Willyyandi's Blog

Juli 5, 2014

Pemimpin Perspektif Buddhis

Filed under: Ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari — Liu @ 12:57 pm

 

 

Pemimpin Perspektif Buddhis

Oleh Willy Liu

Kita semua tahu bahwa dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat, seorang pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Pada zaman dahulu, ketika perang dalam perebutan kekuasaan suatu kerajaan, peranan pemimpin sangat menentukan. Ketika di medan perang, kematian seorang pemimpin prajurit akan mencerai-berai pasukan dan secara otomatis dinyatakan kalah. Begitu pula raja di suatu kerajaan ketika terbunuh maka dikatakan kerajaannya telah runtuh.

Di zaman modern seperti ini, peran seorang pemimpin menjadi lebih penting dan menjadi kunci suatu keberhasilan. Apabila seorang pemimpin keluarga tidak mampu memimpin dengan baik, keluarga akan tidak harmonis. Apabila seorang pemimpin negara tidak arif dalam memimpin, suatu pemerintahan akan menjadi kacau dan terjadi ketidaktenangan dalam kehidupan bernegara. Pun, apabila pemimpin spiritual atau suatu agama tidak bersikap bijak dalam menyebarkan ajarannya, maka yang terjadi adalah umat yang penuh dengan kefanatikan dan anarkis.

Mengetahui betapa pentingnya seorang pemimpin, tentu pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana ciri atau karakter pemimpin yang baik menurut Ajaran Buddha? Hal-hal apa saja yang harys dilakukan oleh seorang pemimpin dalam perspektif Buddhis? Sebelum membahas lebih lanjut, kita akan melihat salah satu karakter pemimpin terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Beliau adalah Sang Buddha, Sidhartha Gautama.

 

Memimpin dengan Kearifan

Kita mengetahui bahwa dalam Sang Buddha merupakan seorang figur pemimpin yang ideal. Beliau memimpin berdasarkan ajarannya yaitu berlandaskan kebijaksanaan dan cinta kasih. Sumber-sumber menunjukkan bahwa beliau memimpin penuh dengan demokrasi. Setiap aturan yang ditetapkan oleh Buddha ada alasannya. Setiap kali seorang perilaku muridnya yang kurang baik, Sang Suddha akan menetapkan aturan winaya.

Kepemimpinan Sang Buddha juga terlihat takkala Beliau menyelesaikan konflik yang terjadi pada Suku Sakya dan Suku Koliya. Kedua suku tersebut hampir berperang karena berebut air. Kedua suku tersebut dipisahkan oleh sungai Rohini. Biasanya kedua suku tersebut menggunakan air dari sungai tersebut secara bersama-sama mengairi sawah masing-masing.

Pada suatu musim kemarau, air sungai tersebut berkurang dan membuat hasil panen berkurang. Kemudian, orang-orang dari Suku Koliya mulai mengatakan bahwa air sungai tidak cukup untuk dibagi berdua sehingga mereka yang akan memakai air sungai tersebut sedangkan suku Sakya tidak boleh menggunakannya. Timbullah pertengkaran, caci-maki dan saling menghujat. Lantas yang terjadi adalah sama-sama saling berebut air. Beberapa orang mulai melakukan kekerasan dan memukul suku lainnya sehingga pada akhirnya kedua suku menyiapkan pasukan hendak berperang.

Ketika Sang Buddha datang, Beliau bertanya kepada kedua pemimpin masing-masing suku tersebut. Kedua pemimpin malah tidak mengetahui kenapa sebabnya. Selidik-menyidik, Sang Buddha bertanya langsung kepada warga pekerja dan kemudian dikatakan penyebabnya adalah karena berebut air. Kemudian, dengan kebijaksanaan dan cinta Beliau kepada setiap orang, Beliau bertanya kepada raja masing-masing suku berapakah harga air. Dijawablah bahwa harga air hampir tiada artinya. Lalu, Sang Buddha bertanya, “Berapakah nilai kehidupan rakyat anda?”. Sang Raja menjawab, “tentu saja harga nyawa tiada ternilai harganya.” Kemudian, Sang Buddha Bersabda, “Baiklah kalau begitu. Apakah tepat bahwa untuk air yang hampir tiada artinya, anda akan menghancurkan banyak kehidupan yang harganya tidak ternilai?”

Akhir cerita jelas, kedua pemimpin (raja) tersebut berdamai karena pendekatan Buddha yang arif dan lembut dalam menyelesaikan suatu konflik. Inilah salah satu contoh pemimpin ideal yang melakukan sesuatu dengan cara-cara yang terbaik bagi semua pihak.

 

Karakteristik Pemimpin

Menurut ajaran Buddha, seorang pemimpin yang baik selayaknya mempunyai sepuluh karakter pemimpin (Dasa Raja Dhamma). Di dalam kitab Jataka, disebutkan 10 ciri seorang pemimpin dikatakan baik, yaitu:

  1. Dana (Kedermawanan)

Seorang pemimpin seharusnya murah hati. Pemimpin dapat menjadi contoh bagi pengikutnya. Kualitas kedermawanan ini sangat penting dan bertolak belakang dengan keserakahan, karena dengan kedermawanan seorang pemimpin akan disenangi oleh pengikutnya.

 

  1. Sila (Moralitas)

Seorang pemimpin harus memiliki moral yang baik dan Hukum harus dipatuhi. Setiap pikiran, ucapan dan perbuatan seorang pemimpin haruslah berlandaskan kebaikan dan cinta serta kebijaksanaan.

 

  1. Paricagga (Pengorbanan diri)

Ketika menjadi seorang pemimpin, ia telah berkorban untuk melayani pengikutnya. Seorang pemimpin negara (raja) harus berpandangan bahwa ia akan mengorbankan diri demi kesejahteraan rakyatnya. Kualitas ini penting karena apabila seorang pemimpin tidak mempunyai karakteristik ini, berarti ia ada pemimpin yang egois dan akan selalu mementingkan diri sendiri.

 

  1. Ajjava (Integritas, tulus, jujur)

Sebagai pemimpin tugas-tugasnya seharusnya dilakukan dengan tulus. Dedikasikan sepenuhnya pada apa yang seharusnya seorang pemimpin lakukan. Jujur pada diri sendiri dan orang lain akan membuat pemimpin dihargai oleh pengikutnya dan dihormati dengan tulus.

 

  1. Maddava (Baik hati, Bertanggung jawab)

Siapapun orangnya dan apapun tugasnya, seseorang seharusnya memiliki tanggung jawab pada tugasnya. Pemimpin dituntut mempunyai tanggung jawab ekstra sehingga disiplin sebagai seorang pemimpin. Dengan begitu siapapun akan menghargai pemimpin tersebut sepenuh hati. Seroang pemimpin hendaknya berlaku baik, menjaga sopan santun dan tata krama sesuai norma setempat.

 

  1. Tapa (Sederhana)

Sebagai seorang pemimpin janganlah berlaku sombong dan berlebihan. Menurut ajaran Buddha, kesederhanaan merupakan salah satu kunci untuk melatih diri mengendalikan keserakahan. Gaya hidup mewah sebaiknya dihindari oleh seorang pemimpin. Tunjukkan bahwa kesederhanaan hidup lebih baik dan berarti daripada gaya hidup mewah dan sombong.

 

  1. Akkodha (Tanda kemarahan, tiada membenci)

Jelas, andaikata seorang pemimpin sering marah-marah akan membuat ketakutan pengikutnya dan pengikutnya akan menjalankan perintah bukan berdasarkan kesadaran dan tidak akan optimal. Terkadang pemimpin memang perlu tegas namun bukannya dengan marah-marah berlebihan. Ekspresi seorang pemimpin bisa menegaskan kewibawaannya. Janganlah pemimpin juga menyimpan benci atau rasa tidak senang kepada lawannya. Cobalah bersikap bersahabat daripada membenci.

 

  1. Avihimsa (Tanpa kekerasan)

Seringkali sebagian orang berpikir bahwa dengan kekerasan masalah bisa diselesaikan. Mungkin untuk beberapa kasus bisa, namun umumnya yang terjadi adalah kebencian dan dendam akan semakin kuat dan meluas. Dalam ajaran Buddha belas kasih (karuna) dan cinta universal (metta) memegang peranan aktif dari karakteristik ini.

 

  1. Khanti (Kesabaran)

Banyak masalah timbul dari ketidaksabaran dan emosi negatif sesaat kita. Kemarahan adalah salah satu wujud dari ketidakmampuan kita untuk mengendalikan emosi kita, karena kita tidak berlatih sabar. Untuk itulah kesabaran menjadi salah satu karakteristik pemimpin yang penting.

 

  1. Avirodha (Tidak mencari permusuhan)

Karakteristik yang ini sudah sangat jelas. Tentu saja ini bisa dilakukan apabila seorang pemimpin mempunyai moralitas yang baik, mematuhi hukum, menjaga pikiran, mengendalikan ucapan. Tanpa disiplin moral yang baik, setiap tindakan akan mengundang permusahan orang sehingga akhirnya merugikan diri sendiri juga.

 

Kepemimpinan Perempuan

Seringkali pemimpin identik dengan seorang laki-laki, padahal tidaklah harus demikian. Kita bisa melihat dalam banyak kasus perempuan-perempuan dapat memimpin dengan baik. Salah satu contoh terbaik saat ini adalah Master Cheng Yen. Beliau adalah salah satu pemimpin Buddhis yang namanya tidak asing lagi. Walaupun Beliau seorang biksuni dan memimpin salah satu Organisasi Nirlaba terbesar di dunia, Yayasan Buddha Tzu Chi, Beliau tetap dapat mempunyai sepuluh karakteristik pemimpin seperti yang disebutkan.

Sang Buddha sendiri mengatakan dengan jelas bahwa baik pria maupun wanita mampu menjadi seorang pemimpin bahkan pencerahan menjadi Buddha pun bisa terjadi. Pada suatu ketika, saat Sang Buddha sedang bersama Raja Pasenadi, datanglah seorang pelayan menghampiri raja dan mengatakan, “Baginda, Ratu Malika telah melahirkan seorang anak perempuan.” Raja kemudian menjadi tidak senang mendengar berita tersebut. Sang Buddha dengan penuh perhatian menyadari dan bertanya kepada Raja Pasenadi. Setelah mengetahui sebabnya, Sang Buddha berkata:

“Seorang perempuan, O Raja,

            Bisa menjadi lebih baik daripada dari seorang laki-laki:

            Dia mungkin bijaksana dan luhur,

            Seorang istri yang berbakti, menghormati ibu-mertuanya. (408)

 

“Seorang putera yang dia lahirkan

Mungkin menjadi pahlawan, O penguasa wilayah,

Putera dari perempuan terberkahi seperti itu

Bahkan bisa memerintah dunia.” (409)

 

Samyutta Nikaya I,3 (Bagian Sagathavagga, sutta Kosalasamyutta)

Dari sutta (ucapan Sang Buddha) tersebut, kita dapat melihat bahwa Sang Buddha memandang laki-laki dan perempuan setara dan mempunyai kemampuan yang sama. Di sutta no. 408 bahkan dikatakan seorang perempuan bisa jadi menjadi lebih baik daripada anak laki-laki. Artinya adalah bahwa dengan melatih diri, seseorang dapat menjadi lebih bijaksana, luhur, cerdas baik itu ia seorang perempuan maupun laki-laki. Jadi, dari sini terlihat bahwa perempuan pun dapat memimpin dengan baik dan bijak.

Lebih lanjut sutta no. 409, Sang Buddha mengatakan bahwa mungkin anak dari perempuan yang dilahirkan dan didik dengan baik tersebut akan mempunyai anak yang dapat memerintah dunia. Hal tersebu mengindikasikan bahwa watak seorang anak banyak dipengaruhi ibunya. Inilah salah satu peran perempuan sebagai pemimpin anak-anaknya.

Dengan didikan yang baik dari seorang ibu (pemimpin), seorang anak (pengikut) akan menjadi bijaksana dan luhur. Jadi, peran perempuan menjadi penting untuk menghasilkan generasi yang lebih baik di masa mendatang. Sehingga sangat salah jika dikatakan bahwa perempuan tidak memerlukan pendidikan seperti laki-laki, karena untuk mendidik anak laki-laki atau perempuannya, seorang perempuan selayaknya diberi pengetahuan dan pendidikan yang sesuai.

