Willyyandi's Blog

Januari 14, 2010

PANDANGAN BENAR

Buku Saku Pandangan Benar

PANDANGAN BENAR

Penulis                : Willy Yandi Wijaya

Penerbit             : Insight Vidyasena Production

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2008

=======================================================

Kupersembahkan buku kecil ini untuk:

Ibu yang tanpa lelah memberikan cahaya cinta tanpa batas

Ayah yang mendidik dan mendorong kebijaksanaan

dan

Semua makhluk hidup sebagai saudara-saudaraku

Semoga semuanya selalu berbahagia

dan

hidup dalam welas asih

=======================================================

Kata pengantar

Ajaran Buddha sangat luas. Seandainya Anda betul-betul mau mengetahui seluruh ajaran Buddha, Anda harus membaca semua isi kitab Tipitaka Pali yang terdiri dari sekitar 21 jilid buku masing-masing mempunyai ketebalan sekitar 5cm. Belum lagi komentar-komentar Tipitaka Pali dan Tripitaka Sansekerta dalam bahasa mandarin. Saat ini telah ada dalam Bahasa Inggris terjemahan Tipitaka Pali, sedangkan dalam Bahasa Indonesia baru sebagian kecil yang ada. Jadi kesulitan Anda yang kedua jika ingin mempelajari seluruh ajaran Buddha adalah faktor bahasa. Walaupun Anda membaca seluruh isi Tipitaka baik Pali maupun Sansekerta, Anda akan menemukan bahwa inti yang diajarkan oleh Buddha terangkum dalam Empat Kebenaran Mulia dan segi praktisnya adalah melaksankan sesuai dengan Jalan Mulai Berunsur Delapan.

Mengetahui akan betapa pentingnya Jalan Mulia Berunsur Delapan, Penulis mencoba mempelajari dan mendalami ajaran Buddha serta merangkumnya menjadi buku kecil ini. Di dalam buku ini, Penulis membahas tentang Pandangan Benar sesuai dengan urutan pertama di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Unsur lainnya dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan akan dibahas tersendiri masing-masing di kesempatan lain—buku selanjutnya.

Penulis sangat berterima kasih kepada Vidyasena Production sehingga memberikan kesempatan untuk, berdana Dhamma, berbagi pengetahuan ajaran Buddha, khususnya kepada Sdr. Andi Suwito selaku manajer produksi buku dan Sdr. Seng Hansun selaku direktur Vidyasena Production. Tak lupa Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Vidyasena yang mendorong terbitnya buku saku ini.

Penulis sendiri mendapatkan banyak wawasan selama proses penulisan buku ini karena banyak mempelajari dan mendalami ajaran Buddha sehingga Penulis juga berharap pandangan Anda terhadap kehidupan ini menjadi lebih terbuka takkala Anda membaca buku ini. Tanpa para pambaca, buku ini menjadi tidak bermanfaat dan buku ini menjadi sangat berguna ketika dipraktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pahami buku ini dan sadari setiap saat sesuai dengan Pandangan Benar, maka hidup akan menjadi lebih indah dan damai.

Akhir kata, Penulis sangat mengharapkan masukkan, saran maupun kritikan terhadap isi buku ini sehingga mendorong Penulis memperbaikinya di buku-buku selanjutnya di masa mendatang. Masukkan, saran ataupun kritikan dapat disampaikan kepada Penulis melalui email ke willyyandi@gmail.com atau sms ke 08995101616. Saran, masukkan maupun kritikan akan menjadi pendorong bagi Penulis di masa mendatang.

Terima kasih.

Salam,

Willy Yandi Wijaya

========================================================

Pendahuluan

Satu-satunya jalan yang diajarkan oleh Buddha untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan menjalankan kehidupan sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Seseorang yang sedang menempuh kehidupan selaras dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan—apapun agamanya— kebahagiaan sejati akan dapat ia alami saat ini juga. Kebahagiaan sejati menurut ajaran Buddha hanya dapat dicapai ketika seseorang melenyapkan kebencian, keserakahan (kemelekatan) dan kebodohan-batin sampai ke akar-akarnya. Kebahagiaan sejati dalam ajaran Buddha dikenal sebagai Nibbana atau Nirvana (baca: nirwana).

Jalan Mulia Berunsur Delapan ditemukan oleh Buddha Gotama sekitar 2500 tahun yang lalu sebagai sebuah jalan yang mempunyai 8 unsur di dalamnya (cullavedala sutta, MN 44.9). Jalan ini harus dilihat sebagai sebuah jalan di mana di dalamnya terdapat 8 unsur atau cara yang saling melengkapi. Delapan unsur tersebut adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika salah satu unsur telah sempurna dijalankan, sebenarnya unsur lainnya juga telah sempurna. Masing-masing unsur saling mendorong dan mendukung sehingga dapat mengantarkan seseorang menuju kehidupan bahagia.

