidup—manusia dan hewan— sebagai sesuatu yang berkondisi mempunyai sifat anicca, dukkha, dan anatta.

Kesalingterkaitan makhluk hidup dan lingkungan (alam)

Sebagai awal untuk memahami kesalingterkaitan makhluk hidup dengan alam, akan dijelaskan interaksi antara manusia dengan hewan, hewan dengan alam, dan manusia dengan alam. Setelah itu akan dibahas kesalingterkaitan keseluruhan, sehingga akan menjadi jelas interaksi manusia-hewan-alam.

Sejak awal adanya manusia, sudah terjadi interaksi antara manusia dan hewan. Awal peradaban maju nenek moyang manusia adalah ditandai dengan ditemukannya api. Namun sudah sejak lama, sebelum dimulainya peradaban manusia dalam mengenal api, manusia telah berburu—sebuah interaksi dengan hewan. Bahkan peradaban selanjutnya, manusia memanfaatkan hewan untuk diternak demi memenuhi kebutuhan hidup.

Interaksi manusia dengan alam juga telah terjadi sejak dahulu kala. Manusia telah memanfaatkan alam, untuk membuat alat berburu, atau dimulainya era bercocok tanam setelah nenek moyang manusia hidup menetap. Selain itu manusia membutuhkan makanan, air, udara yang bersih yang kesemuanya adalah bagian dari lingkungan tempat manusia hidup.

Hewan dan alam juga saling berinteraksi. Banyak hewan yang hidup dengan sumber makanan dari alam(tumbuhan), dan banyak tumbuhan yang memerlukan bantuan hewan untuk berkembang, seperti contoh serangga membantu penyerbukan bunga, kotoran atau bangkai hewan yang mati menyuburkan tanah, dan sebagainya.

Terlihat dengan jelas bahwa sejak dahulu manusia telah berinteraksi dengan alam dan hewan untuk hidup. Sampai pada akhirnya—saat ini— interaksi tersebut malah merusak hewan dan alam. Banyak spesies hewan yang telah punah,  pencemaran air, udara, dan tanah, perusakan lingkungan hidup dan hutan. Padahal manusia hidup di alam dan membutuhkan alam untuk hidup, namun karena ketamakan manusia alam menjadi hancur. Bahkan bukan hanya alam, hewan pun tidak terlepas dari jerat keserakahan manusia. Perburuan liar terjadi di mana-mana hanya demi kepuasan materi. Alam yang semakin hancur, telah berdampak negatif terhadap hewan. Banyak hewan mati dan akhirnya punah karena lingkungan hidup mereka dirusak oleh manusia. Lebih menyedihkan lagi, manusia masih belum sadar ataupun tidak segera bertindak walaupun manusia telah mengetahui bahwa kehancuran lingkungan akan menyebabkan kehancuran pada dirinya. Hutan yang semakin sempit, polusi udara yang disebabkan kendaraan bermotor atau industri, membuat udara menjadi terkotori dan semakin sulit dibersihkan, hingga akibatnya terjadi pemanasan global yang pada giliran selanjutnya malah akan merugikan manusia sendiri. Jadi perbuatan manusia terhadap hewan atau alam sebagai lingkungan hidup akan mengakibatkan dampak yang akhirnya akan berbalik menghantam manusia.

Dari uraian di atas jelas bahwa manusia, hewan dan alam(lingkungan) saling mempengaruhi. Ketika salah satu bagian dari suatu sistem rusak, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh sistem tersebut, seperti rusaknya lingkungan akan mengakibatkan kehancuran manusia pada akhirnya.

Kesalingterkaitan manusia-hewan-alam menurut ajaran Buddha

Setelah mengetahui sifat dan unsur dari alam ataupun makhluk hidup menurut kacamata Buddhis, sekarang akan ditinjau interaksi beserta hubungannya yang saling timbal-balik. Telah dijelaskan bahwa alam maupun makhluk hidup memiliki sifat selalu berubah atau berproses. Susunan wujud (rupa) manusia juga sama dengan alam menurut ajaran Buddha, yakni tersusun atas unsur padat, cair, panas dan gerak. Satu hal yang membedakan makhluk hidup(manusia dan hewan) dengan alam adalah manusia dan hewan tersusun selain oleh wujud (rupa) juga oleh batin (nama), sedangkan alam terbentuk hanya dari rupa.

Ajaran Buddha memandang bahwa semua fenomena yang terjadi di alam semesta adalah saling mempengaruhi dan berinteraksi. Semua yang terjadi berdasar hukum sebab-akibat yang saling mempengaruhi. Dalam ajaran Buddha hubungan sebab-akibat yang saling berinteraksi dan mempengaruhi ini disebut Paticcasamuppada. Setiap sebab yang terjadi, baik itu dilakukan oleh manusia, hewan atau hukum geologi akan mengakibatkan akibat  yang dampaknya akan dirasakan kembali oleh manusia, hewan, atau alam.

