Willyyandi's Blog

Januari 12, 2010

Tanggapan Ajaran Buddha Terhadap Bencana Alam

http://sciencecastle.com/sc/app/webroot/img/articles/113.jpg

Tanggapan Ajaran Buddha Terhadap Bencana Alam

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Bencana alam menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah bencana yang disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin besar, dan banjir). Dalam tulisan ini, penulis akan membahas tentang bencana alam yang sering terjadi, khususnya di Indonesia dari sudut pandang agama Buddha.

Menurut ajaran Buddha, yang mengatur semua fenomena di seluruh alam semesta ini ada lima hukum, yaitu:

  1. Utu Niyāma : Hukum fisika, mencakup semua fenomena anorganik.
  2. Bija Niyāma : Hukum biologis, mencakup semua fenomena organik.
  3. Kamma Niyāma : Hukum sebab-akibat, ciri semua fenomena tindakan yang dilakukan yaitu perbuatan yang baik akan berakibat baik dan perbuatan yang buruk akan mendatangkan akibat yang buruk
  4. Citta Niyāma : Hukum psikologis, mencakup semua proses kerja pikiran.
  5. Dhamma Niyāma : Hukum kebenaran, ciri semua fenomena yang terjadi yaitu bahwa semua fenomena saling keterkaitan dan termasuk semua proses yang bukan merupakan cakupan empat hukum di atas, seperti kebenaran konsep matematika dalam menggambarkan realitas.

Lima hukum di atas yang mengatur semua fenomena yang terjadi di alam semesta ini, termasuk bencana alam. Ajaran Buddha menjelaskan bahwa bencana alam disebabkan oleh hukum fisika (dalam hal ini geologi), dan bisa juga karena kesalahan manusia. Inti ajaran Buddha adalah bahwa semua fenomena yang terjadi adalah saling terkait.

Hukum fisika mengatur kerja alam yaitu siklus hujan, namun karena manusia banyak menebang pohon sembarang, membuang sampah sembarang sehingga berakibat banjir. Contoh lainnya adalah musim yang kacau yang disebabkan oleh pemanasan global yang juga diakibatkan oleh manusia. Ciri alam adalah selalu seimbang, sehingga ketika alam tidak seimbang lagi (rusak)—disebabkab manusia, maka terjadilah fenomena alam yang tidak biasa sehingga mungkin menjadi bencana bagi manusia.

Lainnya halnya dengan gempa bumi, letusan gunung berapi dan bencana alam geologis lainnya. Hingga saat ini belum terlihat dengan jelas apakah ada kaitan—langsung atau tidak langsung— antara bencana alam geologis dan tindakan manusia. Gempa bumi, letusan gunung berapi, dan bencana alam geologis lainnya lebih banyak disebabkan oleh hukum fisika (geologi). Namun, musim kemarau berkepanjangan, cuaca yang tidak menentu, banjir, longsor, kebakaran hutan yang terjadi sampai saat ini sebagian besar adalah ulah manusia secara langsung maupun tidak langsung.

Ajaran Buddha mengajarkan kepada manusia terutama untuk berkaca melihat diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Satu tindakan kecil—membuang sampah sembarangan—yang dilakukan oleh seorang individu bisa saja menyebabkan bencana besar bagi manusia lainnya.

Desember 30, 2009

Arus Perubahan

http://farm1.static.flickr.com/36/83777741_fdb8007944.jpg

Arus Perubahan

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Salah satu kenyataan dunia ini yang mutlak adalah perubahan. Apa pun di dunia ini pasti selalu berubah. Kita bisa melihatnya dalam berbagai hal yang terjadi selama ini. Kita bisa melihatnya ke dalam diri kita sendiri. Mungkin kemarin-kemarin kita sedih, sekarang sudah tidak lagi. Atau beberapa hari yang lalu kita senang sekarang tidak lagi. Perubahan juga terjadi bukan hanya pada makhluk hidup yang bisa bergerak, bahkan benda mati pun selalu berubah. Barang-barang yang kita punyai semakin rusak. Batu, mobil, meja, atau apa pun di sekitar kita terus berubah. Entah itu berubah menjadi semakin baik atau buruk, yang pasti segala sesuatu di alam semesta ini selalu berubah!