Delapan unsur yang merupakan satu kesatuan tersebut antara lain (MN 44.9):

  1. Pandangan benar  (samma ditthi)
  2. Pikiran benar atau Niat benar  (samma sankappa)
  3. Ucapan benar  (samma vaca)
  4. Perbuatan benar atau tindakan benar  (samma kammanta)
  5. Mata pencaharian benar atau penghidupan benar (samma ajiva)
  6. Daya upaya benar atau usaha benar (samma vayama)
  7. Perhatian benar atau kewaspadaan benar (samma sati)
  8. Konsentrasi benar (samma samadhi)

Buku ini hanya membahas pandangan benar. Unsur lainnya di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan akan dibahas di buku selanjutnya. Pandangan Benar yang dibahas di sini sesuai dengan Tipitaka Pali, terutama Sutta Pitaka karena di dalam Sutta Pitaka itulah semua ucapan Buddha Gotama tertulis. Di buku ini Majjhima Nikaya disingkat MN. Pandangan benar sebagai sebuah cara pandang terhadap kehidupan ini memegang peranan yang sangat penting. Seseorang yang pandangannya benar akan menjalani hidup ini dengan bahagia. Sebaliknya seseorang yang memiliki pandangan yang salah, akan menjalani kehidupan ini dengan penderitaan atau kebahagiaan semu.

=======================================================

Pandangan benar

Definisi Pandangan Benar

Langkah awal dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah samma ditthi (pandangan benar). Ada yang menerjemahkan sebagai pengertian benar. Bahasa Palinya adalah samma-ditthi atau dalam bahasa Sansekerta disebut samyak drsti. Kata samma (samyak) berarti ‘tepat’, ‘semua’, ‘menyeluruh’, ‘sempurna’, ‘lengkap’, ‘integral’; sedangkan ditthi (drsti) berasal dari kata ‘melihat’ dan mempunyai arti ‘penglihatan’, ‘wawasan’, ‘pandangan’. Menurut Ven. Sangharakshita, samma bukan sekedar berarti ‘benar’ dalam artian biasa sebagai lawan salah. Lebih lanjut menurut Sangharakshita, kata ‘pengertian’ kurang tepat digunakan sebagai terjemahan ditthi karena ditthi bukan hanya sebagai pengertian teoritis, abstrak atau intelektual. Menurut beliau yang lebih tepat sebagai padanan kata ditthi adalah pandangan dan samma menjadi sempurna, sehingga samma ditthi diterjemahkan sebagai pandangan sempurna.

Tentunya makna bahasa tersebut dalam bahasa Inggris. Ketika penerjemahan sebuah bahasa terjadi, bisa saja membuat pergeseran makna terjadi karena bahasa selalu berkembang dan terus mengalami pergeseran makna sesuai dengan sosial budaya masyarakat.

Terlepas dari permasalahan terjemahan bahasa, yang paling penting adalah suatu pemahaman mengenai samma ditthi tersebut. Kata ‘pengertian benar’ dari sudut pandang bahasa Indonesia sebenarnya cukup mewakili arti samma ditthi. Namun, untuk selanjutnya, samma ditthi di sini diterjemahkan sebagai ‘pandangan benar’ karena lebih umum digunakan asalkan dimengerti apa yang dimaksud dengan samma ditthi.

Pandangan benar adalah pengetahuan atau pemahaman mengenai dukkha, sebab dukkha, penghentian dukkha serta jalan menuju penghentian dukkha (Digha Nikaya 22).

Dukkha dapat dipahami sebagai penderitaan karena kemelekatan atau ketidakpuasan karena perubahan. Dengan kata lain pandangan benar adalah suatu pandangan mengenai hakikat kehidupan atau pemahaman terhadap kenyataan dari segala sesuatu. Di sinilah letak pentingnya pandangan benar dan kita akan mengerti mengapa pandangan benar dijelaskan oleh Buddha berada di urutan pertama dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Pandangan Benar sebagai dasar

Pandangan Benar perlu dipahami sebagai suatu pemahaman yang mendalam terhadap segala sesuatu bukan secara intelektual saja, namun juga telah menyatu dalam diri sebagai suatu cara hidup sehingga pandangan benar akan terwujud ketika pikiran atau kehendak, perbuatan dan ucapan seseorang benar. Pandangan benar yang betul-betul terlatih sempurna dengan dukungan unsur-unsur lainnya itulah yang disebut kebijaksanaan sejati. Ketika pandangan benar telah sempurna dialami maka unsur lainnya juga secara otomatis telah sempurna dijalankan karena semuanya adalah bagian dari satu jalan menuju kebahagiaan sejati, nibbana. Jadi sebelum suatu tindakan dilakukan, seseorang harus mempunyai pandangan atau pengertian terhadap tindakan yang akan dilakukannya. Sehingga ia tahu mana tindakan yang merugikan dan mana tindakan yang mendatangkan kebahagiaan. Itulah alasan mengapa Pandangan Benar berada di urutan pertama dan sebagai dasar yang menopang Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Akibat dari Pandangan Salah dan Pandangan Benar

Di dalam Anguttara Nikaya 10.103 disebutkan bahwa pandangan yang salah akan berakibat pikiran salah. Pikiran salah akan berakibat ucapan salah. Di dalam ucapan salah ada perbuatan salah. Di dalam perbuatan salah juga terkandung Mata pencaharian yang salah. Dan seterusnya akan mengkondisikan daya upaya, perhatian dan konsentrasi menjadi salah. Sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan ketidakbahagiaan pada seseorang.

Sebaliknya juga dijelaskan di dalam Anguttara Nikaya 10.104 bahwa pandangan benar mengkondisikan pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Ketika pandangan benar muncul, maka niat dalam pikiran akan murni dan baik sehingga perbuatan dan ucapan akan menjadi baik. Begitu pula daya upaya, perhatian dan konsentrasi seseorang akan mudah terlatih karena mempunyai pandangan benar. Sehingga ketika kedelapan unsur tersebut dapat dijalankan dengan baik maka kehidupan akan menjadi tenang, damai, dan bahagia. Latihan yang terus-menerus dengan pemahaman terhadap pandangan benar secara sempurna pada akhirnya akan membawa kebahagiaan sejati atau nibbana pada kehidupan ini juga.