Lebih lanjut seorang perempuan dapat menjadi seorang pemimpin yang lebih baik daripada laki-laki, begitu pula sebaliknya. Hal ini tidak berarti perempuan harus berlomba-lomba menjadi pemimpin bersaing dengan laki-laki. Perempuan dan laki-laki dapat saling melengkapi.

 

 

Referensi:

Widya, Dharma K. 2007. Dharma Ajaran Mulia Sang Buddha. Jakarta: PP MAGABUDHI.

Hansen, Sasanasena Seng. 2008. Ikhtisar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production.

Wijaya, Willy Yandi. Ulasan Sutta: Anak Perempuan.

Januari 20, 2010

Pikiran Benar

Cover Buku Pikiran Benar

Pikiran Benar

Oleh: Willy Yandi Wijaya

========================================================

Kupersembahkan buku ini untuk:

Kedua orang tuaku yang tanpa lelah memberikan cinta dan mengajarkan saya makna kehidupan yang sesungguhnya

Untuk guru-guru yang membimbing saya dalam kebijaksanaan

Untuk sahabat-sahabat saya yang memperindah kehidupan ini

Untuk semua makhluk yang terus berjuang

Semoga semuanya selalu berbahagia dan bebas dari penderitaan

Semoga semuanya terus mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan

========================================================

Kata Pengantar

Dengan dukungan dari semua pihak, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan buku ke dua dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, yakni Pikiran Benar. Buku ini adalah kelanjutan dari buku saku sebelumnya yaitu Pandangan Benar. Di buku ke dua ini, ada perubahan tampilan isi sehingga diharapkan dapat lebih enak dibaca.

Di dalam buku ini, definisi pikiran benar yang diberikan adalah definisi yang memang terdapat dalam Sutta Pitaka. Dengan memahami pikiran benar, penulis berharap setiap saat kita semua selalu berhati-hati ketika berpikir dan menyadari akibat dari pikiran tersebut.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang terus mendorong dan mengharapkan kelanjutan buku pertama. Terima kasih mendalam terutama disampaikan kepada Insight Vidyasena Production yang menerbitkan buku ini, khususnya kepada Sdr. Andy Boedianto selaku Manajer Produksi Buku dan Sdr. Anton sebagai Direkturnya. Tak lupa penulis berterima kasih kepada teman-teman Vidyasena yang ikut mendorong penulisan buku saku ini.

Seperti pada buku pertama, penulis berusaha mengambil sumber penulisan dari Tipitaka Pali, khususnya Sutta Pitaka sebagai acuan dasar. Alasan penulis secara langsung mengacu pada Sutta Pitaka adalah agar kemurnian dan esensi ajaran Buddha dapat dilestarikan.

Akhir kata, penulis sangat berharap masukan, kritikan, saran maupun komentar para pembaca melalui penerbit, sehingga mendorong perbaikan dan semangat penulis pada buku-buku selanjutnya di masa mendatang.

Terima kasih,

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Salam,

Willy Yandi Wijaya

========================================================

Pendahuluan

Setelah memahami pandangan benar sebagai dasar, selanjutnya kita perlu mengetahui pikiran benar yang melengkapi bagian kebijaksanaan di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Telah kita ketahui bahwa Jalan Mulia Berunsur Delapan terdiri dari:

  1. Pandangan benar
  2. Pikiran benar
  3. Ucapan benar
  4. Perbuatan benar
  5. Penghidupan benar
  6. Daya upaya benar
  7. Perhatian/ Perenungan benar
  8. Konsentrasi benar

Di dalam Sutta Pitaka, berulang kali disebutkan tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai satu-satunya jalan menuju kebahagiaan sejati (nirwana). Pikiran benar adalah transformasi pandangan benar. Tanpa pikiran benar, tindak tanduk kita akan menjadi tidak terarah dan kehidupan manusia tidak akan tenang.

Berbagai masalah di dunia bermunculan berdasar pikiran atau niat yang buruk seperti kebencian, iri hati, kekejaman dan keserakahan. Untuk itulah Sang Buddha menawarkan sebuah cara untuk melawan pikiran negatif tersebut, seperti pikiran yang berdasarkan cinta kasih, welas asih dan tanpa kemelekatan.

Satu hal yang membuat pikiran menjadi begitu penting adalah karena pikiran yang berulang-ulang akan membentuk pandangan atau memperkuat pandangan hidup seseorang. Dengan kata lain, pandangan mendasari pikiran, sebaliknya pikiran yang dilatih kuat dapat memengaruhi pandangan seseorang.

Di dalam buku ini, sumber penulisan adalah Sutta Pitaka yang terdiri dari Lima bagian, yaitu

  1. Samyutta Nikaya disingkat menjadi SN
  2. Majjhima Nikaya disingkat menjadi MN
  3. Anguttara Nikaya disingkat menjadi AN
  4. Digha Nikaya disingkat menjadi DN
  5. Khudaka Nikaya yang terbagi lagi menjadi 15 bagian.

========================================================

Definisi Pikiran Benar

Tentunya kita tidak asing lagi mendengar kata ‘pikiran’. Setiap saat kita selalu berpikir dan menggunakan pikiran kita. Semua aktivitas yang kita lakukan didahului pikiran. Begitu pula di dalam ajaran Buddha, pikiran menempati urutan yang sangat penting. Berkali-kali Sang Buddha mengatakan bahwa pikiranlah yang mendahului dan menjadi penentu utama dalam setiap tindakan. Satu hal yang perlu ditanyakan ke dalam diri adalah apakah kita betul-betul memahami apa yang dimaksud dengan pikiran itu? Sebelum lebih lanjut membahas tentang pikiran benar, kita harus sepakat dengan pengertian pikiran itu sendiri. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pikiran diartikan sebagai:

  1. Hasil berpikir
  2. Ingatan
  3. Akal
  4. Angan-angan, gagasan
  5. Niat atau maksud

Jadi, ada lima pengertian pada kata ‘pikiran’ dalam Bahasa Indonesia. Sebelum menetapkan pengertian mana yang tercermin di dalam Pikiran Benar, kita perlu mengetahui makna Pikiran Benar itu sendiri. Pikiran benar berasal dari kata Samma Sankappa/ Sankappo (Pali) atau Samyak Samkalpa (Sansekerta). Kata samma/ samyak berarti benar (lihat buku Pandangan Benar oleh penulis yang sama) dan Sankappa/ samkalpa diterjemahkan sebagai Pikiran. Pikiran di sini berarti kehendak atau niat, atau pemikiran. Jadi pengertian no.5 dalam KBBI yang akan kita gunakan selanjutnya untuk arti kata ‘pikiran’, yaitu niat atau maksud atau kehendak.

Di beberapa bagian sutta (ucapan Buddha Gautama) dari Sutta Pitaka, dapat juga kita temui definisi pikiran benar yang sama dengan pengertian di SN 45.8 tersebut, seperti yang terdapat di MN 117.13 dan MN 141.25 (definisi di sini adalah definisi standar dari pikiran benar yang terdapat langsung dalam Sutta pitaka, Tipitaka Pali).

Pikiran benar adalah pemikiran yang telah menghancurkan keserakahan atau kemelekatan, kehendak yang terbebas dari niat jahat, dan kehendak untuk tidak merugikan atau menyakiti makhluk lain. (SN 45.8)

Jadi ada 3 ciri utama suatu pikiran dikatakan pikiran benar, yaitu:

  1. Pikiran tanpa kemelekatan/ keserakahan (nekkhammasankappa)
  2. Pikiran tanpa niat jahat/ kebencian (awyapadasankappa)
  3. Pikiran tanpa kekejaman (awihimsasankappa)

Sebelum membahas masing-masing bagian tersebut, kita akan melihat pentingnya pengembangan Pikiran Benar. Kemudian kaitan pikiran benar dan pandangan benar, serta kaitan pikiran benar dengan unsur lainnya dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, sehingga pemahaman terhadap pikiran benar menjadi lebih jelas.

========================================================

Pentingnya Pengembangan Pikiran Benar

Setelah mengetahui apa itu pikiran benar, pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah apakah pikiran benar itu berguna? Untuk apa mengembangkan pikiran benar? Sebelumnya, perhatikan kalimat berikut dan mari kita renungkan:

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu [ucapan,perbuatan], pikiran adalah pemimpin, segalanya [perbuatan,ucapan] diciptakan pikiran. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda kereta mengikuti  jejak kaki lembu yang menariknya. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh seseorang. (Dhammapada 1-2)

Dari pengalaman, kita pasti sepakat dengan kalimat tersebut. Segala yang kita lakukan, semuanya didahului oleh pikiran. Ketika kita menolong, sebelumnya pikiran kita pasti ada niat untuk menolong, mungkin didasari welas asih atau simpati. Sebaliknya ketika kita berbohong, pasti ada alasan dalam pikiran yang mendahului di balik kebohongan yang kita lakukan melalui ucapan. Mungkin rasa takut, benci atau keinginan serakah dalam diri.

========================================================

Kaitan Antara Pikiran Benar dengan Unsur-Unsur Lainnya

Di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, pikiran benar menempati urutan ke dua setelah pandangan benar. Pandangan benar dan pikiran benar juga digolongkan ke dalam satu kelompok, yakni Kelompok Kebijaksanaan. Mengapa demikian? Sebelumnya kita tahu bahwa pandangan benar menempati dasar dari Jalan Mulia Berunsur Delapan karena semua tindak tanduk kita, sadar atau tidak sadar, dipengaruhi oleh pandangan kita terhadap kehidupan ini. Bersama dengan pandangan, pikiran terwujud melalui ucapan atau tindakan.

Pikiran adalah hasil dari pandangan, namun pikiran juga mampu memengaruhi pandangan. Kecenderungan pikiran yang kuat akan mampu menembus ke dalam pandangan. Kecenderungan pikiran yang kuat adalah pikiran yang berulang-ulang dilakukan. Atau dengan kata lain, sesuatu yang sering kita pikir (disertai perenungan/ perhatian benar) berulang-ulang, akan memengaruhi cara pandang kita.

Buddha berkata, “Apa yang sering dipikirkan dan sering direnungkan, itulah yang akan menjadi kecenderungan pikirannya.” (MN 19.11)

Jika diumpamakan sebagai sebuah tali yang saling terjalin; pandangan benar adalah pusat tali yang dililit oleh pikiran benar dan 6 unsur lainnya (ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar). Lilitan tali pikiran benar sangat kuat terhadap pusat tali (pandangan benar). Jika lilitan pikiran benar tersebut semakin kuat, maka akan menyatu dengan pusat tali (pandangan benar). Dengan kata lain, semakin sering berpikir (berulang-ulang ada keinginan), kecenderungan pikiran akan menjadi kuat dan akhirnya melebur menjadi suatu pandangan. Contohnya adalah keinginan seseorang (pikirannya ingin) terhadap sesuatu. Hal tersebut akan mendorong pikirannya terus berpikir ingin dan ingin sehingga melebur menjadi bagian pandangan hidupnya, dan kemelekatan terhadap keinginan itu akan selalu ada dalam pikirannya baik ia sadari atau tidak.

Pikiran benar akan menentukan ucapan benar, perbuatan benar dan penghidupan benar. Sebaliknya, pikiran salah akan menentukan ucapan, perbuatan dan penghidupan yang salah. Pikiran yang membenci akan terwujud melalui ucapan yang kasar. Pikiran yang serakah akan mewujudkan penghidupan yang terus mengejar materi. Serta pikiran yang kejam menghasilkan perbuatan yang menyiksa, membunuh atau menganiaya kehidupan makhluk lain.

Pikiran benar didukung oleh upaya benar, perenungan (perhatian) benar, dan konsentrasi benar. Ketika perhatian/ perenungan terkendali, seseorang akan selalu menyadari gejolak emosi dalam dirinya sehingga perbuatan dan ucapannya akan terkendali. Begitu pula upaya benar dan konsentrasi benar akan membentuk pikiran agar tidak salah (ada upaya) dan kesadaran untuk menyadari akibat-akibat dari kehendak—seketika pada saat itu.

========================================================

Pikiran Benar dari Sisi Pasif & Aktif

“Pikiran layaknya sebuah pena yang akan menggores jejak baru atau sekedar menebalkan jejak lama dalam pandangan seseorang.”