Di dalam buddhisme, memahami perubahan menjadi tonggak penting bagi pengertian benar. Tiga corak kehidupan[1] dalam ajaran Buddha tak lain adalah perubahan. Ketidakpuasan/penderitaan, ketidakkekalan, dan tanpa diri (yang selalu tetap)[2]—tiga corak kehidupan tersebut semuanya adalah satu kesatuan dalam melihat realita dunia ini. Segala sesuatu adalah tidak kekal, berarti tidak mungkin ada sesuatu/diri (aku) yang selalu tetap, dan pastilah menimbulkan penderitaan/ketidakpuasan. Jadi tiga corak kehidupan tersebut saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Satu kesatuan tersebut dapat dimengerti jika kita memahami hakikat perubahan.

Perubahan sudah sangat jelas terasa dan seringkali kita alami—sadar atau tidak sadar. Namun, yang perlu kita lakukan adalah jangan dipengaruhi oleh pemikiran pesimis sehingga kita malah tidak berbuat sesuatu karena mengetahui bahwa kebahagiaan itu akan berakhir juga. Kita harus sadar dan berusaha mengontrol pikiran kita agar tidak terikat dengan kebahagiaan, namun bukan berarti tidak merasakan kebahagiaan. Kita bisa ‘menikmati’ kedamaian/kebahagiaan dengan ‘hidup saat ini’ namun memahami dan mengerti bahwa kedamaian tersebut suatu saat akan berubah. Sekali lagi, tindakan kita bukan dibuat menjadi pasif, namun tetaplah proaktif. Tindakan proaktif tersebut tentunya adalah tindakan yang tidak merugikan orang lain dan diri sendiri. Ketika tindakan tersebut merugikan orang lain pasti tindakan tersebut tidak akan membuat diri kita tenang karena membuat kekurangsukaan orang terhadap kita.

http://www.hue62.com/wp-content/uploads/2009/02/impermanence.jpg

Cara menyikapi fenomena perubahan adalah dengan mengontrol pikiran agar selalu sadar, sehingga perubahan tersebut tidak membuat diri kita menjadi menderita. Untuk itulah diperlukan meditasi sehingga kesadaran kita selalu ada dan menjaga pikiran dari pengaruh arus perubahan. Jika meditasi terasa lebih sulit bagi kita yang pemula, pertama-tama untuk mengontrol pikiran agar selalu sadar adalah dengan melakukan renungan. Renungan dapat dilakukan dengan berpikir perbuatan yang sudah lewat, lalu mengambil makna positif dari masa lalu yang mungkin tidak bahagia karena perubahan. Sambil melakukan renungan, pikiran selalu diusahakan untuk berpikir dan berpikir. Sedikit renungan di bawah ini mungkin dapat bermanfaat bagi kita.

Walaupun saat ini saya sedang mengalami ketidakbahagiaan, namun ketidakbahagiaan saya ini akan segera berubah menjadi kebahagiaan. Kebahagiaan akan selalu menyertai diri saya mulai dari saat ini dan setiap saatnya. Kedamaian juga akan selalu menyertai diri saya setiap saat dimulai dari saat ini. Walaupun kebahagiaan dan kedamaian akan berubah menjadi ketidakbahagiaan, saya selalu menyadari bahwa ketidakbahagiaan tersebut akan berakhir dan menjadi bahagia juga. Saya menjadi damai dan mengalami kebahagiaan sejati dengan menyadari perubahan ini. Saya menyadari bahwa dunia ini selalu berubah. Saya menjadi bahagia dan damai dengan memahami perubahan tersebut. Saya selalu merasa bahagia dan damai.

Contoh renungan diatas, walaupun sedikit asalkan seringkali diulang maka akan membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi diri kita. Tidak perlu menghapal persis renungan seperti contoh di atas. Intinya jika kita selalu atau sering berpikir tentang kebahagiaan—dengan memahami dan menyadari bahwa dunia ini selalu berubah, maka diri kita akan menjadi damai.

Coba kita andaikan jika dunia ini tidak pernah berubah. Semua dalam keadaan tetap. Maka tidak ada kehidupan. Semua mati dan dunia menjadi tidak indah. Gerak tak lain adalah perubahan. Sesuatu yang bergerak berarti berubah. Tanpa gerakan dunia akan menjadi mati. Di dalam biologi, evolusi adalah suatu perubahan. Perubahan diri dilakukan suatu spesies untuk menjadi lebih baik atau bertahan dari arus perubahan. Seperti itu pula manusia ketika menghadapi sebuah masalah. Ia harus berubah. Diri sendiri pasti dan akan selalu berubah. Ketika bisa beradaptasi dengan perubahan, maka ia pasti bahagia. Untuk bisa beradaptasi dengan perubahan, ia harus bisa memahami perubahan. Untuk memahami perubahan, ia harus dapat mengontrol pikirannya agar selalu sadar. Pikiran harus terus bergerak agar dapat mengikuti perubahan. Gerak pikiran harus diarahkan ke arah positif. Jangan pernah berpikir negatif sekalipun!