Memahami Pandangan Benar

Kita telah mengetahui akibat dari pandangan benar dan pandangan salah. Sehingga hal selanjutnya adalah mengerti apa itu pandangan benar. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pandangan benar adalah memahami realitas hidup seperti apa adanya. Lalu bagaimana realitas kehidupan atau kenyataan dari segala sesuatunya itu? Di sinilah letak penting ajaran Buddha yang menarik banyak orang. Buddha Gotama mengajarkan hakikat kehidupan layaknya seorang ilmuwan yang mengajarkan ilmu-ilmu sains, seperti matematika dan fisika. Namun, Buddha mengajarkan sesuatu yang lebih mengarah ke masalah sosial. Beliau menyadari bahwa semua hal yang terjadi dalam masyarakat sosial akibat dimulai dari diri sendiri. Sehingga Buddha mengajarkan dan berharap bahwa setiap orang melatih dirinya masing-masing dahulu untuk selanjutnya akan menciptakan lingkungan masyarakat yang damai. Untuk memulai melatih diri sendiri itulah, seseorang memerlukan pandangan yang benar sebagai dasar.

Syarat untuk melatih dan mengembangkan pandangan benar adalah memahami :

  1. Yang bajik dan yang tak-bajik (kusala dan akusala)
  2. Empat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani atau catvari arya satyani (Sansekerta))
  3. Tiga corak umum (Tilakkhana atau Trilaksana (Sanskerta))
  4. Kesalingterkaitan antar segala sesuatu
  5. Kotoran batin dan cara melenyapkannya

Yang bajik dan yang tak-bajik (kusala dan akusala)

Yang dimaksud dengan pandangan benar terhadap hal yang bajik dan yang tak-bajik adalah bahwa seseorang tahu dengan jelas yang mana yang baik dan yang mana yang buruk, tahu yang manakah yang tidak boleh dilakukan dan dihindari serta yang mana yang harus dilakukan dan dilatih. Ada 10 hal tak-bajik yang harus dihindari dan tidak dilakukan dan ada 10 hal bajik yang dianjurkan oleh Buddha untuk dilatih. Dalam melatih pandangan benar seseorang perlu memahami kesepuluh hal yang bajik maupun yang tak-bajik tersebut (Sammaditthi Sutta, MN 9.3).

Memahami 10 hal yang tak-bajik antara lain: membunuh makhluk hidup (termasuk menyakiti), mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera (seksual), ucapan tidak benar (bohong), ucapan dengki, ucapan kasar, gosip, iri hati, niat jahat, pandangan salah (MN 9.4). Penyebab yang mendasarinya adalah keserakahan, kebencian, kebodohan batin (MN 9.5).

Memahami 10 hal yang bajik: menghindar dari membunuh makhluk hidup, menghindar dari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindar dari perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera, menghindar dari ucapan tidak benar, menghindar dari ucapan dengki, menghindar dari ucapan kasar, menghindar dari gosip, tidak iri hati, tanpa niat jahat, pandangan benar (MN 9.6). Akar penyebabnya adalah tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin (MN 9.7).

Kita harus mengerti dengan jelas alasan dibalik menghindari 10 hal tak-bajik seperti yang disebutkan sebelumnya. Alasannya sangat sederhana. Hal-hal tak-bajik tersebut jika dilakukan akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Membunuh, mengambil barang yang tidak diberikan, perilaku salah dalam kesenangan seksual termasuk perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri secara tidak langsung. Ucapan bohong, ucapan dengki, ucapan kasar, gosip termasuk ucapan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Sedangkan iri hati, niat jahat, dan pandangan salah termasuk merugikan diri sendiri. Kesepuluh hal yang tak-bajik tersebut pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri, sehingga akan membuat dirinya menjadi tidak bahagia dan tenang. Maukah kita tidak bahagia?

Buddha menganjurkan melatih 10 hal yang bajik seperti yang disebutkan diatas dari sudut pandang pasif. Secara aktif, 10 hal yang bajik tersebut adalah menolong orang yang menderita, berdana, setia terhadap pasangan atau mengendalikan hasrat seksual, jujur, ucapan yang mendorong, ucapan sopan atau lembut, ucapan yang bermanfaat, kebahagiaan simpati, cinta kasih dan pandangan benar. Uraian lebih mendalam akan dijabarkan pada Jalan Mulia Berunsur Delapan bagian perbuatan benar, ucapan benar dan pikiran benar.

Empat Kebenaran Mulia

Inilah yang mendasari cara berpikir Buddha Gotama. Cara berpikir seperti ini dapat ditemukan dalam sutta-sutta di dalam kitab Tipitaka. Buddha mengajarkan kita untuk berpikir analisis seperti yang beliau lakukan, yakni :

  1. memahami suatu masalah,
  2. menyadari penyebabnya dan menemukan penyebabnya,
  3. mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari penyelesaiannya,
  4. mencari cara untuk mengatasinya dan menjalankan cara tersebut.

Langkah-langkah berpikir seperti demikian sangat logis dan hal tersebut menunjukkan kecerdasan Buddha. Salah satu ajaran Buddha yang paling penting adalah Empat Kebenaran Mulia (MN 56.18). Empat kebenaran mulia ini dijelaskan oleh Buddha dengan langkah berpikir seperti ini, yaitu:

1. Memahami apa itu dukkha

Di dalam sammaditthi sutta (MN 9.15), disebutkan bahwa dukkha adalah kelahiran; usia tua; penyakit; kematian; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan); dan keputusasaan. Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah dukkha.