Pikiran benar dapat kita tinjau dari dua sisi, yaitu sisi pasif dan aktif. Sisi pasif dari pikiran benar menganjurkan kita untuk menghindari hal-hal yang negatif dari pikiran agar mendukung sisi aktif pikiran benar. Sedangkan sisi aktif dari pikiran benar adalah aspek yang harus kita jalankan dan latih untuk menyempurnakan pikiran benar.

Yang dimaksud dengan pikiran benar dari sisi pasif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yakni:

1)      Tanpa kemelekatan/ keserakahan (nekkhama)

2)      Tanpa niat jahat/ kebencian (awyapada)

3)      Tanpa kekejaman (awihimsa)

Sedangkan yang dimaksud pikiran benar dari sisi aktif adalah pikiran yang memenuhi tiga ciri, yaitu:

1)      Melepas dengan memberi (dana)

2)      Cinta kasih (metta)

3)      Welas asih atau belas kasih (karuna)

SISI PASIF SISI AKTIF
Tanpa Kemelekatan (nekkhamma) Pemberian (dana)
Tanpa Kebencian (awyapada) Cinta Kasih (metta)
Tanpa Kekejaman (awihimsa) Welas Asih (karuna)

Ketiga sisi pasif dan aktif ini saling bertolak-belakang. Sisi positif lainnya dari pikiran benar yang dapat kita kembangkan adalah dengan pengembangan pikiran:

  • Kebahagiaan Simpati (mudita)
  • Ketenangseimbangan Batin (upekkha)
  • Memaafkan (khamanasila)
  • Keyakinan (saddha)

Cinta kasih, welas asih, simpati, dan ketenangseimbangan batin ini secara keseluruhan dinamakan sifat-sifat yang luhur (brahmawihara). Untuk menyempurnakan pikiran benar, semua sisi positif dari pikiran, baik yang pasif maupun aktif, harus kita kembangkan terus tanpa batas, sehingga pikiran tersebut akan menyatu dengan pandangan dan terwujudlah melalui tindakan nyata.

========================================================

Tanpa Kemelekatan/ Keserakahan (Nekkhamma)

Pengertian nekkhama adalah tidak serakah, tidak terikat, melepas, menghentikan, tidak melekat. Di dalam pandangan benar, salah satu penyempurnaan pandangan benar adalah dengan mengikis keserakahan (lobha) yang merupakan akar dari semua kekotoran batin/ pikiran. Pelatihan pikiran tanpa kemelekatan (nekkhamma) ini berguna untuk membentuk pikiran tanpa keserakahan yang berulang-ulang, sehingga akan membentuk pandangan yang menghancurkan keserakahan (lobha).

Ajaran Buddha mengajarkan pelepasan atau penghentian kemelekatan. Mengapa harus menekan kemelekatan kita? Kalau kita mau lebih menyadari kehidupan saat ini, setiap hari kita menjalani hidup dengan dorongan keserakahan. Setiap saat, sesuatu yang berada di luar kita selalu menggoda. Iklan-iklan di televisi menawarkan berbagai macam barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Kita selalu memuaskan diri dan memanjakan diri di dalam kemelekatan. Sadar atau tidak sadar, sifat serakah dalam diri semakin melekat dan sulit dihilangkan. Keserakahan kita-lah yang telah mengancam bumi dengan kerusakan lingkungan. Keserakahan juga yang membuat seseorang melakukan korupsi. Kita harus menyadari bahwa keserakahan adalah salah satu penyebab dari berbagai permasalahan di dunia.

Keserakahan terkadang kita samarkan sebagai kebutuhan. Kemelekatan terjadi karena pikiran senantiasa berusaha untuk menyamarkan keserakahan menjadi kebutuhan. Memang pada dasarnya kebutuhan juga mempunyai sifat ingin, karena bila tidak ingin bagaimana bisa didapat? Persoalannya adalah bagaimana kita membedakan antara keinginan yang melekat dengan keinginan untuk kebutuhan. Berbicara mengenai makan, jelas adalah kebutuhan. Jadi, keinginan makan untuk kebutuhan adalah wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan, namun kita perlu berhati-hati agar keinginan makan tidak menjadi keserakahan makan. Keserakahan makan biasanya terjadi ketika proses akan melakukan makan. Keinginan kita menjadi keserakahan tatkala hidangan yang tersaji lengkap dan banyak di depan mata. Keserakahan berwujud menjadi pengambilan makanan berlebih-lebihan. Sehingga yang terjadi adalah makanan sisa di piring atau selesai dengan perut kenyang.

Cara untuk menghentikan kemelekatan bukanlah dengan jalan menyiksa diri, memenuhi pikiran dengan rasa takut atau muak. Cara-cara seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah-hanya menekan masalah. Seperti memotong cabang-cabang dari suatu pohon yang akan kembali tumbuh ketika diberi pupuk (godaan). Yang diajarkan Sang Buddha adalah suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap pikiran sendiri sehingga kita dapat langsung mencabut sampai ke akar-akarnya. Sang Buddha mengajarkan agar kita mengubah cara pandang kita. Didukung dengan renungan mendalam, kita akan menyadari bahwa apa yang selama ini kita pertahankan, suatu saat akan berubah. Suatu saat kita akan mengalami kematian juga. Lalu buat apa kita berusaha mempertahankan keinginan yang tiada habis-habisnya dan terus melekat padanya?

Cara lain menekan kemelekatan adalah dengan menyadari bahwa dengan sesedikit mungkin keinginan (tidak serakah), kemelekatan kita akan semakin berkurang dan kita akan semakin dekat dengan kebahagiaan sejati atau kedamaian (nirwana). Kedamaian bukan terletak di luar diri, namun pada pikiran dan perasaan sendiri. Kedamaian bukan didapat dengan memuaskan diri terus-menerus. Kedamaian akan didapat jika tidak ada rasa khawatir, takut maupun benci. Oleh karena itu, semakin sedikit keinginan semakin sedikit pula rasa khawatir atau takut untuk kehilangan karena pikiran tak melekat.

========================================================

Melepas dengan Memberi (Dana)

“Sekalipun dana yang diberikan sangat kecil, ketulusan akan membuatnya menjadi besar”

Sisi aktif dari pikiran tanpa kemelekatan adalah dengan pikiran yang melepas. Wujud dari pikiran yang melepas adalah dengan melaksanakannya secara nyata dalam bentuk memberi (dana). Landasan dasar yang paling penting bagi pengembangan spiritual adalah berdana atau pemberian. Di dalam Kitab Tipitaka Pali, berdana merupakan unsur pertama dari tiga dasar tindakan bermanfaat/punnyakiriyawatthu (AN IV, 241), unsur pertama dari empat sarana yang memberikan manfaat bagi makhluk lain/sangaha-watthu (AN II, 32), dan sebagai unsur pertama dari sepuluh parami atau kesempurnaan (Teks Komentar Cariyapitaka).

Dengan berdana (mengembangkan kedermawanan), kita dapat melemahkan keserakahan (lobha) dan kebencian (dosa), serta mendorong keuletan pikiran yang memungkinkan hancurnya kegelapan batin (moha). Hingga akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan sejati, nirwana. Walaupun merupakan salah satu dasar bagi pengembangan spiritual, berdana tetap akan menjadi bagian hidup dari seseorang, yang bahkan telah mencapai pencerahan tertinggi seperti seorang Buddha. Beliau melakukan dana ketika berceramah melalui ucapan.

Bentuk dana secara umum dapat dikategorikan menjadi dua jenis:

  1. Dana berwujud; antara lain dana materi seperti memberikan bantuan makanan kepada fakir miskin, memberi sedekah kepada pengemis, donor darah, melakukan donor mata atau organ tubuh, memberikan makanan kepada binatang liar, dan lain sebagainya.
  2. Dana tidak berwujud; seperti dana waktu, tenaga, dan pikiran seperti ketika menyisihkan waktu menjenguk teman atau tetangga yang sakit, membantu dalam organisasi sosial seperti bersih-bersih di wihara atau jalan di depan rumah, memberikan nasihat kepada anak-anak. Bentuk lain dari dana ini adalah dana pengetahuan atau pendidikan, dana atau memberi rasa nyaman kepada orang lain melalui senyuman atau membuat orang menjadi semangat dan lebih percaya diri. Dana dalam bentuk pemberian Dharma juga termasuk dana tidak berwujud yang dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan kebenaran, pengertian dan pemahaman benar yang merupakan jalan menuju pencerahan.

Dalam berdana, kita perlu memerhatikan beberapa faktor yang menentukan kualitas dari dana yang kita lakukan. Kualitas tersebut akan diurutkan dari yang paling penting. Faktor tersebut antara lain:

  1. Tingkat ketulusan; semakin tulus kita dalam berdana, keserakahan dan kemelekatan akan semakin terkikis. Berdana tanpa mengharapkan apapun untuk diri sendiri adalah yang terbaik.
  2. Tujuan dana; tujuan untuk mengakhiri penderitaan orang lain lebih mulia daripada untuk kebahagiaan orang lain.
  3. Ketepatan dana; semakin membutuhkan orang yang diberi dana atau tepat sasaran sesuai dengan dananya akan semakin baik.
  4. Penerima dana; semakin banyak penerima dana dan semakin luhur si penerima dana akan lebih bermanfaat.
  5. Cara berdana; cara berdana yang membuat orang semakin luhur atau mengilhami orang untuk berbuat baik akan lebih berguna daripada cara berdana yang membuat orang lain atau penerima dana berasumsi kurang baik.

Perlu kita ketahui bahwa ketika berdana, yang paling utama tentunya adalah ketulusan kita, terlepas dari tepat sasaran atau cara berdana yang kurang tepat. Tentunya akan lebih baik lagi tatkala dana yang kita berikan secara tulus memang dengan tujuan yang baik dan tepat sasaran daripada tulus namun kurang tepat sasaran.

========================================================

Tanpa Kebencian (Awyapada)

“Kebencian, dendam, kemarahan dan perang tidak akan berakhir jika dibalas dengan cara yang sama. Hal tersebut hanya akan menimbulkan penderitaan bagi semua pihak.”

Sampai saat ini perang masih berkecamuk di belahan dunia lain, sementara di banyak tempat di seluruh dunia selalu ada kejahatan-pembunuhan, yang terjadi. Jika kita lebih dalam menganalisanya, pada akhirnya kita akan sepakat bahwa kejahatan maupun perang yang terjadi selama ini salah satunya bersumber dari kebencian, selain ketamakan. Dibanding dengan ketamakan, kebencian lebih mudah diamati. Kemarahan adalah salah satu wujud halus kebencian (dosa). Kebencian (dosa) sendiri meliputi ketidaksukaan yang halus atau ketidaksenangan terhadap seseorang sampai kebencian yang mendalam.

Wyapada artinya berbuat jahat, dan mengandung makna membenci. Bentuk kebencian sangat dekat dan terikat kuat dengan kemelekatan atau keserakahan. Dalam kehidupan sehari-hari, bentuk membenci atau adanya keinginan jahat biasanya karena kita tidak mendapatkan sesuatu. Pada anak kecil, hal tersebut mudah sekali terlihat. Anak yang marah ataupun anak yang merajuk ketika tidak mendapatkan mainan dapat kita lihat secara langsung; namun pada orang dewasa, kebencian dalam pikiran disembunyikan dan terkadang tanpa sadar bertumpuk. Tumpukan kebencian yang terus-menerus dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Wujud Kebencian mudah kita deteksi. Kemarahan adalah salah satu bentuknya. Emosi dalam wujud marah terjadi karena ada rasa tidak suka terhadap sesuatu di dalam pikirannya. Contohnya adalah seseorang yang marah kepada temannya karena ia merasa tersinggung. Artinya ada rasa ‘tidak suka’ terhadap sesuatu. Ketidaksukaan yang seperti ini, walaupun keesokan harinya sudah tidak marah, tetap merupakan wujud halus dari kebencian/ penolakan. Memang dengan mengontrol pikiran, rasa tidak suka yang halus seperti ini dapat dihilangkan, namun ada juga orang yang akhirnya semakin tenggelam dalam ketidaksukaan halus tersebut. Lama kelamaan timbullah kebencian terhadap orang yang membuatnya marah. Disinilah letak penting ajaran Buddha yang mengajarkan agar setiap orang dapat mengontrol pikirannya, sehingga pemikiran-pemikiran tidak suka tersebut tidak bertumpuk menjadi kebencian, apalagi sampai menjadi dendam sedalam lautan.