[1] Tiga fenomena alam (bisa disebut tiga sifat alam) atau Trilaksana (Sanskerta) atau Tilakkhana (Pali)

[2] Ketidakpuasan/Penderitaan=duhkha (Sanskerta)/dukkha (Pali), ketidakkekalan=anitya (Sanskerta)/anicca (Pali), tanpa diri=anatman (Sanskerta)/anatta (Pali).

September 5, 2008

Hukum Alam Semesta Perspektif Buddhisme

Filed under: Buddhisme,Sains dan Buddhisme — Liu @ 10:26 pm
Tags: , ,

Universe

Hukum Alam Semesta Perspektif Buddhisme

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Jika kita memandang alam semesta ini dari sudut pandang sains, maka banyak sekali hukum alam yang terjadi. Hukum tersebut meliputi hukum fisika, kimia dan hukum biologis. Di dalam hukum fisika, ada macam-macam hukum yang pasti berlaku seperti Hukum Newton, Hukum Maxwell, dsb. Begitu pula Hukum Kimia dan Hukum Biologis seperti Hukum Kekekalan Massa dan Hukum Mendell (Hukum tentang genetika). Pertanyaannya adalah adalah di dalam konsep buddhisme yang mendekati hukum-hukum sains tersebut? Ya, ada!

Di dalam Buddhisme 5 hukum tersebut dinamakan panca niyama (5 hukum alam Semesta). Perlu kita sadari bahwa hukum-hukum inilah yang berlaku apabila terjadi suatu apapun. Lima hukum tersebut adalah:

1. Utu Niyama (Hukum Fisika)

Hukum ini mencakup semua fenomena anorganik, termasuk hukum-hukum dalam cakupan fisika dan kimia. Contohnya adalah perubahan cuaca, iklim, sifat panas, hukum Newton, Gravitasi, dsb.

2. Bija Niyama (Hukum Biologis)

Hukum ini mencakup semua gejala organik seperti dalam biologi. Contohnya adalah perkembangan hewan atau tumbuhan, mutasi gen manusia, pembuahan, perkembangan penyakit, dsb.

3. Kamma Niyama (Hukum Sebab-akibat)

Hukum karma berarti bahwa segala tindakan yang sengaja atau tidak disengaja akan menghasilkan sesuatu yang baik atau buruk. Contohnya seseorang yang mencuri akan merasa takut tertangkap dan mungkin suatu saat ia tertangkap dan akibatnya dipenjara serta malu dan seseorang yang berbuat baik akan menerima akibat yang baik.

4. Citta Niyama (Hukum Psikis)

Hukum ini mencakup semua proses kesadaran. Bagaimana kesadaran bekerja. Bagaimana pikiran memulai kerja dan memori manusia bekerja. Hukum ini mengindikasikan apa hubungan antara sesuatu yang mati dan hidup. Hukum tentang pikiran (psikis) dibuat tersendiri di dalam buddhis karena memang hal tersebut sangat penting. Sejak awal buddhisme paling memperhatikan tentang pikiran dan kesadaran sehingga tidak aneh ketika menjadi sebuah hukum tersendiri.

5. Dhamm Niyama (Hukum Realitas)

Hukum ini mencakup semua gejala di luar ke empat hukum sebelumnya. Jadi fenomena yang diabstrakkan juga termasuk di dalam hukum ini seperti contoh konsep-konsep abstrak dalam matematika yang digunakan sebagai cara untuk menggambarkan dan menjelaskan realitas ini.

Selain hukum karma, ada 4 hukum lainnya yang berlaku di dunia ini, sehingga kita perlu berhati-hati ketika menyatakan bahwa suatu kejadian karena satu hal. Justru sebaliknya, biasanya suatu kejadian terjadi karena banyak hal yang mendukung. Seperti contoh seseorang tertimpa bencana alam. Hal tersebut tidak sepenuhnya karena akibat karma buruk orang tersebut. Ada kondisi seperti banjir—hukum fisika (utu niyama)— yang mendukung dan kondisi-kondisi lainnya dari hukum-hukum lainnya. Jadi pemikiran bahwa suatu kejadian seluruhnya karena hukum karma adalah kesalahan fatal dalam pandangan seseorang.

Daftar Pustaka

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production Vihara Vidyaloka.

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.