Dukkha dapat diartikan sebagai penderitaan. Namun, pengertian dukkha lebih luas lagi. Dukkha juga dapat diartikan sebagai ketidakpuasan karena kemelekatan akan sesuatu yang tetap (atta), padahal segala sesuatu selalu berubah (anicca) dan tidak ada sesuatu diri yang tetap (anatta).

Jadi dukkha lebih mudah dipahami ketika kita memahami realitas dunia yang selalu tidak memuaskan dan mengikat (dukkha), berubah (anicca) dan tidak ada sesuatu yang tetap (anatta). Tiga corak umum (tilakkhana) ini adalah satu kesatuan dan saling terkait. Selalu berubah (anicca) berarti tidak ada sesuatu yang tetap (anatta) dan itu berarti penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha) bagi yang melekat pada perubahan tersebut.

Contoh dukkha sebagai penderitaan adalah usia tua, kematian, sakit seperti yang disebutkan di dalam sammaditthi sutta. Dukkha sebagai ketidakpuasan adalah proses perubahan yang ditangkap oleh indera, seperti ketika seseorang mendapatkan kekayaan dan mungkin suatu saat kekayaannya akan hilang. Perasaan tidak puas karena kehilangan itulah yang disebut dukkha.

2. Asal mula dukkha

Asal mula dukkha adalah nafsu keinginan (tanha). Nafsu keinginan di sini adalah keinginan yang disertai kemelekatan. Keinginan-keinginan berlebihan yang menumpuk inilah yang akhirnya membuat manusia menjadi melekat. Sebagai contoh seorang anak kecil yang menginginkan mainan namun tidak mendapatkannya akan menangis atau menderita karena terus ingin dan ingin di dalam pikirannya. Keinginan yang seperti inilah yang dinamakan keinginan yang berlebihan.

Seandainya anak kecil tersebut hanya ingin dan mengerti mengapa orang tuanya tidak membelikannya, keinginannya menjadi sebuah hal yang wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan. Sama seperti Sang Buddha yang masih ingin makan, namun tidak terikat kepada makanan. Mengikat di sini mempunyai pengertian bahwa ketika tidak mendapatkannya, seseorang tersiksa secara batin atau pikiran. Buddha tidak menderita ketika tidak mendapatkan makanan namun bukan berarti Buddha tidak ingin makan. Seandainya beliau tidak ingin makan, proses makan tersebut tidak akan ada dan akan merugikan dirinya sendiri. Keinginan yang wajar adalah keinginan yang bukan untuk memuaskan diri dan melekat. Saat ini keinginan yang berlebihan manusia telah membuat keserakahan dalam diri menjadi begitu besar sehingga menutupi pandangan benar atau pengertian benar.

Akar dari keinginan berlebihan tersebut adalah ‘ketidaktahuan’ atau ‘kegelapan batin’ (avijja). Kegelapan batin (avijja) adalah ketidaktahuan atau ketidakmengertian terhadap realitas dunia ini. Seperti telah disebutkan bahwa dunia ini selalu berubah (anicca) dan tidak ada yang tetap (anatta) dan ketika kita selalu tidak puas serta melekat (dukkha) maka akan membuat diri menjadi menderita (dukkha). Ketika kita memahami hal tersebut setiap saat, tindakan kita akan menjadi hati-hati dan keinginan kita akan dapat terkendali. Seandainya anak kecil tersebut mengerti bahwa keinginannya hanya sesaat dan belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa mainan tersebut lama-kelamaan akan membuatnya bosan juga, ia akan terbebas dari keinginan yang melekat. Jadi ketika keinginan datang menghampiri, kita harus hati-hati untuk tidak  terikat kepadanya. Pikiran dan renungkan dengan bijak apakah keinginan tersebut betul-betul kita butuhkan atau hanya untuk memuaskan keserakahan kita.

Di dalam sammaditthi sutta disebutkan asal mula penderitaan adalah nafsu keinginan terhadap kesenangan indera, nafsu keinginan untuk dumadi atau kekal dan keinginan untuk tanpa dumadi atau kehancuran diri (MN 9.16). Nafsu keinginan akan kesenangan indera (bentuk, suara, bau-bauan, citarasa, sentuhan, objek-objek pikiran) paling sering muncul dan terkadang sulit untuk dikendalikan, seperti keinginan berlebihan terhadap materi (bentuk), seksual (sentuhan) dan makan (citarasa). Sedangkan nafsu keinginan untuk dumadi atau kekal adalah keinginan yang berlebihan yang menganggap bahwa sesuatunya itu kekal dan tidak berubah, seperti contoh keinginan untuk menjadi lebih berkuasa dan hidup abadi. Sebaliknya nafsu keinginan untuk tanpa dumadi atau kehancuran diri adalah nafsu keinginan seseorang yang telah menganggap bahwa hidup adalah tidak ada, tidak berguna, nihil sehingga menginginkan kematian atau kehancuran diri, seperti orang yang mau bunuh diri atau menghancurkan makhluk lain atau apa pun.

3. Berhentinya dukkha

Lebih lanjut di dalam sammaditthi sutta (MN 9.17) berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Jadi Buddha mengajarkan bahwa keinginan berlebihan yang melekat dapat dihilangkan dari pikiran kita. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.