Sang Buddha menyadari hal tersebut, sehingga beliau mengajarkan kepada umat manusia untuk menghargai hewan maupun tumbuhan. Dalam Pancasila buddhis aturan pertama sang Buddha mengajarkan manusia untuk menghindari melukai/menyakiti makhluk hidup. Sang buddha mengajarkan demikian dikarenakan beliau tahu perlunya manusia menghargai hewan demi menjaga keseimbangan ekosistem. Beliau juga mengajarkan manusia untuk menghargai tumbuh-tumbuhan[8]. Jadi ajaran Buddha memandang bahwa manusia, hewan, dan alam saling mempengaruhi dan berinteraksi.

Wujud kepedulian terhadap alam dalam ajaran Buddha

Walaupun hampir keseluruhan ajaran Buddha menyoroti masalah terpenting manusia—tentang bagaimana terbebas dari penderitaan—yang dapat ditemukan pada teks-teks Pali[9], sang Buddha secara tersirat menyampaikan wujud kepedulian terhadap lingkungan hidup manusia(alam). Telah disebutkan di atas bahwasanya sang Buddha melihat segala fenomena kehidupan mengandung ciri terus berubah dengan proses sebab-akibat yang saling mempengaruhi, dan beliau juga mengajarkan manusia untuk menghargai hewan dan alam, maka dapat dikatakan bahwa sang Buddha menyadari ketika seseorang menjadi tidak menghargai hewan atau alam, akibatnya juga akan merugikan dirinya sendiri.

Sang Buddha memahami bahwa penghargaan terhadap hewan dan lingkungan adalah penting. Beliau mengajarkan metta[10], sebagai wujud aktif dalam menghargai hewan dan karuna[11], sebagai wujud nyata kepedulian terhadap hewan. Sang buddha selain melarang para Bhikkhu merusak tanaman dengan memetik, juga melarang mengotori lingkungan[12]. Itu artinya bahwa sang Buddha sangat memperhatikan lingkungan hidup dan alam karena beliau tahu bahwa manusia hidup memerlukan alam.

Mungkin permasalahan lingkungan pada zaman sang Buddha belum begitu mengkhawatirkan sehingga sedikit yang disinggung oleh sang Buddha. Namun, dari ajaran-ajaran beliau secara tersirat beliau mengajarkan manusia untuk menghargai lingkungan karena tanpa adanya lingkungan yang baik, seseorang tidak dapat mencapai kesucian batin. Sang Buddha mengajarkan manusia melihat ke dalam diri sendiri melalui meditasi, dan karena diri sendiri adalah bagian tak terpisahkan dari alam semesta, maka ketika seseorang dengan pandangan terang melihat dirinya, ia juga telah melihat keseluruhan alam semesta  yang saling berinteraksi dan mempengaruhi.

Tulisan singkat yang penulis paparkan adalah telaah awal terhadap ekologi dari sudut pandang ajaran Buddha. Diharapkan tulisan berikut sebagai pemacu perkembangan buddhisme di Indonesia dalam menyoroti berbagai disiplin ilmu lainnya, seperti sosiologi buddhis, antropologi buddhis, ekonomi buddhis, dan sebagainya.

Harapan penulis adalah setelah pembaca memahami tulisan ini, timbul kesadaran dalam menghargai lingkungan dan berusaha menyadari setiap tindakannya saat ini, sehingga setiap tindakan yang dilakukan tidak merusak lingkungan hidup manusia. Tulisan ini hanya akan menjadi sebuah tulisan kosong yang tidak berarti jikalau pembaca hanya sekedar paham tanpa disertai tindakan nyata.

Daftar Pustaka

Capra, Fritjof, Jaring-jaring Kehidupan(Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan), Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001.

Odum, Eugene P., Dasar-dasar Ekologi, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993.

Silva, Lily de, “The Buddhist Attitude Towards Nature”, http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/desilva/attitude.html

Vajrananavarorasa, H. R. H. The Late Patriarch Prince, Dhamma Vibhaga, Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka, 2002.


[1] Dalam hal ini adalah sejak dimulainya era fisika baru(fisika modern dan fisika kuantum).

[2] Lihat buku Jaring-jaring Kehidupan, Fritjof Capra (2001), Fajar Pustaka Baru, h. 53.

[3] Lihat Anguttara Nikaya IV , 100 dan Samyutta Nikaya IV, 52.

[4] Lihat Atthasalini, 854.

[5] Lihat Vibhanga 1 & 1

[6] Lihat Anguttara Nikaya III , 443.

[7] Lihat Samyutta Nikaya

[8] Vinaya Pitaka IV , 34.

[9] Tipitaka pali beserta komentarnya

[10] Maitri dalam bahasa sansekerta yang artinya cinta-kasih

[11] Karuna artinya welas asih, belas asih, kasih sayang(wujud cinta kepada yang menderita)

[12] Vinaya Pitaka IV , 205-206

Desember 10, 2009

Mengapa Menghindari Narkoba?