Satu contoh rasa tidak suka yang halus yang juga merupakan bagian dari ‘kebencian’—namun ada sedikit perbedaan—adalah kemarahan orang tua terhadap anaknya. Memang pada dasarnya bersifat sama, yaitu adanya ketidaksukaan dan ada rasa penolakan-penolakan orang tua terhadap tindakan anaknya atau sesuatu yang dilakukan anaknya. Namun, biasanya pada kasus ini, rasa penolakan atau ketidaksukaan halus pikiran tersebut akan segera dilenyapkan atau dihancurkan oleh perasaan/ pikiran cinta kasih dan welas asih orang tua terhadap anaknya. Jadi inilah alasan kenapa kita perlu mengembangkan sisi aktif pikiran tanpa membenci yaitu cinta kasih kepada semua makhluk—sangat dijunjung tinggi dalam ajaran Buddha. Ketika kita mengucapkan kata, “Semoga semua makhluk hidup berbahagia”, secara tidak langsung kita membentuk pikiran yang melawan sisi kebencian yang seringkali kita tanam dalam diri, walaupun ada sebagian yang menganggapnya sepele.

========================================================

Cinta Kasih Universal (Metta)

“Cinta kasih yang membuat dunia ini menjadi indah. Cinta kasih yang memadamkan api kebencian di dalam diri. Cinta kasih jugalah yang membuat hati menjadi bahagia dan nyaman.”

Ketika kita mencoba menghilangkan kebencian dalam pikiran, cara tersebut tak lain adalah dengan melakukan pengembangan pikiran cinta kasih tanpa batas. Ketika membicarakan tentang pikiran cinta kasih, sangat kurang apabila perasaan cinta tersebut tidak terwujud menjadi tindakan nyata, baik melalui ucapan maupun tindakan. Kita mengharapkan orang lain bahagia melalui pikiran, namun kenyataan tetap tidak berubah. Pikiran cinta kasih hanya untuk membentuk mental kita dan melatih pengembangan spiritual. Kita perlu lebih mengembangkan dalam kenyataan yang diwujudkan dalam tindakan atau ucapan, sehingga lebih bermakna bagi orang lain dan membekas lebih dalam di pikiran.

Cinta kasih (metta atau maitri) diturunkan dari kata sahabat (mitra) yang bermakna perasaan cinta kasih terhadap seseorang yang sangat dekat dengan kita layaknya sahabat. Cinta kasih bukan cinta nafsu seperti seorang pria terhadap wanita. Cinta yang dimaksud adalah cinta kasih yang tanpa batasan terhadap siapapun. Cinta kasih menembus ruang dan waktu menghangatkan setiap makhluk hidup.

Pentingnya cinta kasih dalam ajaran Buddha dapat kita temukan di dalam Kitab Sutta Pitaka. Di dalam AN I, iv, 3-5 dikatakan bahwa walaupun seseorang mengembangkan cinta kasih di dalam pikirannya walaupun hanya sesaat, tidak sia-sialah orang tersebut bermeditasi dan mengikuti ajaran dan nasihat Sang Buddha. Kemudian dikatakan lebih lanjut bahwa betapa lebih besar cinta kasih tersebut jika dikembangkan. Contoh nyata orang yang melaksanakan pengembangan cinta kasih adalah Sang Buddha. Di dalam AN VII, 58 dikatakan oleh Sang Buddha sendiri bahwa beliau telah mengembangkan pikiran-pikiran cinta kasih selama tujuh tahun dan hal tersebut membawanya semakin dekat dengan pencerahan tertinggi.

Bentuk ekspresi cinta kasih salah satunya terwujud melalui tindakan memberi. Contoh bentuk cinta kasih adalah seperti mengunjungi orang sakit, memberi materi (dana) dan berharap semoga bermanfaat bagi si penerima, menawarkan tugas membantu teman, menyemangati teman serta mendengar keluh kesah orang lain, dan berusaha membantu. Bentuk cinta kasih yang lain seperti cinta terhadap lingkungan seperti yang terdapat di dalam SN III, 45-6 di mana Sang Buddha menyarankan agar kita menanam pepohonan di pinggir jalan besar.

========================================================

Tanpa Kekejaman (Awihimsa)

Kekejaman (wihimsa) adalah suatu keinginan jahat yang mengharapkan penderitaan atau kesakitan bagi makhluk lain atau merasa senang atas penderitaan makhluk lain. Kekejaman lebih mengerikan daripada kebencian. Jika pikiran benci ditujukan bagi pikiran sendiri agar adanya rasa penolakan, ketidaksukaan maupun kebencian terhadap orang lain, maka lain halnya dengan pikiran kejam. Pikiran kejam berbentuk pikiran yang disertai kebencian dan keinginan untuk membuat pihak lain secara nyata menjadi menderita.

Pikiran kejam adalah suatu bentuk pikiran untuk merugikan, menghancurkan dan membuat penderitaan bagi suatu makhluk atau suatu objek. Bentuk kekejaman dapat disertai dengan kebencian ataupun tidak. Contoh bentuk kekejaman yang disertai kebencian (ketidaksukaan) adalah penyiksaan terhadap pembantu rumah. Contoh kekejaman tanpa kebencian adalah penyiksaan hewan hanya demi kesenangan. Kekejaman disertai kebencian biasanya lebih buruk daripada kekejaman tanpa kebencian. Namun, kekejaman tanpa kebencian bisa juga jadi lebih mengerikan daripada kekejaman dengan kebencian karena terkadang seseorang tanpa sadar menikmati kekejaman yang ia lakukan, sehingga efek selanjutnya adalah sifat kejamnya semakin menjadi-jadi, dan akhirnya menjadi semakin terbiasa dengan kekejamannya, karena menganggap hal tersebut tidak salah. Contohnya adalah pembunuhan terhadap hewan oleh anak kecil. Anak-anak kecil tersebut memang terkadang tidak sadar telah melakukan kekejaman dan menikmati kesenangan dari hewan yang sedang menjerit. Namun, jangan menganggapnya sepele karena jika tidak, benih kekejaman telah tumbuh di dalam diri mereka. Terkadang kesenangan dari menyakiti atau membunuh hewan akan membuat seseorang membenarkan perilakunya dengan segala alasan karena dianggap bukan kejahatan.

“Mengabaikan penderitaan makhluk hidup di depan mata adalah bentuk kekejaman yang halus. Ucapan yang kasar adalah bentuk kekejaman yang buruk. Memfitnah adalah bentuk kekejaman yang sangat buruk. Kesenangan menyakiti adalah bentuk kekejaman yang paling buruk.”

Kekejaman bukan hanya terwujud melalui tindakan, namun bisa melalui ucapan. Kekerasan juga merupakan bentuk kekejaman. Olah raga yang berdarah atau film yang memperlihatkan bentuk kekejaman bisa memengaruhi dan mengembangkan benih-benih kekejaman dalam diri, sehingga sangat disarankan untuk mengembangkan rasa kasihan ketika melihat ada adegan keras atau kejam.

========================================================

Welas Asih (Karuna)

Pikiran tanpa kekejaman akan semakin jelas ketika pikiran ditujukan untuk mengembangkan welas asih. Seperti yang kita ketahui bahwa semua tradisi Buddhis sepakat bahwa ajaran Buddha dibangun oleh dua hal yang paling mendasar, yaitu kebijaksanaan dan welas asih sebagai tiang yang menopang sekaligus penyeimbang. Kebijaksanaan tanpa welas asih bagaikan seorang anak yang memiliki ayah tanpa seorang ibu. Sebaliknya welas asih tanpa kebijaksanaan bagaikan memiliki ibu tanpa ayah.

Jika diumpamakan cinta kasih universal (metta) seperti cinta kasih seseorang terhadap sahabatnya, maka perumpamaan welas asih seperti cinta seorang ibu kepada anaknya. Cinta seorang ibu kepada anaknya lebih dalam dan lebih penting, seperti itu pula welas asih merupakan inti dari cinta kasih. Jika seseorang mengembangkan welas asih, otomatis cinta kasihnya juga akan tumbuh, namun dengan mengembangkan cinta kasih belum tentu welas asih akan tumbuh. Kesempurnaan cinta kasih berarti kesempurnaan welas asih dan kesempurnaan kebijaksanaan serta kesempurnaan unsur positif lainnya.

Pentingnya welas asih dalam ajaran Buddha dapat kita temukan di dalam Tipitaka Pali. Di dalam DN III, 187 dikatakan bahwa seseorang yang berwelas asih bahkan sanggup mengorbankan dirinya demi orang lain. Di dalam DN I, 40 dikatakan bahwa kita seharusnya menghindari keinginan membunuh (termasuk keinginan menyakiti atau pikiran kejam), menjauhi tindakan membunuh (termasuk tindakan menyakiti atau perbuatan kejam), melepaskan tombak dan pedang (melepaskan kebencian dan kekejaman), kemudian melatih diri hidup dengan penuh pertimbangan dan perenungan, kebaikan serta welas asih demi kebahagiaan semua makhluk. Sang Buddha juga menyarankan agar memberikan tempat penampungan untuk para gelandangan (SN III, 45-6).

Ekspresi welas asih dapat terwujud melalui pemberian (dana), seperti rasa kasihan kemudian memberi sedekah kepada pengemis. Merawat orang sakit juga merupakan contoh welas asih, seperti yang dilakukan sendiri oleh Sang Buddha. Di dalam AN III, 378 dikatakan bahwa Sang Buddha mengunjungi dan menghibur orang sakit karena welas asih Beliau. Di Vinaya IV, 301 Beliau mempertegas pentingnya welas asih dengan berkata, “Ia yang merawatku adalah ia yang merawat orang sakit”. Sang Buddha juga karena welas asihnya menaklukkan Angulimala (A II, 98), mengajarkan Dharma karena welas asih (A III, 167). Lebih tinggi lagi yang menunjukkan pentingnya welas asih adalah ketika Sang Buddha mengatakan bahwa alasan keberadaannya adalah untuk kebaikan orang lain, untuk kebahagiaan orang banyak, karena welas asihnya bagi dunia, untuk kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan manusia (A II, 146).

“Jika pengembangan welas asih dilakukan terus-menerus, maka kualitas kebajikan, kebijaksanaan ataupun kualitas spiritual lainnya, bahkan pencerahan itu sendiri akan mengikuti.”

Cara untuk mengembangkan welas asih adalah dengan perenungan setiap saat. Bisa dilakukan dengan memikirkan orang yang sedang menderita, seperti para korban perang atau orang-orang yang sedang kelaparan. Lebih tinggi lagi, welas asih dikembangkan terhadap setiap orang di dunia ini yang terus-menerus mengalami penderitaan karena diliputi perubahan.

========================================================

Sisi Positif Lainnya

“Kembangkanlah pikiran-pikiran positif lainnya seperti kebahagiaan simpati, ketenangseimbangan batin serta memaafkan.”

Sisi positif lainnya dari pikiran benar yang dapat dikembangkan adalah:

  1. Kebahagiaan Simpati (Mudita)
  2. Ketenangseimbangan Batin (Upekkha)
  3. Memaafkan (Khamanasila)

Kebahagiaan simpati adalah suatu perasaan dan pikiran yang ikut berbahagia ketika ada pihak luar yang berbahagia. Pengembangan mental ini diarahkan untuk menekan rasa iri hati kita. Seringkali ketika ada orang lain yang mendapatkan apa yang tidak kita dapatkan, yang timbul dalam perasaan kita adalah rasa iri hati. Dengan kebahagiaan simpati ini, ketika terjadi hal demikian, cobalah melatih diri untuk berpikir bahwa mungkin lebih layak orang tersebut untuk mendapatkannya karena usaha yang lebih keras dan diri ini ikut bergembira.

Ketenangseimbangan batin adalah suatu keadaan pikiran di mana pikiran berusaha untuk selalu sadar sehingga perasaan tidak jatuh ke keadaan menikmati kesenangan secara berlebihan dan menolak/ menghindari keadaan yang tidak menyenangkan. Dengan ketenangseimbangan batin, pikiran akan terkendali sehingga hal-hal positif yang seharusnya dikembangkan pikiran menjadi mudah dilaksanakan. Dengan ketenangseimbangan, cinta kasih, welas asih dan kebahagiaan simpati lebih mudah dikembangkan di dalam pikiran. Ketika sedang menderita, orang yang batinnya tenang-seimbang akan menerima dan menyadari bahwa penderitaan akan berubah juga menjadi kebahagiaan. Sebaliknya ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, batin juga akan dikendalikan sehingga tidak serakah dan jatuh ke dalam perasaan menyenangkan yang berlebihan.