Nibbana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan atau kegelapan batin telah lenyap. Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat kita hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau ketidakmelekatan (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta dengan kebijaksanaan sejati.

Buddha mengatakan bahwa beliau hanyalah seorang penunjuk jalan menuju kebahagiaan sejati (nibbana). Beliau mengajarkan bagaimana melatih diri untuk mengendalikan sifat-sifat negatif. Buddha tidak bisa membawa sesorang ke Nibbana karena nibbana hanyalah sebuah kondisi batin (pikiran, perasaan) yang berbeda pada setiap orang. Yang dapat membuat diri kita mengalami nibbana (kebahagiaan sejati) adalah diri sendiri dengan melatih seperti yang diajarkan beliau yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan.

4. Jalan menuju berhentinya dukkha

Buddha memberikan sebuah gambaran akan realitas kehidupan, yakni ketidakpuasan atau penderitaan, penyebabnya dan setiap orang dapat mencapai kebahagiaan sejati dengan melenyapkan penderitaan. Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut disebut sebagai jalan mulia berunsur delapan. Inilah jalan yang akan membawa kepada kebahagiaan sejati jika telah sempurna dilaksanakan dan telah menjadi bagian dari setiap tindakan yang dilakukan seseorang baik dari agama, ras, suku apa pun juga. Jadi ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai dengan jalan mulia berunsur delapan—baik ia seorang beragama atau tidak—pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.

Kedelapan bagian dari kesatuan jalan yang saling terjalin tersebut adalah pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Kita memandang kedelapannya sebagai satu kesatuan seperti seutas tali yang terjalin yang saling memengaruhi. Kita melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika suatu perbuatan yang dilakukan baik, itu berarti pikirannya baik. Ketika sebuah ucapan seseorang bermanfaat, berarti pikirannya dipenuhi oleh cinta kasih. Pikirannya benar (positif) karena pandangannya benar. Sehingga kedelapannya adalah satu kesatuan dengan pusat talinya adalah pandangan benar. Jadi pandangan benar dapat diumpamakan sebagai pusat tali yang diselubungi atau terjalin oleh tujuh bagian tali lainnya yang membuatnya menjadi kuat.

Tiga corak umum

Salah satu ciri yang terdapat di dalam kehidupan ini adalah perubahan. Apapun di dunia ini selalu berubah, baik itu benda mati maupun hidup. Kehidupan manusia dimulai dari kelahiran, dewasa, tua kemudian mati. Ada yang dari miskin menjadi kaya, ada yang hidup menderita kemudian menjadi bahagia, begitu juga sebaliknya. Benda mati pun terus mengalami perubahan, semakin rusak. Manusia banyak yang memanfaatkan perubahan ini. Membuat kertas dari kayu, patung dari kaca, rumah dari batu. Ini adalah corak kehidupan yang sangat jelas yang kita rasakan. Segala sesuatu apa pun juga pasti berubah! Inilah yang mendasari dari tiga corak umum atau universal yang berlaku di alam semesta ini.

Tiga corak umum tersebut adalah

1. Ketidakkekalan atau perubahan (anicca)

Inilah salah satu ciri dunia yang paling penting. Tanpa perubahan maka dunia akan menjadi berhenti dan tidak terdapat keindahannya. Karena perubahan maka dunia telah menjadi indah dan penuh warna-warni. Kita mengetahui hal ini dengan jelas, namun terkadang kita tidak dapat menerimanya sehingga membuat diri menjadi menderita. Contohnya kehilangan orang yang dicintai, barang yang disukai rusak.

2. Tidak memuaskan (dukkha)

Inilah ciri kedua di dunia ini. Manusia mempunyai pikiran, perasaan, akal, kesadaran. Dukkha sebenarnya berhubungan dengan kesadaran manusia. Melalui panca indera dan pikiran, kita seringkali terjebak di dalam dukkha. Kita tahu ciri dunia adalah selalu berubah, namun kadangkala kita tidak bisa menerimanya karena kita terikat kepadanya. Ketika kesadaran kita, pikiran kita tidak bisa menerimanya, kita menjadi menderita (dukkha). Pada penjelasan mengenai dukkha di bagian empat kebenaran mulia, telah dikatakan bahwa dukkha juga sebagai ketidakpuasan. Hal tersebut karena pikiran, kesadaran dan perasaan manusia selalu tidak puas untuk menerima perubahan.

3. Tidak ada sesuatu diri yang tetap (anatta)

Karena segala sesuatu selalu berubah, artinya tidak ada yang tetap termasuk diri seseorang. Kita dapat membayangkan seperti air di sebuah sungai yang terus mengalir di mana kita tidak dapat mengatakan bagian mana dari air sungai tersebut sebagai awal yang mengalirkan air lainnya. Di dalam ajaran Buddha, tidak ada suatu diri (roh) yang tetap. Lebih luas kita dapat mengatakan bahwa apapun di dunia ini tidak ada yang tetap sebagaimana adanya. Hal ini tak lain karena perubahan. Perubahan berarti tidak ada yang tetap atau selalu sama di waktu yang berbeda. Semuanya selalu berubah. Jelas tidak ada yang sesuatu yang selalu tetap apalagi abadi.

Ketiga corak tersebut dapat kita rangkum menjadi sebuah satu kesatuan, yakni perubahan. Dengan memahami perubahan sebagai ciri segala fenomena di dunia ini, kita tidak akan terikat dan menjadi menderita.