Mengapa Menghindari Narkoba?

Oleh : Willy yandi Wijaya

Ajaran Buddha sangat memperhatikan masalah psikologis seseorang. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya ucapan-ucapan Sang Buddha yang berhubungan dengan psikologi (pengendalian pikiran, batin, dsb). Bahkan di dalam Dhammapada, yang pertama kali disinggung adalah masalah pikiran manusia. Artinya bahwa ajaran Buddha begitu berminat besar dalam hal yang berhubungan dengan pikiran seseorang. Mengapa? Hal itu karena semua kejadian, sebab, dan tindakan manusia dimulai dari pikirannya sendiri. Ketika pikiran seseorang sulit untuk ia kendalikan, maka akibatnya tentu saja akan menjadi kurang baik bahkan mungkin tidak baik.

Salah satu Aturan-moralitas (sila) dalam ajaran Buddha yaitu Aturan-moralitas ke-5 adalah berusaha untuk menghindari mengonsumsi makanan yang dapat melemahkan pikiran, termasuk mabuk-mabukan dan narkoba. Mengapa Aturan-moralitas itu ada? Jelas sekali bahwa aturan itu berhubungan dengan pikiran seseorang. Ketika seseorang makan makanan yang melemahkan pikirannya sehingga ia tidak bisa mengendalikan diri, maka ia menjadi tidak sadar akan perbuatan yang akan dilakukannya (biasanya perbuatannya buruk).

Aturan-moralitas ke-5 dalam Lima Aturan moralitas Buddhis (panca-sila Buddhis) tersebut jika tidak diikuti, akan mengondisikan seseorang melanggar salah satu dari Aturan-moralitas lainnya. Contohnya ketika seseorang menggunakan narkoba, pikiran sadarnya menjadi lebih lemah sehingga sulit untuk mengendalikan diri yang pada giliran selanjutnya akan membuat ia melakukan pelanggaran aturan moralitas lainnya, mungkin perbuatan asusila, mencuri, melukai/membunuh, atau berbohong/menipu.

Seseorang yang menggunakan narkoba akan menjadi ketagihan sehingga bagaimana pun caranya ia akan berusaha untuk meneruskan penggunaan barang teersebut. Apalagi narkoba harganya tergolong mahal, sehingga si pengguna akan berusaha mencari cara mendapatkannya entah itu dengan mencuri uang, merampok, menipu atau cara-cara lainnya yang jelas melanggar Aturan-moralitas lainnya dalam Lima Aturan moralitas Buddhis (panca-sila Buddhis).

Keburukan-keburukan dari menggunakan narkoba antara lain:

  1. Memboroskan uang
  2. Mudah menimbulkan pertengkaran atau perkelahian
  3. Merusak kesehatan
  4. Menjadi sumber noda (nama baik menjadi rusak)
  5. Menyeret seseorang untuk melakukan perbuatan yang memalukan
  6. Melemahkan daya pikir seseorang

Keburukan-keburukan tersebut sangat jelas dan akan dialami bagi pengguna narkoba (pecandu). Jika dibandingkan dengan minum-minuman keras, narkoba lebih berbahaya karena efeknya langsung ke syaraf manusia yang berhubungan dengan otak. Dan yang berbahaya dari penggunaan narkoba adalah efeknya yang pelan-pelan menghancurkan tubuh manusia karena membuat ketagihan.

Cara agar kita tidak menggunakan narkoba adalah jangan pernah mencobanya, walaupun hanya untuk coba-coba. Coba sadari dan pahami bahwa menggunakan narkoba sangat tidak bermanfaat bagi tubuh dan pikiran kita. Jangan terpengaruh lingkungan dan kendalikan diri sendiri. Jika berada pada lingkungan yang kurang baik, sebaiknya hindari interaksi yang sering dengan lingkungan tersebut karena bisa memengaruhi pikiran. Cara lainnya adalah mengembangkan kebijaksanaan (pannya/prajna) dan cinta-universal (metta/maitri). Kebijaksanaa dikembangkan agar kita dapat mengendalikan pikiran kita dan bertindak dengan pertimbangan. Kebijaksaan juga dikembangkan dengan memahami akibat-akibat buruk dari mengonsumsi narkoba. Sedangkan cinta universal dikembangkan dengan cara merenungkan bahwa kita melaksanakan Aturan-moralitas ke-5 agar tidak melukai orang-orang di sekitar kita (keluarga dan teman). Kita tahu bahwa ketika pikiran kita menjadi tidak bisa dikendalikan, kita akan melakukan kekerasan sehingga bisa mengakibatkan teman atau keluarga kita terluka. Walaupun bukan keluarga atau teman kita yang terluka, secara tidak langsung kita akan melukai perasaan mereka jika kita bertindak tanpa pengendalian diri.

Referensi:

  • Vajirananavarorasa. Pancasila dan Pancadhamma dalam agama Buddha. Sangha Theravada Indonesia.
  • Kitab Dhammapada

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.