Memaafkan adalah suatu pikiran untuk melepas dari kebencian. Jadi dengan usaha memaafkan, kita akan membentuk pikiran yang tidak melekat pada kebencian ataupun dendam. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mencoba menempatkan kondisi diri sendiri menjadi orang tersebut. Cobalah berpikir bahwa mungkin saja orang tersebut tanpa sengaja melukai kita atau ada alasan yang membuatnya terpaksa. Dengan memaafkan, cinta kasih kita akan semakin lebar dan kuat.

Keyakinan (Saddha)

Keyakinan menguatkan tekad kita sehingga pengembangan pikiran benar menjadi lebih terarah dan ada acuannya. Keyakinan membentuk pikiran benar dengan pengembangan ke dalam diri; berbeda dengan cinta kasih, welas asih dan berdana yang melibatkan objek lain.

Dalam ajaran Buddha, keyakinan diarahkan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha. Perlu diketahui bahwa keyakinan terhadap Buddha, Dharma maupun Sangha bukanlah keyakinan terhadap bentuk objeknya, seperti patung, kitab suci, atau biksu. Namun, keyakinan yang benar adalah keyakinan terhadap makna di balik simbol tersebut, seperti keyakinan terhadap Buddha mewakili keyakinan terhadap seorang guru (Buddha) yang perlu diteladani. Beliau mencontohkan bagaimana perilaku-perilaku yang baik, ucapan yang bermanfaat dan pikiran yang positif. Keyakinan terhadap Dharma juga bukanlah keyakinan buta terhadap ajaran yang tertulis di dalam kitab suci. Keyakinan terhadap Dharma adalah keyakinan terhadap ajaran Buddha yang diwujudkan melalui praktik nyata dan langsung. Keyakinan terhadap Sangha mewakili keyakinan terhadap kemampuan setiap orang untuk mencapai tahap pencerahan seperti Buddha. Keyakinan terhadap Sangha juga mempunyai makna bahwa kita perlu menyebarkan kebenaran kepada orang lain agar berada di dalam jalan pelatihan spiritual.

Ada 2 ciri keyakinan dalam buddhis, yaitu:

  1. Membuka pandangan; meliputi keterbukaan dan keingintahuan
  2. Praktik; meliputi ritual (puja) dan pelaksanaan moralitas (sila) yang benar

Membuka pandangan adalah ciri yang membedakan keyakinan dalam Buddhis dengan yang lain. Umat Buddha berkeyakinan dengan mendasarkan pikiran yang terbuka terhadap ajaran lain. Bila tidak disertai dengan keterbukaan, keyakinan dalam agama Buddha akan sama dengan agama lain. Membuka pandangan dengan kebijaksanaan akan menghindari kefanatikan umat Buddha. Keyakinan menghindari kebijaksanaan berkembang menjadi skeptisme berlebihan yang bersumber dari ego. Jadi, dalam keyakinan dibutuhkan suatu pandangan benar yang sejalan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Pandangan benar yang akhirnya akan membuka wawasan kebijaksanaan yang murni dan tidak ternoda, yang akan membawa kepada pencerahan sejati.

Praktik adalah bentuk keyakinan dalam buddhis. Praktik berdasar keyakinan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Bentuknya adalah implementasi ajaran Buddha dalam perbuatan, ucapan dan pikiran yang benar. Moralitas dilaksanakan sebagai wujud keyakinan. Selain itu, praktis keyakinan bisa diwujudkan melalui ritual (puja). Tentunya ritual yang dilaksanakan dilakukan dengan pemahaman yang benar. Ritual dapat meningkatkan keyakinan, namun jangan menjadi ikatan dan salah pengertian. Ritual yang baik adalah perenungan terhadap perbuatan yang dilakukan selama ini dan pengembangan pikiran penuh cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan.

========================================================

Daftar Pustaka

Kitab Suci

Kitab Suci Agama Buddha. 2002. Dhammapada. Jakarta: Penerbit Yayasan Dhammadipa Arama.

Kitab Suci Agama Buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab Suci Agama Buddha. 2007. Majjhima Nikaya 6. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab Suci Agama Buddha. 2007. Majjhima Nikaya 7. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab Suci Agama Buddha. 2001. Petikan Anguttara Nikaya 1. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan DHAMMAGUNA.

Kitab Suci Agama Buddha. 2002. Petikan Anguttara Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Buku Umum

Bodhi, Bhikkhu. 2006. Jalan Kebahagiaan Sejati. Jakarta: Karaniya.

Bodhi, Bhikkhu dkk. 2005. Mengapa Berdana, Petunjuk untuk Berdana dengan Pengertian Benar. Surabaya: Penerbit Paramita.

Chia, Vajiro (Richard). 2004. Panduan Kursus Dasar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production.

Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.

Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Karaniya.

Tim Redaksi. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Vajirananavarorasa, H. R. H. The Late Patriarch Prince. 2002. Dhamma Vibhaga, Penggolongan Dhamma. Yogyakarta: Vidyasena Vihara Vidyaloka.

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

Sumber Situs
http://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca4/samma-sankappo/index.html Offline edition. Revised: Tuesday 2007-08-14.

Januari 14, 2010

PANDANGAN BENAR

Buku Saku Pandangan Benar

PANDANGAN BENAR

Penulis                : Willy Yandi Wijaya

Penerbit             : Insight Vidyasena Production

Tahun Terbit : Cetakan Pertama, Februari 2008

=======================================================

Kupersembahkan buku kecil ini untuk:

Ibu yang tanpa lelah memberikan cahaya cinta tanpa batas

Ayah yang mendidik dan mendorong kebijaksanaan

dan

Semua makhluk hidup sebagai saudara-saudaraku

Semoga semuanya selalu berbahagia

dan

hidup dalam welas asih

=======================================================

Kata pengantar

Ajaran Buddha sangat luas. Seandainya Anda betul-betul mau mengetahui seluruh ajaran Buddha, Anda harus membaca semua isi kitab Tipitaka Pali yang terdiri dari sekitar 21 jilid buku masing-masing mempunyai ketebalan sekitar 5cm. Belum lagi komentar-komentar Tipitaka Pali dan Tripitaka Sansekerta dalam bahasa mandarin. Saat ini telah ada dalam Bahasa Inggris terjemahan Tipitaka Pali, sedangkan dalam Bahasa Indonesia baru sebagian kecil yang ada. Jadi kesulitan Anda yang kedua jika ingin mempelajari seluruh ajaran Buddha adalah faktor bahasa. Walaupun Anda membaca seluruh isi Tipitaka baik Pali maupun Sansekerta, Anda akan menemukan bahwa inti yang diajarkan oleh Buddha terangkum dalam Empat Kebenaran Mulia dan segi praktisnya adalah melaksankan sesuai dengan Jalan Mulai Berunsur Delapan.

Mengetahui akan betapa pentingnya Jalan Mulia Berunsur Delapan, Penulis mencoba mempelajari dan mendalami ajaran Buddha serta merangkumnya menjadi buku kecil ini. Di dalam buku ini, Penulis membahas tentang Pandangan Benar sesuai dengan urutan pertama di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. Unsur lainnya dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan akan dibahas tersendiri masing-masing di kesempatan lain—buku selanjutnya.

Penulis sangat berterima kasih kepada Vidyasena Production sehingga memberikan kesempatan untuk, berdana Dhamma, berbagi pengetahuan ajaran Buddha, khususnya kepada Sdr. Andi Suwito selaku manajer produksi buku dan Sdr. Seng Hansun selaku direktur Vidyasena Production. Tak lupa Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Vidyasena yang mendorong terbitnya buku saku ini.

Penulis sendiri mendapatkan banyak wawasan selama proses penulisan buku ini karena banyak mempelajari dan mendalami ajaran Buddha sehingga Penulis juga berharap pandangan Anda terhadap kehidupan ini menjadi lebih terbuka takkala Anda membaca buku ini. Tanpa para pambaca, buku ini menjadi tidak bermanfaat dan buku ini menjadi sangat berguna ketika dipraktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pahami buku ini dan sadari setiap saat sesuai dengan Pandangan Benar, maka hidup akan menjadi lebih indah dan damai.

Akhir kata, Penulis sangat mengharapkan masukkan, saran maupun kritikan terhadap isi buku ini sehingga mendorong Penulis memperbaikinya di buku-buku selanjutnya di masa mendatang. Masukkan, saran ataupun kritikan dapat disampaikan kepada Penulis melalui email ke willyyandi@gmail.com atau sms ke 08995101616. Saran, masukkan maupun kritikan akan menjadi pendorong bagi Penulis di masa mendatang.

Terima kasih.

Salam,

Willy Yandi Wijaya

========================================================

Pendahuluan

Satu-satunya jalan yang diajarkan oleh Buddha untuk mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan menjalankan kehidupan sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Seseorang yang sedang menempuh kehidupan selaras dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan—apapun agamanya— kebahagiaan sejati akan dapat ia alami saat ini juga. Kebahagiaan sejati menurut ajaran Buddha hanya dapat dicapai ketika seseorang melenyapkan kebencian, keserakahan (kemelekatan) dan kebodohan-batin sampai ke akar-akarnya. Kebahagiaan sejati dalam ajaran Buddha dikenal sebagai Nibbana atau Nirvana (baca: nirwana).

Jalan Mulia Berunsur Delapan ditemukan oleh Buddha Gotama sekitar 2500 tahun yang lalu sebagai sebuah jalan yang mempunyai 8 unsur di dalamnya (cullavedala sutta, MN 44.9). Jalan ini harus dilihat sebagai sebuah jalan di mana di dalamnya terdapat 8 unsur atau cara yang saling melengkapi. Delapan unsur tersebut adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ketika salah satu unsur telah sempurna dijalankan, sebenarnya unsur lainnya juga telah sempurna. Masing-masing unsur saling mendorong dan mendukung sehingga dapat mengantarkan seseorang menuju kehidupan bahagia.

Delapan unsur yang merupakan satu kesatuan tersebut antara lain (MN 44.9):

  1. Pandangan benar  (samma ditthi)
  2. Pikiran benar atau Niat benar  (samma sankappa)
  3. Ucapan benar  (samma vaca)
  4. Perbuatan benar atau tindakan benar  (samma kammanta)
  5. Mata pencaharian benar atau penghidupan benar (samma ajiva)
  6. Daya upaya benar atau usaha benar (samma vayama)
  7. Perhatian benar atau kewaspadaan benar (samma sati)
  8. Konsentrasi benar (samma samadhi)

Buku ini hanya membahas pandangan benar. Unsur lainnya di dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan akan dibahas di buku selanjutnya. Pandangan Benar yang dibahas di sini sesuai dengan Tipitaka Pali, terutama Sutta Pitaka karena di dalam Sutta Pitaka itulah semua ucapan Buddha Gotama tertulis. Di buku ini Majjhima Nikaya disingkat MN. Pandangan benar sebagai sebuah cara pandang terhadap kehidupan ini memegang peranan yang sangat penting. Seseorang yang pandangannya benar akan menjalani hidup ini dengan bahagia. Sebaliknya seseorang yang memiliki pandangan yang salah, akan menjalani kehidupan ini dengan penderitaan atau kebahagiaan semu.

=======================================================

Pandangan benar

Definisi Pandangan Benar

Langkah awal dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan adalah samma ditthi (pandangan benar). Ada yang menerjemahkan sebagai pengertian benar. Bahasa Palinya adalah samma-ditthi atau dalam bahasa Sansekerta disebut samyak drsti. Kata samma (samyak) berarti ‘tepat’, ‘semua’, ‘menyeluruh’, ‘sempurna’, ‘lengkap’, ‘integral’; sedangkan ditthi (drsti) berasal dari kata ‘melihat’ dan mempunyai arti ‘penglihatan’, ‘wawasan’, ‘pandangan’. Menurut Ven. Sangharakshita, samma bukan sekedar berarti ‘benar’ dalam artian biasa sebagai lawan salah. Lebih lanjut menurut Sangharakshita, kata ‘pengertian’ kurang tepat digunakan sebagai terjemahan ditthi karena ditthi bukan hanya sebagai pengertian teoritis, abstrak atau intelektual. Menurut beliau yang lebih tepat sebagai padanan kata ditthi adalah pandangan dan samma menjadi sempurna, sehingga samma ditthi diterjemahkan sebagai pandangan sempurna.