Kesalingterkaitan antar segala sesuatu

Selain perubahan, hal yang tidak kalah penting dalam memahami realitas dunia ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini saling memengaruhi. Semua yang terjadi di dunia ini adalah saling berbenturan. Sebab akan menimbulkan akibat. Akibat tersebut tak lain adalah sebab dari akibat selanjutnya.

Ketika seseorang melakukan kejahatan, akibatnya ia akan menderita—secara fisik ataupun psikis.

Kita memandang dunia ini seperti jaring laba-laba yang saling terhubung. Ketika salah satu bagian dari jaring tersebut digetarkan, bagian lainnya akan menerima getarannya pula. Begitu pula perbutan manusia atau tindakan manusia. Ketika seseorang tertimpa bencana, hal tersebut adalah akibat dari berbagai hal yang saling memengaruhi. Seringkali umat Buddha banyak yang salah dalam memahami hukum karma (kamma). Kita tidak dapat mengatakan bahwa seseorang dibunuh karena kehidupan sebelumnya pernah membunuh. Hal tersebut adalah kesalahan fatal dalam memahami hukum karma.

Perlu kita ketahui bahwa di alam semesta ini ada lima hukum yang pasti berlaku (panca niyama dhamma). Lima hukum tersebut adalah

1. Hukum fisika (utu niyama)

Hukum ini mencakup semua fenomena anorganik, termasuk hukum-hukum dalam fisika dan kimia. Contohnya adalah perubahan cuaca, iklim, sifat panas.

2. Hukum biologis (bija niyama)

Hukum ini mencakup semua gejala organik seperti dalam biologi. Contohnya adalah perkembangan hewan atau tumbuhan, mutasi gen manusia, pembuahan.

3. Hukum karma (kamma niyama)

Hukum karma berarti bahwa segala tindakan yang sengaja atau tidak disengaja akan menghasilkan sesuatu yang baik atau buruk. Contohnya seseorang yang mencuri akan merasa takut tertangkap dan mungkin suatu saat ia tertangkap dan akibatnya dipenjara serta malu.

4. Hukum psikis (citta niyama)

Hukum ini mencakup semua proses kesadaran. Bagaimana kesadaran bekerja. Bagaimana pikiran memulai kerja dan memori manusia bekerja. Hukum ini mengindikasikan apa hubungan antara sesuatu yang mati dan hidup.

5. Hukum realitas (dhamm niyama)

Hukum ini mencakup semua gejala di luar ke empat hukum sebelumnya. Jadi fenomena yang diabstrakkan juga termasuk di dalam hukum ini seperti contoh konsep-konsep abstrak dalam matematika yang digunakan sebagai cara untuk menggambarkan dan menjelaskan realitas ini.

Selain hukum karma, ada 4 hukum lainnya yang berlaku di dunia ini, sehingga kita perlu berhati-hati ketika menyatakan bahwa suatu kejadian karena satu hal. Justru sebaliknya, biasanya suatu kejadian terjadi karena banyak hal yang mendukung. Seperti contoh seseorang tertimpa bencana alam. Hal tersebut tidak sepenuhnya karena akibat karma buruk orang tersebut. Ada kondisi seperti banjir—hukum fisika (utu niyama)— yang mendukung dan kondisi-kondisi lainnya dari hukum-hukum lainnya.

Yang menjadi dasar berpikir kita untuk memahaminya adalah bahwa semua hal termasuk hukum-hukum di atas saling memengaruhi. Semua saling terkait. Konsep dalam ajaran Buddha yang menunjukkan kesalingterkaitan antar segala sesuatu tersirat dalam hukum sebab-akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada). Sebab-akibat ini adalah inti untuk memahami Dhamma. Dikatakan bahwa orang yang memahami sebab-akibat yang saling bergantungan ini berarti memahami Dhamma, dan orang yang memahami Dhamma berarti memahami sebab-akibat yang saling bergantungan ini (MN 28.28).

Bunyi hukum sebab-akibat yang saling bergantungan adalah (MN 38.17) :

Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi muncullah bentukan-bentukan pemikiran

Dengan bentukan-bentukan pemikiran sebagai kondisi muncullah kesadaran

Dengan kesadaran sebagai kondisi muncullah mentalitas-materialitas

Dengan mentalitas-materialitas sebagai kondisi muncullah landasan berunsur-enam

Dengan landasan berunsur-enam sebagai kondisi muncullah kontak

Dengan kontak sebagai kondisi muncullah perasaan

Dengan perasaan sebagai kondisi muncullah nafsu-keinginan

Dengan nafsu-keinginan sebagai kondisi muncullah kemelekatan

Dengan kemelekatan sebagai kondisi muncullah dumadi (proses membentuk atau menjadi)

Dengan dumadi sebagai kondisi muncullah kelahiran

Dengan kelahiran sebagai kondisi muncullah penuaan dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan dan keputusasaan

Demikian asal mula munculnya seluruh penderitaan

Inilah salah satu realitas alam yang harus kita pahami sebagai dasar dalam mengembangkan pandangan benar, selain perubahan.

Kotoran batin dan cara melenyapkannya

Inilah penyebab utama dari seluruh permasalahan manusia dan penderitaannya. Kotoran batin terdiri dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan-batin (moha). Ketika tiga akar kejahatan ini lenyap selamanya itulah yang dinamakan Nibbana. Ini juga—seperti yang telah disebutkan sebelumnya—merupakan akar dari 10 hal yang tak-bajik. Di dalam Anguttara Nikaya III, 33 disebutkan bahwa tiga hal inilah yang mendasari suatu tindakan dilakukan (tindakan negatif). Jika kita mau berhasil memperoleh kebahagiaan sejati (Nibbana), kita harus dapat menekan bahkan melenyapkan sampai tak bersisa tiga sifat negatif ini. Untuk menghancurkan akar tak-bajik ini, kita perlu mengenal dan memahami sifatnya. Alasan itulah yang membuat pembahasan mengenai ini menjadi penting dan menjadi poin tersendiri.

