Willyyandi's Blog

Desember 8, 2010

Lima Jari Tangan

Filed under: Renungan — Liu @ 7:39 pm
Tags: ,

LIMA JARI TANGAN

Lima jari tangan mengadakan pertemuan dengan tujuan memutuskan siapakah sesungguhnya di antara mereka yang paling unggul.

Pertama-tama, jempol tangan dengan bangganya berkata: “Asalkan saya mengacungkan jempol, berarti menandakan bahwa sayalah yang paling unggul!”

Jari telunjuk dengan gusarnya membantah dan berkata: “Setiap kali ingin makan, selalu menggunakan telunjuk untuk mencolek dan mencicipinya. Tanpa dapat mencicipi makanan dan makan, semuanya tidak bisa hidup. Oleh karena itu, sayalah yang paling unggul.”

Jari tengah juga tidak mau kalah dan berkata: “Diantara kita, sudah pasti sayalah yang paling tinggi dan panjang. Oleh karena itu, anda semua harus mendengarkan perintah saya!”

Jari manis dengan tenangnya berkata: “Setiap kali upacara pernikahan, cincin kawin selalu dikenakan pada saya. Demikian pula segala macam cincin perhiasan yang bagus dan mahal selalu dikenakan pada saya! Bagaimana anda dapat menyamakan diri dengan saya?”

Keempat jari masing-masing membanggakan diri, namun hanya jari kelingking yang berdiam diri. Keempat jari tersebut kemudian dengan perasaan heran berkata: “Kenapa kamu berdiam
diri?”

Jari kelingking dengan rendah hatinya berkata: “Saya adalah yang paling kecil dan paling akhir, bagaimana mungkin saya dapat menyamakan diri dengan anda sekalian?”

Pada waktu keempat jari merasa senang sekali mendengar ucapan tersebut, jari kelingking melanjutkan: “Tetapi pada waktu memberikan salam dan hormat (anjali – bersikap hormat dengan merangkapkan kedua tangan di dada) kepada Sang Buddha dan orang bijaksana lainnya; sayalah yang paling depan dan dekat dengan mereka!”

Di dalam masyarakat kita sering menjumpai orang-orang yang menganggap dirinya paling unggul. Orang yang benar-benar unggul bukanlah diukur dengan kedudukan, nama besar dan lain sebagainya. Orang yang benar-benar unggul adalah orang yang dapat menghormati orang lain dan dapat mengerti keadaan orang lain.

Bila seseorang dapat menerima dan memaklumi keadaan suatu keluarga, maka dialah yang patut disebut sebagai kepala keluarga. Demikian pula bila seseorang dapat menerima masyarakat, jagat raya, maka hatinya akan semakin lapang dan dapat bersatu dengan kebenaran Dharma, dia adalah seorang pemimpin besar.

Di dunia ini, sesuatu yang terhormat dan agung haruslah tumbuh dari ketulusan hati!

Sumber : Buku I Zhe Lu Hwa Liang Yang Ching
Oleh : Maha Bhiksu Shing Yun
Penyadur : Tan Chau Ming

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.