Tentunya makna bahasa tersebut dalam bahasa Inggris. Ketika penerjemahan sebuah bahasa terjadi, bisa saja membuat pergeseran makna terjadi karena bahasa selalu berkembang dan terus mengalami pergeseran makna sesuai dengan sosial budaya masyarakat.

Terlepas dari permasalahan terjemahan bahasa, yang paling penting adalah suatu pemahaman mengenai samma ditthi tersebut. Kata ‘pengertian benar’ dari sudut pandang bahasa Indonesia sebenarnya cukup mewakili arti samma ditthi. Namun, untuk selanjutnya, samma ditthi di sini diterjemahkan sebagai ‘pandangan benar’ karena lebih umum digunakan asalkan dimengerti apa yang dimaksud dengan samma ditthi.

Pandangan benar adalah pengetahuan atau pemahaman mengenai dukkha, sebab dukkha, penghentian dukkha serta jalan menuju penghentian dukkha (Digha Nikaya 22).

Dukkha dapat dipahami sebagai penderitaan karena kemelekatan atau ketidakpuasan karena perubahan. Dengan kata lain pandangan benar adalah suatu pandangan mengenai hakikat kehidupan atau pemahaman terhadap kenyataan dari segala sesuatu. Di sinilah letak pentingnya pandangan benar dan kita akan mengerti mengapa pandangan benar dijelaskan oleh Buddha berada di urutan pertama dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Pandangan Benar sebagai dasar

Pandangan Benar perlu dipahami sebagai suatu pemahaman yang mendalam terhadap segala sesuatu bukan secara intelektual saja, namun juga telah menyatu dalam diri sebagai suatu cara hidup sehingga pandangan benar akan terwujud ketika pikiran atau kehendak, perbuatan dan ucapan seseorang benar. Pandangan benar yang betul-betul terlatih sempurna dengan dukungan unsur-unsur lainnya itulah yang disebut kebijaksanaan sejati. Ketika pandangan benar telah sempurna dialami maka unsur lainnya juga secara otomatis telah sempurna dijalankan karena semuanya adalah bagian dari satu jalan menuju kebahagiaan sejati, nibbana. Jadi sebelum suatu tindakan dilakukan, seseorang harus mempunyai pandangan atau pengertian terhadap tindakan yang akan dilakukannya. Sehingga ia tahu mana tindakan yang merugikan dan mana tindakan yang mendatangkan kebahagiaan. Itulah alasan mengapa Pandangan Benar berada di urutan pertama dan sebagai dasar yang menopang Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Akibat dari Pandangan Salah dan Pandangan Benar

Di dalam Anguttara Nikaya 10.103 disebutkan bahwa pandangan yang salah akan berakibat pikiran salah. Pikiran salah akan berakibat ucapan salah. Di dalam ucapan salah ada perbuatan salah. Di dalam perbuatan salah juga terkandung Mata pencaharian yang salah. Dan seterusnya akan mengkondisikan daya upaya, perhatian dan konsentrasi menjadi salah. Sehingga pada akhirnya akan mengakibatkan ketidakbahagiaan pada seseorang.

Sebaliknya juga dijelaskan di dalam Anguttara Nikaya 10.104 bahwa pandangan benar mengkondisikan pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Ketika pandangan benar muncul, maka niat dalam pikiran akan murni dan baik sehingga perbuatan dan ucapan akan menjadi baik. Begitu pula daya upaya, perhatian dan konsentrasi seseorang akan mudah terlatih karena mempunyai pandangan benar. Sehingga ketika kedelapan unsur tersebut dapat dijalankan dengan baik maka kehidupan akan menjadi tenang, damai, dan bahagia. Latihan yang terus-menerus dengan pemahaman terhadap pandangan benar secara sempurna pada akhirnya akan membawa kebahagiaan sejati atau nibbana pada kehidupan ini juga.

Memahami Pandangan Benar

Kita telah mengetahui akibat dari pandangan benar dan pandangan salah. Sehingga hal selanjutnya adalah mengerti apa itu pandangan benar. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pandangan benar adalah memahami realitas hidup seperti apa adanya. Lalu bagaimana realitas kehidupan atau kenyataan dari segala sesuatunya itu? Di sinilah letak penting ajaran Buddha yang menarik banyak orang. Buddha Gotama mengajarkan hakikat kehidupan layaknya seorang ilmuwan yang mengajarkan ilmu-ilmu sains, seperti matematika dan fisika. Namun, Buddha mengajarkan sesuatu yang lebih mengarah ke masalah sosial. Beliau menyadari bahwa semua hal yang terjadi dalam masyarakat sosial akibat dimulai dari diri sendiri. Sehingga Buddha mengajarkan dan berharap bahwa setiap orang melatih dirinya masing-masing dahulu untuk selanjutnya akan menciptakan lingkungan masyarakat yang damai. Untuk memulai melatih diri sendiri itulah, seseorang memerlukan pandangan yang benar sebagai dasar.

Syarat untuk melatih dan mengembangkan pandangan benar adalah memahami :

  1. Yang bajik dan yang tak-bajik (kusala dan akusala)
  2. Empat kebenaran Mulia (cattari ariya saccani atau catvari arya satyani (Sansekerta))
  3. Tiga corak umum (Tilakkhana atau Trilaksana (Sanskerta))
  4. Kesalingterkaitan antar segala sesuatu
  5. Kotoran batin dan cara melenyapkannya

Yang bajik dan yang tak-bajik (kusala dan akusala)

Yang dimaksud dengan pandangan benar terhadap hal yang bajik dan yang tak-bajik adalah bahwa seseorang tahu dengan jelas yang mana yang baik dan yang mana yang buruk, tahu yang manakah yang tidak boleh dilakukan dan dihindari serta yang mana yang harus dilakukan dan dilatih. Ada 10 hal tak-bajik yang harus dihindari dan tidak dilakukan dan ada 10 hal bajik yang dianjurkan oleh Buddha untuk dilatih. Dalam melatih pandangan benar seseorang perlu memahami kesepuluh hal yang bajik maupun yang tak-bajik tersebut (Sammaditthi Sutta, MN 9.3).

Memahami 10 hal yang tak-bajik antara lain: membunuh makhluk hidup (termasuk menyakiti), mengambil apa yang tidak diberikan, perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera (seksual), ucapan tidak benar (bohong), ucapan dengki, ucapan kasar, gosip, iri hati, niat jahat, pandangan salah (MN 9.4). Penyebab yang mendasarinya adalah keserakahan, kebencian, kebodohan batin (MN 9.5).

Memahami 10 hal yang bajik: menghindar dari membunuh makhluk hidup, menghindar dari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindar dari perilaku salah di dalam kesenangan indera-indera, menghindar dari ucapan tidak benar, menghindar dari ucapan dengki, menghindar dari ucapan kasar, menghindar dari gosip, tidak iri hati, tanpa niat jahat, pandangan benar (MN 9.6). Akar penyebabnya adalah tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin (MN 9.7).

Kita harus mengerti dengan jelas alasan dibalik menghindari 10 hal tak-bajik seperti yang disebutkan sebelumnya. Alasannya sangat sederhana. Hal-hal tak-bajik tersebut jika dilakukan akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Membunuh, mengambil barang yang tidak diberikan, perilaku salah dalam kesenangan seksual termasuk perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri secara tidak langsung. Ucapan bohong, ucapan dengki, ucapan kasar, gosip termasuk ucapan yang merugikan orang lain dan diri sendiri. Sedangkan iri hati, niat jahat, dan pandangan salah termasuk merugikan diri sendiri. Kesepuluh hal yang tak-bajik tersebut pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap diri sendiri, sehingga akan membuat dirinya menjadi tidak bahagia dan tenang. Maukah kita tidak bahagia?

Buddha menganjurkan melatih 10 hal yang bajik seperti yang disebutkan diatas dari sudut pandang pasif. Secara aktif, 10 hal yang bajik tersebut adalah menolong orang yang menderita, berdana, setia terhadap pasangan atau mengendalikan hasrat seksual, jujur, ucapan yang mendorong, ucapan sopan atau lembut, ucapan yang bermanfaat, kebahagiaan simpati, cinta kasih dan pandangan benar. Uraian lebih mendalam akan dijabarkan pada Jalan Mulia Berunsur Delapan bagian perbuatan benar, ucapan benar dan pikiran benar.

Empat Kebenaran Mulia

Inilah yang mendasari cara berpikir Buddha Gotama. Cara berpikir seperti ini dapat ditemukan dalam sutta-sutta di dalam kitab Tipitaka. Buddha mengajarkan kita untuk berpikir analisis seperti yang beliau lakukan, yakni :

  1. memahami suatu masalah,
  2. menyadari penyebabnya dan menemukan penyebabnya,
  3. mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari penyelesaiannya,
  4. mencari cara untuk mengatasinya dan menjalankan cara tersebut.

Langkah-langkah berpikir seperti demikian sangat logis dan hal tersebut menunjukkan kecerdasan Buddha. Salah satu ajaran Buddha yang paling penting adalah Empat Kebenaran Mulia (MN 56.18). Empat kebenaran mulia ini dijelaskan oleh Buddha dengan langkah berpikir seperti ini, yaitu:

1. Memahami apa itu dukkha

Di dalam sammaditthi sutta (MN 9.15), disebutkan bahwa dukkha adalah kelahiran; usia tua; penyakit; kematian; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan); dan keputusasaan. Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah dukkha.

Dukkha dapat diartikan sebagai penderitaan. Namun, pengertian dukkha lebih luas lagi. Dukkha juga dapat diartikan sebagai ketidakpuasan karena kemelekatan akan sesuatu yang tetap (atta), padahal segala sesuatu selalu berubah (anicca) dan tidak ada sesuatu diri yang tetap (anatta).

Jadi dukkha lebih mudah dipahami ketika kita memahami realitas dunia yang selalu tidak memuaskan dan mengikat (dukkha), berubah (anicca) dan tidak ada sesuatu yang tetap (anatta). Tiga corak umum (tilakkhana) ini adalah satu kesatuan dan saling terkait. Selalu berubah (anicca) berarti tidak ada sesuatu yang tetap (anatta) dan itu berarti penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha) bagi yang melekat pada perubahan tersebut.

Contoh dukkha sebagai penderitaan adalah usia tua, kematian, sakit seperti yang disebutkan di dalam sammaditthi sutta. Dukkha sebagai ketidakpuasan adalah proses perubahan yang ditangkap oleh indera, seperti ketika seseorang mendapatkan kekayaan dan mungkin suatu saat kekayaannya akan hilang. Perasaan tidak puas karena kehilangan itulah yang disebut dukkha.

2. Asal mula dukkha

Asal mula dukkha adalah nafsu keinginan (tanha). Nafsu keinginan di sini adalah keinginan yang disertai kemelekatan. Keinginan-keinginan berlebihan yang menumpuk inilah yang akhirnya membuat manusia menjadi melekat. Sebagai contoh seorang anak kecil yang menginginkan mainan namun tidak mendapatkannya akan menangis atau menderita karena terus ingin dan ingin di dalam pikirannya. Keinginan yang seperti inilah yang dinamakan keinginan yang berlebihan.

Seandainya anak kecil tersebut hanya ingin dan mengerti mengapa orang tuanya tidak membelikannya, keinginannya menjadi sebuah hal yang wajar dan tidak menimbulkan kemelekatan. Sama seperti Sang Buddha yang masih ingin makan, namun tidak terikat kepada makanan. Mengikat di sini mempunyai pengertian bahwa ketika tidak mendapatkannya, seseorang tersiksa secara batin atau pikiran. Buddha tidak menderita ketika tidak mendapatkan makanan namun bukan berarti Buddha tidak ingin makan. Seandainya beliau tidak ingin makan, proses makan tersebut tidak akan ada dan akan merugikan dirinya sendiri. Keinginan yang wajar adalah keinginan yang bukan untuk memuaskan diri dan melekat. Saat ini keinginan yang berlebihan manusia telah membuat keserakahan dalam diri menjadi begitu besar sehingga menutupi pandangan benar atau pengertian benar.