Keserakahan (lobha) yang dimaksud mencakup semua tingkatan ketertarikan, dari kemelekatan yang paling halus (kecil) sampai bentuk keserakahan atau egoisme yang sangat besar. Contoh kemelekatan halus biasanya tersembunyi dibalik hal-hal yang positif, seperti kemelekatan terhadap orang yang dicintai atau kemelekatan yang menempel pada pengejaran impian. Tapi bukan berarti tidak perlu mengembangkan cinta atau impian. Yang perlu diperhatikan adalah jangan terikat dengannya artinya ketika hilang tidak membuat penderitaan yang berkepanjangan. Di sinilah letak penting pemahaman terhadap konsep perubahan. Seringkali kita paham dan mengerti secara intelektual, namun ketika kenyataan terjadi kita menjadi menderita. Pada tahap awal pelatihan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan keserakahan yang halus. Kita dapat memulai dengan menekan keserakahan tingkat menengah seperti keinginan akan sesuatu atau barang untuk kepuasan sesaat. Setelah mendapatkan, lama-kelamaan menjadi bosan dan mencari yang baru  lagi. Kemelekatan yang lain adalah berdana dengan tujuan tertentu, sekecil apapun tujuannya perlu diwaspadai jangan sampai melekat. Keserakahan yang berat adalah kehausan akan kekuasaan, materi atau hal lainnya yang ditunjukkan dengan ambisi yang besar.

Kebencian (dosa) mencakup seluruh tingkat penolakan dari sentuhan yang paling ringan seperti bentuk humor (ada unsur kasar dalam bentuk kata-kata atau visual) sampai bentuk kebencian dalam wujud kemarahan dan dendam yang sangat dalam. Menurut Buddha, sifat kebencian ini paling mudah dihancurkan daripada keserakahan dan kebodohan-batin. Kebencian ini paling nyata dapat kita lihat dan rasakan sendiri. Semua peperangan dan masalah kejahatan disebabkan oleh kebencian. Mulai dari penolakan yang sangat halus sampai berkembang menjadi ketidaksukaan, kebencian hingga dendam yang amat besar.

Begitu pula istilah kebodohan-batin (moha) atau ketidaktahuan/kegelapan-batin (avijja) mencakup ketidaktahuan yang paling halus sampai ketidaktahuan yang sangat besar seperti kebodohan. Menurut bhikkhu Bodhi, kegelapan batin (avijja) sifatnya sama dengan akar buruk kebodohan batin (moha). Apabila Buddha menjelaskan tentang faktor-faktor mental dalam konteks psikologi, beliau menggunakan istilah kebodohan batin, sedangkan Buddha menggunakan istilah kegelapan batin (avijja) apabila beliau menjelaskan akar dari ikatan siklus kehidupan yang berulang-ulang (samsara). Inilah sifat yang paling sulit dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Inilah sifat yang mendasari berkembangnya keserakahan dan kebencian dalam diri seseorang. Ketidaktahuan yang halus contohnya adalah mengetahui bahkan memahami secara intelektual namun tidak dapat terlepas dari penderitaan akibat perubahan. Kebodohan yang lebih halus lagi (paling halus) adalah dasar dari semua ketidakbahagiaan—sebagai dasar samsara—yang dikenal sebagai kegelapan-batin (avijja) yang sebenarnya. Ketika kebodohan-batin yang amat halus tersebut telah lenyap, itulah kebijaksanaan sejati. Contoh kebodohan yang sangat berat adalah tidak mau menerima perubahan walaupun jelas-jelas dialami dalam kehidupan ini.

Pengertian terhadap tiga akar penyebab ketidakbahagiaan ini harus benar-benar dipahami sehingga dapat dikikis sampai ke akar-akarnya. Pemahaman secara intelektual menjadi kurang bermanfaat ketika suatu perubahan nyata terjadi pada diri seseorang karena hanya sebatas mengerti sesaat dan sering terlupa. Yang perlu dikembangkan adalah pemahaman yang merasuk ke dalam diri sehingga menjadi bagian integral (menyatu) dalam diri. Caranya adalah dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketika pemahaman (kebijaksanaan) telah terwujud melalui tindakan maka tindakannya tidak akan berbuah negatif dan akibatnya telah terhenti. Itulah pikiran yang tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin. Aspek positif dari tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin adalah kedermawanan atau memberi (dana), cinta kasih (metta) dan kebijaksanaan (panna).

Jadi satu-satunya cara untuk melenyapkan kotoran batin dan mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan menjalani kehidupan selaras dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dimulai dari pengembangan dan penyempurnaan pandangan benar dahulu, karena pandangan benar adalah kunci yang membuka pintu ketidaktahuan dalam diri seseorang.