Akar dari keinginan berlebihan tersebut adalah ‘ketidaktahuan’ atau ‘kegelapan batin’ (avijja). Kegelapan batin (avijja) adalah ketidaktahuan atau ketidakmengertian terhadap realitas dunia ini. Seperti telah disebutkan bahwa dunia ini selalu berubah (anicca) dan tidak ada yang tetap (anatta) dan ketika kita selalu tidak puas serta melekat (dukkha) maka akan membuat diri menjadi menderita (dukkha). Ketika kita memahami hal tersebut setiap saat, tindakan kita akan menjadi hati-hati dan keinginan kita akan dapat terkendali. Seandainya anak kecil tersebut mengerti bahwa keinginannya hanya sesaat dan belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa mainan tersebut lama-kelamaan akan membuatnya bosan juga, ia akan terbebas dari keinginan yang melekat. Jadi ketika keinginan datang menghampiri, kita harus hati-hati untuk tidak  terikat kepadanya. Pikiran dan renungkan dengan bijak apakah keinginan tersebut betul-betul kita butuhkan atau hanya untuk memuaskan keserakahan kita.

Di dalam sammaditthi sutta disebutkan asal mula penderitaan adalah nafsu keinginan terhadap kesenangan indera, nafsu keinginan untuk dumadi atau kekal dan keinginan untuk tanpa dumadi atau kehancuran diri (MN 9.16). Nafsu keinginan akan kesenangan indera (bentuk, suara, bau-bauan, citarasa, sentuhan, objek-objek pikiran) paling sering muncul dan terkadang sulit untuk dikendalikan, seperti keinginan berlebihan terhadap materi (bentuk), seksual (sentuhan) dan makan (citarasa). Sedangkan nafsu keinginan untuk dumadi atau kekal adalah keinginan yang berlebihan yang menganggap bahwa sesuatunya itu kekal dan tidak berubah, seperti contoh keinginan untuk menjadi lebih berkuasa dan hidup abadi. Sebaliknya nafsu keinginan untuk tanpa dumadi atau kehancuran diri adalah nafsu keinginan seseorang yang telah menganggap bahwa hidup adalah tidak ada, tidak berguna, nihil sehingga menginginkan kematian atau kehancuran diri, seperti orang yang mau bunuh diri atau menghancurkan makhluk lain atau apa pun.

3. Berhentinya dukkha

Lebih lanjut di dalam sammaditthi sutta (MN 9.17) berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Jadi Buddha mengajarkan bahwa keinginan berlebihan yang melekat dapat dihilangkan dari pikiran kita. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.

Nibbana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan, kebencian dan kebodohan atau kegelapan batin telah lenyap. Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat kita hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau ketidakmelekatan (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta dengan kebijaksanaan sejati.

Buddha mengatakan bahwa beliau hanyalah seorang penunjuk jalan menuju kebahagiaan sejati (nibbana). Beliau mengajarkan bagaimana melatih diri untuk mengendalikan sifat-sifat negatif. Buddha tidak bisa membawa sesorang ke Nibbana karena nibbana hanyalah sebuah kondisi batin (pikiran, perasaan) yang berbeda pada setiap orang. Yang dapat membuat diri kita mengalami nibbana (kebahagiaan sejati) adalah diri sendiri dengan melatih seperti yang diajarkan beliau yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan.

4. Jalan menuju berhentinya dukkha

Buddha memberikan sebuah gambaran akan realitas kehidupan, yakni ketidakpuasan atau penderitaan, penyebabnya dan setiap orang dapat mencapai kebahagiaan sejati dengan melenyapkan penderitaan. Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut disebut sebagai jalan mulia berunsur delapan. Inilah jalan yang akan membawa kepada kebahagiaan sejati jika telah sempurna dilaksanakan dan telah menjadi bagian dari setiap tindakan yang dilakukan seseorang baik dari agama, ras, suku apa pun juga. Jadi ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai dengan jalan mulia berunsur delapan—baik ia seorang beragama atau tidak—pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.

Kedelapan bagian dari kesatuan jalan yang saling terjalin tersebut adalah pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Kita memandang kedelapannya sebagai satu kesatuan seperti seutas tali yang terjalin yang saling memengaruhi. Kita melihatnya sebagai sebuah kesatuan yang tidak terpisahkan. Ketika suatu perbuatan yang dilakukan baik, itu berarti pikirannya baik. Ketika sebuah ucapan seseorang bermanfaat, berarti pikirannya dipenuhi oleh cinta kasih. Pikirannya benar (positif) karena pandangannya benar. Sehingga kedelapannya adalah satu kesatuan dengan pusat talinya adalah pandangan benar. Jadi pandangan benar dapat diumpamakan sebagai pusat tali yang diselubungi atau terjalin oleh tujuh bagian tali lainnya yang membuatnya menjadi kuat.

Tiga corak umum

Salah satu ciri yang terdapat di dalam kehidupan ini adalah perubahan. Apapun di dunia ini selalu berubah, baik itu benda mati maupun hidup. Kehidupan manusia dimulai dari kelahiran, dewasa, tua kemudian mati. Ada yang dari miskin menjadi kaya, ada yang hidup menderita kemudian menjadi bahagia, begitu juga sebaliknya. Benda mati pun terus mengalami perubahan, semakin rusak. Manusia banyak yang memanfaatkan perubahan ini. Membuat kertas dari kayu, patung dari kaca, rumah dari batu. Ini adalah corak kehidupan yang sangat jelas yang kita rasakan. Segala sesuatu apa pun juga pasti berubah! Inilah yang mendasari dari tiga corak umum atau universal yang berlaku di alam semesta ini.

Tiga corak umum tersebut adalah

1. Ketidakkekalan atau perubahan (anicca)

Inilah salah satu ciri dunia yang paling penting. Tanpa perubahan maka dunia akan menjadi berhenti dan tidak terdapat keindahannya. Karena perubahan maka dunia telah menjadi indah dan penuh warna-warni. Kita mengetahui hal ini dengan jelas, namun terkadang kita tidak dapat menerimanya sehingga membuat diri menjadi menderita. Contohnya kehilangan orang yang dicintai, barang yang disukai rusak.

2. Tidak memuaskan (dukkha)

Inilah ciri kedua di dunia ini. Manusia mempunyai pikiran, perasaan, akal, kesadaran. Dukkha sebenarnya berhubungan dengan kesadaran manusia. Melalui panca indera dan pikiran, kita seringkali terjebak di dalam dukkha. Kita tahu ciri dunia adalah selalu berubah, namun kadangkala kita tidak bisa menerimanya karena kita terikat kepadanya. Ketika kesadaran kita, pikiran kita tidak bisa menerimanya, kita menjadi menderita (dukkha). Pada penjelasan mengenai dukkha di bagian empat kebenaran mulia, telah dikatakan bahwa dukkha juga sebagai ketidakpuasan. Hal tersebut karena pikiran, kesadaran dan perasaan manusia selalu tidak puas untuk menerima perubahan.

3. Tidak ada sesuatu diri yang tetap (anatta)

Karena segala sesuatu selalu berubah, artinya tidak ada yang tetap termasuk diri seseorang. Kita dapat membayangkan seperti air di sebuah sungai yang terus mengalir di mana kita tidak dapat mengatakan bagian mana dari air sungai tersebut sebagai awal yang mengalirkan air lainnya. Di dalam ajaran Buddha, tidak ada suatu diri (roh) yang tetap. Lebih luas kita dapat mengatakan bahwa apapun di dunia ini tidak ada yang tetap sebagaimana adanya. Hal ini tak lain karena perubahan. Perubahan berarti tidak ada yang tetap atau selalu sama di waktu yang berbeda. Semuanya selalu berubah. Jelas tidak ada yang sesuatu yang selalu tetap apalagi abadi.

Ketiga corak tersebut dapat kita rangkum menjadi sebuah satu kesatuan, yakni perubahan. Dengan memahami perubahan sebagai ciri segala fenomena di dunia ini, kita tidak akan terikat dan menjadi menderita.

Kesalingterkaitan antar segala sesuatu

Selain perubahan, hal yang tidak kalah penting dalam memahami realitas dunia ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini saling memengaruhi. Semua yang terjadi di dunia ini adalah saling berbenturan. Sebab akan menimbulkan akibat. Akibat tersebut tak lain adalah sebab dari akibat selanjutnya.

Ketika seseorang melakukan kejahatan, akibatnya ia akan menderita—secara fisik ataupun psikis.

Kita memandang dunia ini seperti jaring laba-laba yang saling terhubung. Ketika salah satu bagian dari jaring tersebut digetarkan, bagian lainnya akan menerima getarannya pula. Begitu pula perbutan manusia atau tindakan manusia. Ketika seseorang tertimpa bencana, hal tersebut adalah akibat dari berbagai hal yang saling memengaruhi. Seringkali umat Buddha banyak yang salah dalam memahami hukum karma (kamma). Kita tidak dapat mengatakan bahwa seseorang dibunuh karena kehidupan sebelumnya pernah membunuh. Hal tersebut adalah kesalahan fatal dalam memahami hukum karma.

Perlu kita ketahui bahwa di alam semesta ini ada lima hukum yang pasti berlaku (panca niyama dhamma). Lima hukum tersebut adalah

1. Hukum fisika (utu niyama)

Hukum ini mencakup semua fenomena anorganik, termasuk hukum-hukum dalam fisika dan kimia. Contohnya adalah perubahan cuaca, iklim, sifat panas.

2. Hukum biologis (bija niyama)

Hukum ini mencakup semua gejala organik seperti dalam biologi. Contohnya adalah perkembangan hewan atau tumbuhan, mutasi gen manusia, pembuahan.

3. Hukum karma (kamma niyama)

Hukum karma berarti bahwa segala tindakan yang sengaja atau tidak disengaja akan menghasilkan sesuatu yang baik atau buruk. Contohnya seseorang yang mencuri akan merasa takut tertangkap dan mungkin suatu saat ia tertangkap dan akibatnya dipenjara serta malu.

4. Hukum psikis (citta niyama)

Hukum ini mencakup semua proses kesadaran. Bagaimana kesadaran bekerja. Bagaimana pikiran memulai kerja dan memori manusia bekerja. Hukum ini mengindikasikan apa hubungan antara sesuatu yang mati dan hidup.

5. Hukum realitas (dhamm niyama)

Hukum ini mencakup semua gejala di luar ke empat hukum sebelumnya. Jadi fenomena yang diabstrakkan juga termasuk di dalam hukum ini seperti contoh konsep-konsep abstrak dalam matematika yang digunakan sebagai cara untuk menggambarkan dan menjelaskan realitas ini.

Selain hukum karma, ada 4 hukum lainnya yang berlaku di dunia ini, sehingga kita perlu berhati-hati ketika menyatakan bahwa suatu kejadian karena satu hal. Justru sebaliknya, biasanya suatu kejadian terjadi karena banyak hal yang mendukung. Seperti contoh seseorang tertimpa bencana alam. Hal tersebut tidak sepenuhnya karena akibat karma buruk orang tersebut. Ada kondisi seperti banjir—hukum fisika (utu niyama)— yang mendukung dan kondisi-kondisi lainnya dari hukum-hukum lainnya.

Yang menjadi dasar berpikir kita untuk memahaminya adalah bahwa semua hal termasuk hukum-hukum di atas saling memengaruhi. Semua saling terkait. Konsep dalam ajaran Buddha yang menunjukkan kesalingterkaitan antar segala sesuatu tersirat dalam hukum sebab-akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada). Sebab-akibat ini adalah inti untuk memahami Dhamma. Dikatakan bahwa orang yang memahami sebab-akibat yang saling bergantungan ini berarti memahami Dhamma, dan orang yang memahami Dhamma berarti memahami sebab-akibat yang saling bergantungan ini (MN 28.28).

Bunyi hukum sebab-akibat yang saling bergantungan adalah (MN 38.17) :

Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi muncullah bentukan-bentukan pemikiran

Dengan bentukan-bentukan pemikiran sebagai kondisi muncullah kesadaran

Dengan kesadaran sebagai kondisi muncullah mentalitas-materialitas

Dengan mentalitas-materialitas sebagai kondisi muncullah landasan berunsur-enam

Dengan landasan berunsur-enam sebagai kondisi muncullah kontak

Dengan kontak sebagai kondisi muncullah perasaan

Dengan perasaan sebagai kondisi muncullah nafsu-keinginan

Dengan nafsu-keinginan sebagai kondisi muncullah kemelekatan

Dengan kemelekatan sebagai kondisi muncullah dumadi (proses membentuk atau menjadi)

Dengan dumadi sebagai kondisi muncullah kelahiran

Dengan kelahiran sebagai kondisi muncullah penuaan dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, penderitaan dan keputusasaan

Demikian asal mula munculnya seluruh penderitaan

Inilah salah satu realitas alam yang harus kita pahami sebagai dasar dalam mengembangkan pandangan benar, selain perubahan.