Mengembangkan pandangan benar

Setelah mengerti tentang pandangan benar, seseorang baru dapat mengembangkan pandangan benarnya sehingga menjadi sempurna. Ada dua kondisi bagi munculnya pandangan benar yang sempurna, yaitu ‘suara orang lain’ (parato ghosa) dan perhatian yang bijaksana (MN 43.13). Yang dimaksud ‘suara orang lain’ adalah ajaran yang bermanfaat yang berasal dari luar diri seperti diumpamakan dengan suara orang lain yang terdengar. Itulah Dhamma, sebagai ‘suara orang lain’. Dhamma yang disini artinya lebih umum yakni kebenaran akan realitas, seperti perubahan, kesalingterkaitan antar segala sesuatu, Empat Kebenaran Mulia dan jalan Mulia Berunsur Delapan. Perhatian yang bijaksana adalah pengembangan mental dan terus-menerus melatih diri sesuai Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Ada 5 faktor yang mendukung pengembangan pandangan benar (MN 43.14) yaitu:

1. Kesusilaan

Artinya melatih diri sesuai dengan aturan (sila) yang ada. Pancasila-buddhis adalah dasar moralitas dan aturan yang universal, yakni: Melatih diri menghindari menyakiti makhluk hidup, melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan, melatih diri menghindari dari perilaku seksual yang salah, melatih diri menghindari ucapan tidak benar (bohong), melatih diri menghindari minum-minuman yang melemahkan kesadaran. Pembahasan lebih lanjut di bagian ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencaharian benar.

2. Belajar

Inilah aspek terpenting bagi kemajuan seseorang. Belajar yang dimaksud disini lebih umum yaitu belajar tentang hakikat kehidupan dan realitas hidup ini. Caranya adalah dengan membuka diri terhadap segala hal yang ada. Atau dengan kata lain membuka pandangan. Dengan penyelidikan seperti yang dilakukan seperti Buddha, seseorang seharusnya selalu merenung. Apakah yang telah dilakukan membawa kebahagiaan atau penderitaan? Apa sebabnya? Apakah ada jalan keluarnya? Bagaimana jalannya? Inilah metode Buddha dalam menganalisa kehidupan seperti ketika menjelaskan tentang Empat Kebenaran Mulia. Perhatian benar membantu pengembangan belajar didukung oleh daya upaya benar.

3. Diskusi

Diskusi ini membantu pemahaman dan mendapatkan pandangan-pandangan baru sehingga membantu pengembangan diri menjadi lebih baik. Aspek ini mendukung faktor belajar karena berhubungan dengan orang lain. Diskusi adalah salah satu cara menekan sifat kesombongan terhadap kemampuan diri sendiri. Murid-murid Buddha mencapai penerangan sempurna setelah mendengar beliau mengajar atau berdiskusi dengan beliau. Ini adalah dari belajar dengan diskusi. Diskusi berinteraksi dengan orang lain, sedangkan belajar lebih ke pengembangan dalam diri. Daya upaya benar dikembangkan sebagai penunjang pikiran benar untuk membantu proses diskusi.

4. Ketenangan

Inilah sifat yang perlu dimiliki dan dilatih. Selalu tenang, tidak gelisah dan terburu-buru seperti Buddha Gotama. Semua permasalahan harus dihadapi dengan jernih, dipikirkan dengan seksama, dianalisis baru kemudian bertindak. Di dalam riwayat Buddha Gotama, berkali-kali beliau diuji kesabarannya. Beliau dengan tenang mempelajari permasalahannya, menganalisis baru kemudian bertindak. Tindakan beliau juga sangat tenang dan tidak dengan emosi bahkan ketika beliau difitnah. Untuk melatih ketenangan, dapat melalui pengembangan konsentrasi benar atau meditasi.

5. Kebijaksanaan

Faktor terakhir ini adalah kunci utama yang mendorong kesempurnaan pandangan benar. Inilah salah satu puncak dalam ajaran Buddha. Tiang penyangga ajaran buddha adalah kebijaksanaan dan welas-asih. Aspek kebijaksanaan ini mewakili aspek internal dalam diri seseorang sedangkan welas-asih mewakili aspek sosial yang berhubungan dengan di luar diri. Sebagai sebuah penopang ajaran Buddha, kebijaksanaan memainkan peranan yang sangat penting. Kesempurnaan kebijaksanaan berarti kesempurnaan pandangan benar, juga kesempurnaan unsur-unsur lainnya dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. hal tersebut berarti juga kesempurnaan cinta kasih yang mempunyai inti welas-asih. Pengembangan kebijaksanaan dapat dicapai melalui pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan, khususnya daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.

Lima faktor praktis tersebut sangat mendukung dalam pengembangan pandangan benar. Takkala semua faktor tersebut telah disempurnakan, pandangan benar juga telah sempurna diraih. Sekali lagi yang perlu kita ingat adalah bahwa Jalan Mulia ini terdiri dari delapan unsur atau bagian yang saling mendukung dan melengkapi. Ketika salah satu unsur semakin baik disempurnakan, artinya unsur-unsur lainnya juga semakin disempurnakan. Kita harus melihat jalan ini sebagai satu kesatuan dan harus dijalankan secara bersama-sama jikalau ingin mencapai kebahagiaan sejati, Nibbana.

Daftar pustaka

Access to Insight. “Right View, samma ditthi”. Offline edition, Tuesday 2007-08-14. http://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca4/samma-ditthi/index.html

Bodhi, bhikkhu. 2006. Jalan Kebahagiaan Sejati. Jakarta: Karaniya.

Chia, Vajiro (Richard). 2004. Panduan Kursus Dasar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production

Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.

Kitab suci agama buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2005. Majjhima Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2007. Majjhima Nikaya 4. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2001. Petikan Anguttara Nikaya 1. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan DHAMMAGUNA.

Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Karaniya.

The Rubric Theme. Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.