Kotoran batin dan cara melenyapkannya

Inilah penyebab utama dari seluruh permasalahan manusia dan penderitaannya. Kotoran batin terdiri dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan-batin (moha). Ketika tiga akar kejahatan ini lenyap selamanya itulah yang dinamakan Nibbana. Ini juga—seperti yang telah disebutkan sebelumnya—merupakan akar dari 10 hal yang tak-bajik. Di dalam Anguttara Nikaya III, 33 disebutkan bahwa tiga hal inilah yang mendasari suatu tindakan dilakukan (tindakan negatif). Jika kita mau berhasil memperoleh kebahagiaan sejati (Nibbana), kita harus dapat menekan bahkan melenyapkan sampai tak bersisa tiga sifat negatif ini. Untuk menghancurkan akar tak-bajik ini, kita perlu mengenal dan memahami sifatnya. Alasan itulah yang membuat pembahasan mengenai ini menjadi penting dan menjadi poin tersendiri.

Keserakahan (lobha) yang dimaksud mencakup semua tingkatan ketertarikan, dari kemelekatan yang paling halus (kecil) sampai bentuk keserakahan atau egoisme yang sangat besar. Contoh kemelekatan halus biasanya tersembunyi dibalik hal-hal yang positif, seperti kemelekatan terhadap orang yang dicintai atau kemelekatan yang menempel pada pengejaran impian. Tapi bukan berarti tidak perlu mengembangkan cinta atau impian. Yang perlu diperhatikan adalah jangan terikat dengannya artinya ketika hilang tidak membuat penderitaan yang berkepanjangan. Di sinilah letak penting pemahaman terhadap konsep perubahan. Seringkali kita paham dan mengerti secara intelektual, namun ketika kenyataan terjadi kita menjadi menderita. Pada tahap awal pelatihan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan keserakahan yang halus. Kita dapat memulai dengan menekan keserakahan tingkat menengah seperti keinginan akan sesuatu atau barang untuk kepuasan sesaat. Setelah mendapatkan, lama-kelamaan menjadi bosan dan mencari yang baru  lagi. Kemelekatan yang lain adalah berdana dengan tujuan tertentu, sekecil apapun tujuannya perlu diwaspadai jangan sampai melekat. Keserakahan yang berat adalah kehausan akan kekuasaan, materi atau hal lainnya yang ditunjukkan dengan ambisi yang besar.

Kebencian (dosa) mencakup seluruh tingkat penolakan dari sentuhan yang paling ringan seperti bentuk humor (ada unsur kasar dalam bentuk kata-kata atau visual) sampai bentuk kebencian dalam wujud kemarahan dan dendam yang sangat dalam. Menurut Buddha, sifat kebencian ini paling mudah dihancurkan daripada keserakahan dan kebodohan-batin. Kebencian ini paling nyata dapat kita lihat dan rasakan sendiri. Semua peperangan dan masalah kejahatan disebabkan oleh kebencian. Mulai dari penolakan yang sangat halus sampai berkembang menjadi ketidaksukaan, kebencian hingga dendam yang amat besar.

Begitu pula istilah kebodohan-batin (moha) atau ketidaktahuan/kegelapan-batin (avijja) mencakup ketidaktahuan yang paling halus sampai ketidaktahuan yang sangat besar seperti kebodohan. Menurut bhikkhu Bodhi, kegelapan batin (avijja) sifatnya sama dengan akar buruk kebodohan batin (moha). Apabila Buddha menjelaskan tentang faktor-faktor mental dalam konteks psikologi, beliau menggunakan istilah kebodohan batin, sedangkan Buddha menggunakan istilah kegelapan batin (avijja) apabila beliau menjelaskan akar dari ikatan siklus kehidupan yang berulang-ulang (samsara). Inilah sifat yang paling sulit dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Inilah sifat yang mendasari berkembangnya keserakahan dan kebencian dalam diri seseorang. Ketidaktahuan yang halus contohnya adalah mengetahui bahkan memahami secara intelektual namun tidak dapat terlepas dari penderitaan akibat perubahan. Kebodohan yang lebih halus lagi (paling halus) adalah dasar dari semua ketidakbahagiaan—sebagai dasar samsara—yang dikenal sebagai kegelapan-batin (avijja) yang sebenarnya. Ketika kebodohan-batin yang amat halus tersebut telah lenyap, itulah kebijaksanaan sejati. Contoh kebodohan yang sangat berat adalah tidak mau menerima perubahan walaupun jelas-jelas dialami dalam kehidupan ini.

Pengertian terhadap tiga akar penyebab ketidakbahagiaan ini harus benar-benar dipahami sehingga dapat dikikis sampai ke akar-akarnya. Pemahaman secara intelektual menjadi kurang bermanfaat ketika suatu perubahan nyata terjadi pada diri seseorang karena hanya sebatas mengerti sesaat dan sering terlupa. Yang perlu dikembangkan adalah pemahaman yang merasuk ke dalam diri sehingga menjadi bagian integral (menyatu) dalam diri. Caranya adalah dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Ketika pemahaman (kebijaksanaan) telah terwujud melalui tindakan maka tindakannya tidak akan berbuah negatif dan akibatnya telah terhenti. Itulah pikiran yang tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin. Aspek positif dari tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian, dan tanpa-kebodohan-batin adalah kedermawanan atau memberi (dana), cinta kasih (metta) dan kebijaksanaan (panna).

Jadi satu-satunya cara untuk melenyapkan kotoran batin dan mencapai kebahagiaan sejati adalah dengan menjalani kehidupan selaras dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dimulai dari pengembangan dan penyempurnaan pandangan benar dahulu, karena pandangan benar adalah kunci yang membuka pintu ketidaktahuan dalam diri seseorang.

Mengembangkan pandangan benar

Setelah mengerti tentang pandangan benar, seseorang baru dapat mengembangkan pandangan benarnya sehingga menjadi sempurna. Ada dua kondisi bagi munculnya pandangan benar yang sempurna, yaitu ‘suara orang lain’ (parato ghosa) dan perhatian yang bijaksana (MN 43.13). Yang dimaksud ‘suara orang lain’ adalah ajaran yang bermanfaat yang berasal dari luar diri seperti diumpamakan dengan suara orang lain yang terdengar. Itulah Dhamma, sebagai ‘suara orang lain’. Dhamma yang disini artinya lebih umum yakni kebenaran akan realitas, seperti perubahan, kesalingterkaitan antar segala sesuatu, Empat Kebenaran Mulia dan jalan Mulia Berunsur Delapan. Perhatian yang bijaksana adalah pengembangan mental dan terus-menerus melatih diri sesuai Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Ada 5 faktor yang mendukung pengembangan pandangan benar (MN 43.14) yaitu:

1. Kesusilaan

Artinya melatih diri sesuai dengan aturan (sila) yang ada. Pancasila-buddhis adalah dasar moralitas dan aturan yang universal, yakni: Melatih diri menghindari menyakiti makhluk hidup, melatih diri menghindari mengambil barang yang tidak diberikan, melatih diri menghindari dari perilaku seksual yang salah, melatih diri menghindari ucapan tidak benar (bohong), melatih diri menghindari minum-minuman yang melemahkan kesadaran. Pembahasan lebih lanjut di bagian ucapan benar, perbuatan benar dan mata pencaharian benar.

2. Belajar

Inilah aspek terpenting bagi kemajuan seseorang. Belajar yang dimaksud disini lebih umum yaitu belajar tentang hakikat kehidupan dan realitas hidup ini. Caranya adalah dengan membuka diri terhadap segala hal yang ada. Atau dengan kata lain membuka pandangan. Dengan penyelidikan seperti yang dilakukan seperti Buddha, seseorang seharusnya selalu merenung. Apakah yang telah dilakukan membawa kebahagiaan atau penderitaan? Apa sebabnya? Apakah ada jalan keluarnya? Bagaimana jalannya? Inilah metode Buddha dalam menganalisa kehidupan seperti ketika menjelaskan tentang Empat Kebenaran Mulia. Perhatian benar membantu pengembangan belajar didukung oleh daya upaya benar.

3. Diskusi

Diskusi ini membantu pemahaman dan mendapatkan pandangan-pandangan baru sehingga membantu pengembangan diri menjadi lebih baik. Aspek ini mendukung faktor belajar karena berhubungan dengan orang lain. Diskusi adalah salah satu cara menekan sifat kesombongan terhadap kemampuan diri sendiri. Murid-murid Buddha mencapai penerangan sempurna setelah mendengar beliau mengajar atau berdiskusi dengan beliau. Ini adalah dari belajar dengan diskusi. Diskusi berinteraksi dengan orang lain, sedangkan belajar lebih ke pengembangan dalam diri. Daya upaya benar dikembangkan sebagai penunjang pikiran benar untuk membantu proses diskusi.

4. Ketenangan

Inilah sifat yang perlu dimiliki dan dilatih. Selalu tenang, tidak gelisah dan terburu-buru seperti Buddha Gotama. Semua permasalahan harus dihadapi dengan jernih, dipikirkan dengan seksama, dianalisis baru kemudian bertindak. Di dalam riwayat Buddha Gotama, berkali-kali beliau diuji kesabarannya. Beliau dengan tenang mempelajari permasalahannya, menganalisis baru kemudian bertindak. Tindakan beliau juga sangat tenang dan tidak dengan emosi bahkan ketika beliau difitnah. Untuk melatih ketenangan, dapat melalui pengembangan konsentrasi benar atau meditasi.

5. Kebijaksanaan

Faktor terakhir ini adalah kunci utama yang mendorong kesempurnaan pandangan benar. Inilah salah satu puncak dalam ajaran Buddha. Tiang penyangga ajaran buddha adalah kebijaksanaan dan welas-asih. Aspek kebijaksanaan ini mewakili aspek internal dalam diri seseorang sedangkan welas-asih mewakili aspek sosial yang berhubungan dengan di luar diri. Sebagai sebuah penopang ajaran Buddha, kebijaksanaan memainkan peranan yang sangat penting. Kesempurnaan kebijaksanaan berarti kesempurnaan pandangan benar, juga kesempurnaan unsur-unsur lainnya dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan. hal tersebut berarti juga kesempurnaan cinta kasih yang mempunyai inti welas-asih. Pengembangan kebijaksanaan dapat dicapai melalui pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan, khususnya daya upaya benar, perhatian benar dan konsentrasi benar.

Lima faktor praktis tersebut sangat mendukung dalam pengembangan pandangan benar. Takkala semua faktor tersebut telah disempurnakan, pandangan benar juga telah sempurna diraih. Sekali lagi yang perlu kita ingat adalah bahwa Jalan Mulia ini terdiri dari delapan unsur atau bagian yang saling mendukung dan melengkapi. Ketika salah satu unsur semakin baik disempurnakan, artinya unsur-unsur lainnya juga semakin disempurnakan. Kita harus melihat jalan ini sebagai satu kesatuan dan harus dijalankan secara bersama-sama jikalau ingin mencapai kebahagiaan sejati, Nibbana.

Daftar pustaka

Access to Insight. “Right View, samma ditthi”. Offline edition, Tuesday 2007-08-14. http://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca4/samma-ditthi/index.html

Bodhi, bhikkhu. 2006. Jalan Kebahagiaan Sejati. Jakarta: Karaniya.

Chia, Vajiro (Richard). 2004. Panduan Kursus Dasar Ajaran Buddha. Yogyakarta: Vidyasena Production

Dhammika, Ven. S. 2004. Dasar Pandangan Agama Buddha. Surabaya: Yayasan Dhammadipa Arama.

Kitab suci agama buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2005. Majjhima Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2007. Majjhima Nikaya 4. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

Kitab suci agama buddha. 2001. Petikan Anguttara Nikaya 1. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan DHAMMAGUNA.

Sangharakshita, Ven. 2004. Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jakarta: Karaniya.

Halaman Berikutnya »

The Rubric Theme. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.